Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


571936

Pengunjung hari ini : 105
Total pengunjung : 126461

Hits hari ini : 146
Total Hits : 571936

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

Lebaran

Oleh : mpujayaprema | 01 Juli 2017 | Dibaca : 756 Pengunjung

Halal bihalal di rumah Romo Imam mulai sepi ketika saya datang. Tentu ini kesengajaan agar saya bisa ngobrol lebih banyak. “Sampeyan datang juga, saya kira tidak,” kata Romo menyambut saya.

Kami bersalaman. Juga berpelukan. “Saya sengaja datang paling akhir, kan saya tidak merayakan lebaran,” kata saya. Romo melepas pelukannya. “Sampeyan salah besar. Lebaran itu untuk seluruh warga di Nusantara sejak dulu. Kalau Idul Fitri, ya, untuk umat muslim. Ada salat Ied sebagai pertanda datangnya bulan Syawal dan berakhirnya Ramadan yang penuh berkah.”

Saya mengambil minuman sementara Romo menjelaskan arti lebaran. “Memang kamus besar bahasa Indonesia menyebut lebaran dengan arti hari raya umat Islam yang jatuh pada 1 Syawal. Tetapi istilah lebaran sudah ada sejak dulu, kata itu ada dalam bahasa Jawa Kuno yang berasal dari kata leba yang huruf  a ada titik dua di atasnya. Itu dibaca agak panjang, lebaa. Lama-lama dibaca lebaar lalu ditulis lebar, biar semakin praktis. Arti kata itu, tenang, lapang, lega, senang yang semuanya berkaitan dengan hati. Saya kira dalam bahasa Bali ada juga katalebar kan?”

“Ada Romo,” jawab saya  segera. “Lebar berarti berakhirnya ritual dengan berbagai pantangan, misalnya, ritual di sebuah pura yang berhari-hari. Lebar pertanda kita memasuki suasana baru seperti bayi yang baru lahir, kembali suci. Lebar juga dipakai pengganti kata wafat untuk pendeta Hindu di Bali, karena itulah saat keheningan sejati tiba.  Kematian bagi pendeta adalah saatnya kehidupan baru yang hening dan suci karena segala dosa duniawi sudah berakhir.”

“Kalau Nyepi bagaimana, ada kaitan dengan istilahlebar?” tanya Romo. Saya menjawab: “Di beberapa tempat istilah itu dipakai, karena Nyepi adalah hari dimulainya kehidupan baru setelah melakukan  berbagai pantangan termasuk ibadah puasa. Hari di mana semua kesalahan ditanggalkan. Nyepi jatuh tanggal satu bulan ke sepuluh tahun Saka yang disebut Kedasa.”

Romo tiba-tiba menepuk bahu saya. “Ada banyak persamaan. Idul Fitri yang lebih populer disebut lebaran juga jatuh tanggal satu bulan ke sepuluh tahun Hijrah. Ramadan itu bulan ke sembilan, Syawal bulan ke sepuluh. Semangat lebaran itu sama, yang berbeda sistem penanggalannya dan juga cara merayakannya.”

“Mirip juga Romo,” saya memotong. “Umat muslim bilang halal bihalal selama bulan Syawal, umat Hindu bilang dharma shanti selama bulan Kedasa. Saling memaafkan, merekat kembali persahabatan yang renggang,  memupuk silaturahmi. Perbedaan yang besar hanya soal waktu mudik pulang ke kampung halaman.”

Kini Romo yang memotong ucapan saya. “Saya kira itu bukan perbedaan prinsip. Karena hakekat lebaran adalah menjalin silaturahmi dengan saling memaafkan dan sudah menjadi tradisi bangsa ini, mudik lebaran tak masalah disatukan waktunya mengikuti yang mayoritas. Ini hanya soal teknis karena menyangkut cuti bersama dan kerepotan mengurusi jutaan orang hilir mudik di jalanan. Tak ada yang dirugikan. Idul Fitri betul milik umat Islam, tetapi lebaran apalagi tradisi mudik, sudah milik umat seluruh bangsa. Di negeri lain mana ada kebiasaan yang sangat luhur ini,” Romo tertawa sumringah.

Kami mengambil makanan. “Kalau soal akidah boleh kita fanatik dan bukan untuk didialogkan antar umat berbeda. Pasti tak akan nyambung. Tapi soal budaya, kebersamaannya harus diteruskan untuk kerukunan, karena saling mengisi,” kata Romo. Sambil menyantap makanan Romo meneruskan: “Ketupat dan opor  ayam ini bukan pertanda agama seseorang, ya, kan?”

(Diambil dari Koran Tempo Akhir Pekan 1 Juli 2017)


Oleh : mpujayaprema | 01 Juli 2017 | Dibaca : 756 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?