Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


572019

Pengunjung hari ini : 109
Total pengunjung : 126465

Hits hari ini : 229
Total Hits : 572019

Pengunjung Online: 1


Twitter
Baca posting

Periksa Jasmani dan Rohani

Oleh : mpujayaprema | 01 Juli 2017 | Dibaca : 727 Pengunjung

KENALI diri kita dengan baik, siapa sesungguhnya kita. Nasehat bijak ini sering kali kita dengar. Namun bagaimana cara kita mengenali diri kita sendiri? Rasanya kita sudah mengenalnya dengan baik. Tentu yang dimaksudkan bukan sekedar mengenali badan kasar kita, tetapi juga mengenali apa yang tidak nampak, yakni jiwa kita. Apa yang ada di dalam hati kita, batin kita, jiwa yang menyelimuti badan kita.

Sebagai manusia yang merupakan makhluk paling sempurna diciptakan oleh Tuhan, sejatinya kita tak mengenal dengan baik tentang diri kita secara utuh. Kita hanya mengenali badan kita padahal kesempurnaan kita tak hanya karena adanya badan saja. Coba simak sloka Bhagawadgita II.30 ini:  Dehi rutyam avadhyo yam, dihe saviasya bharata, tasmat sarvani bhutani, natvam ‘ socitum arnasi.  Terjemahan bebasnya: “Ia yang bersemayam di dalam setiap makluk, wahai putra keluarga Bharata, Ia kekal dan tak tersentuh oleh senjata apa pun, tak dapat dibunuh, dikau tak perlu bersedih untuk makhluk apa pun”.

Sloka ini memang tak pas betul untuk menggambarkan adanya badan dan jiwa, namun setidaknya tersirat bahwa di dalam badan itu ada “Ia” yang bisa diartikan sebagai jiwa, bisa sebagai roh suci, sebagai atman. Dan itu tak akan bisa binasa oleh senajata apa pun. Jika badan kita, sebut saja misalnya tangan atau kaki, bisa luka dan itu pasti mudah dikenali. Tetapi jiwa kita, atman yang bersemayam di dalam badan setiap makhluk, tak akan pernah luka. Ini yang harus kita kenali, kita bangun dan pelihara selama hidup ini. Wage Rudolf Supratman dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya menulis lirik dengan bagus sekali: .... bangunlah jiwanya, bangunlah badannya... Jadi yang utama harus kita jaga dan kita bangun adalah jiwa itu sendiri, barulah kemudian badannya.

Siapa sesungguhnya diri kita? Ini pertanyaan gampang dengan jawaban yang sulit. Kalau kita selalu mencari jawaban ke badan kasar maka kita terjebak hanya pada urusan duniawi saja dan di sana segala nafsu bertebaran. Perhatian kita pun hanya pada masalah badan atau jasmani dengan pemenuhan indria yang tak ada habis-habisnya. Penampilan kita harus bagus karena itu dibutuhkan pakaian yang mentereng. Pura kita harus bagus jadi dibutuhkan pura yang indah dengan bahan bangunan yang mahal, termasuk upacara ritualnya pun mahal pula. Makanan kita harus enak, fasilitas keseharian kita pun harus komplit, ada mobil dan tentu saja ada handphone yang mahal agar bisa bermain-main media sosial. Segala kebutuhan jasmani kita berikan sarana, itu kalau kita mampu melakukannya. Tetapi kenapa kita tidak bisa bahagia dan selalu merasa ada yang kurang? Karena yang kita kenali hanyalah badan saja, bukan jiwa yang menghidupi badan ini. Kita mengabaikan masalah rohani, jadi tak ada keseimbangan antara jasmani dan rohani. Betul kita bersembahyang ke pura yang megah dengan penampilan busana yang mewah, tetapi rohani kita kosong karena nafsu jasmani kita hanyalah pamer. Kita tidak tulus melakukan bhakti untuk mengisi “kehidupan rohani” karena kita sibuk mengisi “kehidupan jasmani”.

Di situlah pentingnya kita mengenali diri kita, bahwa rohani kita perlu dipelihara dengan siraman kebaikan, kejujuran, kasih sayang, ketulusan, kedamaian, cinta kasih dan banyak lagi hal-hal baik yang diajarkan oleh kitab suci. Ada orang yang kaya karena bekerja dengan keras, tetapi tak menemukan ketentraman, mungkin karena mereka melupakan sifat-sifat yang harus dipenuhi untuk menjaga rohani itu, misalnya, tak pernah membantu orang miskin yang berarti mengabaikan rasa cinta kasih pada sesama makhluk. Apalagi orang kaya karena mendapat harta dari mencuri atau korupsi, lebih tidak tentram lagi, karena hati nuraninya selalu dibayangi dengan ketakutan. Orang-orang yang hidupnya sederhana bisa lebih damai dan tentram karena rohaninya dijaga dengan ketulusan dan keiklhasan termasuk peduli pada sesama makhluk hidup. Manusia tak bisa hidup sendiri, harus saling tolong menolong.

Karena itu mari kita periksa jasmani dan rohani kita dan buatlah keseimbangan, janganlah menganggap sang badan yang paling utama. Badan kasar kita bisa luka, hancur, dan terkubur, tetapi jiwa kita yang sejati tak pernah hancur. Sang Atman tak pernah terbunuh dan ketika badan kasar yang ditempati terdahulu hancur, Sang Atman akan mencari badan kasar yang baru. Di kehidupan yang akan datang Sang Atman akan menguji kembali sejauh mana pemilik badan kasar itu melaksanakan karma wasananya. (*)


Oleh : mpujayaprema | 01 Juli 2017 | Dibaca : 727 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?