Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


358321

Pengunjung hari ini : 80
Total pengunjung : 68646

Hits hari ini : 243
Total Hits : 358321

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Lapar

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 07 Agustus 2011 | Dibaca : 1178 Pengunjung

Putu Setia

(Dimuat Koran Tempo 7 Agustus 2011)

Keluarga duafa itu duduk termangu di trotoar jalan. Ibu yang memangku bayinya. Dua anak, laki dan perempuan, juga duduk lemas, entah itu bersaudara dan entah anak sang ibu itu. Panas terik, jalanan padat, tapi anak-anak dan perempuan itu tak menadahkan tangannya ke pengemudi mobil. Mungkin mereka lelah, mungkin juga mereka lapar dan haus. Lalu saya bergumam: “Oh, sama dong. Saya juga lapar, kita sama-sama berpuasa. Selamat berpuasa anak-anak.” Gumaman saya begitu klise, kata yang bertebaran di jejaring sosial.

Tiba di rumah, ada undangan berbuka puasa dari seorang sahabat yang kini jadi pengusaha sukses. Buka puasa di restoran hotel bintang lima. Padahal, sejam lalu ada pesan singkat dari sahabat wartawan, mengharap kehadiran saya pada buka puasa di sekretariat paguyuban jurnalis independen. Saya telah menyanggupinya. Saya jadi bimbang sejenak, apakah akan membatalkan buka puasa bersama para jurnalis, yang mungkin suguhannya hanya pecel lele, sayur lodeh, kolek pisang. Lalu, datang ke para konglomerat, pasti di sana ada steak ikan tuna, kambing bakar, spaghetti, dan es krim yang warna-warni.

“Apa yang kau pikirkan saat menahan lapar di bulan Ramadhan ini?” Tiba-tiba kata itu seperti terngiang di telinga saya. Ini ucapan Kiai Hamam Djafar – sudah almarhum – pengasuh Pondok Pesantren Pabelan, Muntilan. Pertanyaan itu tidak ditujukan untuk saya, tetapi untuk beberapa santrinya. Namun, saya ada di samping beliau, waktu itu tahun 1980-an, saya lagi belajar “perbandingan agama” dan akrab dengan beliau. Saya tak ingat apa jawaban para santri, tapi yang saya ingat kata Kiai: “Jika yang dibayangkan adalah makanan enak-enak, puasa tak begitu bermakna.” Hari itu saya mendapat pelajaran bagaimana puasa bisa melatih kepekaan batin pada masalah sosial, kemiskinan, ketimpangan, ketidak-adilan dan sebagainya.

Ingat itu, saya jadi ingat keluarga pengemis tadi, dan saya merasa berdosa telah bergumam yang salah. Kita sama-sama menahan lapar, tetapi saya pasti akan makan setelah magrib nanti, bahkan bisa memilih pecel lele atau kambing bakar. Tetapi, apakah dua anak itu, plus ibunya yang menggendong bayi, akan bisa makan, meski pun tak perlu pecel lele apalagi kambing bakar? Terus-terang saya tak yakin.

Berjuta-juta orang lapar karena kemiskinan, bukan puasa Ramadhan atau merayakan Nyepi. Dan kita lalai, sebagian besar acuh, karena – mengutip Bimbo – kita punya mata tetapi tidak melihat (kesengsaraan itu), kita punya telinga tetapi tidak mendengar (kepedihan itu). Yang kita lihat saat bulan Ramadhan adalah “Lebaran Sale” dan sejenisnya, dan saat umat Hindu berpuasa yang dilihat adalah “Bazar Nyepi”. Di situ berbagai makanan lezat dan barang konsumtif dijajakan. Puasa tak lagi bermakna, karena batin kita tak diolah untuk peka pada nasib sesama, begitu kata bijak Kiai Hamam.

Tapi apa bentuk kepedulian kita? Mengumpulkan kaum papa, lalu melemparkan makanan ke arah mereka, dan kita terhibur melihat kaum papa saling berebut dan saling injak, bak memberi makan pada sekumpulan ayam? Atau kita mendatangi fakir miskin, memberikan kardus mie instan, sambil mengajak wartawan televisi agar disiarkan secara luas bahwa kita sudah menjadi dermawan agung? Puasa melatih kita untuk jujur, ihklas, bukan dengan pamrih, lagi kata bijak Kiai Hamam.

Saya jadi terganggu dengan  buka puasa di hotel mewah. Syukur banyak tempat berbuka yang peduli pada kaum miskin seperti masjid, wihara, alua kampus dan tempat lainnya lagi. Lapar bersama-sama, mari upayakan kenyang yang tidak berbeda.


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 07 Agustus 2011 | Dibaca : 1178 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?