Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


419036

Pengunjung hari ini : 79
Total pengunjung : 84646

Hits hari ini : 228
Total Hits : 419036

Pengunjung Online: 4


Twitter
Baca posting

Tri Mala dan Tri Mala Paksa

Oleh : mpujayaprema | 08 Juli 2017 | Dibaca : 1116 Pengunjung

AJARAN Tri Kaya Parisudha sangat relevan ketika kemerosotan moral dan prilaku melanda dunia. Sesungguhnya ajaran itu sudah merupakan rujukan keseharian umat Hindu, bagaimana berpikir yang baik, berkata yang baik dan berbuat yang baik. Bukankah setiap hari kita melantunkan Puja Tri Sandhya di mana ajaran itu menjadi bait penutup dari puja itu.

Yang menjadi masalah adalah bagaimana agar Tri Kaya Parisudha tetap menjadi pedoman dalam kehidupan ini. Bagaimana membentengi hal itu agar tidak bisa tembus oleh nafsu-nafsu yang kotor. Kalau berpikir saja sudah buruk, tentu ucapan akan menjadi tambah buruk karena semuanya itu berangkat dari pikiran. Nah, ditambah lagi perbuatan yang buruk maka komplitlah sudah keburukan yang ada. Ini harus dicegah. Ajaran Hindu memperkenalkan cara pencegahan itu. Ada banyak cara untuk melawan apa yang disebut “musuh-musuh dalam diri manusia”. Salah satu adalah apa yang disebut Tri Mala dan runtutannya yang disebut Tri Mala Paksa.

Tri Mala berarti tiga kekotoran. Apa yang kotor? Jiwa manusia yang kotor diakibatkan pengaruh buruk dari nafsu yang tak terkendali. Tri Mala terdiri dari Mithia Hrdaya, Mithia Wacana dan Mithia Laksana. Sesungguhnya tiga unsur ini adalah kebalikan dari Tri Kaya Parisudha atau lebih tepatnya sesuatu yang berseberangan dengan Tri Kaya Parisudha. Mithia Hrdaya berarti selalu punya pikiran yang buruk. Bukan saja buruk dalam pengertian berpikir untuk menghancurkan hidup seseorang atau merusak tatanan masyarakat, tetapi juga berburuk sangka terhadap orang lain. Inilah yang berkembang saat ini, ada orang yang tidak senang melihat bangsa ini hidup rukun lalu menyebarkan provokasi untuk merusak kerukunan bangsa. Ada orang yang tak senang melihat bangsa ini damai lalu berpikir untuk menghancurkannya. Juga selalu buruk sangka terhadap orang lain. Pemimpin yang gesit turun ke pelosok berdialog dengan rakyat disebut pencitraan.  Lembaga yang bertugas memberantas korupsi seperti KPK diupayakan untuk dilemahkan karena mereka itu berburuk sangkah selalu. Mari kita tak terpengaruh oleh sifat-sifat seperti ini,

Mithia Wacana adalah berkata-kata sombong, bersikap angkuh, suka ingkar janji, suka berbohong. Banyak kita temukan orang-orang seperti ini sekarang, mereka tidak malu untuk memamerkan sifat buruknya itu. Bahkan itu terjadi di kalangan elit, pemimpin partai, politisi, bahkan mereka yang disebut sebagai tokoh agama. Sungguh sangat memprihatinkan keadaan ini.

Mithia Laksana adalah berbuat yang tidak sopan, bersikap kurang ajar, penuh dengki dan kebencian. Ketidak-sopaan dan kebencian itu bahkan dipamerkannya di media sosial yang merupakan ranah publik. Tidak ada rasa malu sedikit pun memamerkan sifat buruk itu padahal apa yang merela lakukan sesungguhnya menelanjangi dirinya sendiri. Cara terbaik untuk menangkal orang seperti ini adalah membatasi pertemanan dengan orang itu. Kalau dalam kaitan dengan media sosial, lebih baik putuskan pertemanan. Tidak ada gunanya berteman dengan orang yang tidak sopan dan selalu mengumbar kebencian. Memang kita bisa menghindar dengan tidak membaca apa yang mereka tulis, tetapi lama-lama akan menjadi sampah dan setiap sampah pastilah buruk. Jadi lebih aman kalau kita menutup akses pertemanan.                                                          

Lalu apa itu Tri Mala Paksa? Ini adalah tiga musuh dalam diri setiap manusia yang menghambat kita dalam melaksanakan dengan teguh Tri Kaya Parisudha. Tri Mala Paksa terdiri dari Kasmala, Mada dan Moha.

Kasmala adalah segala bentuk perbuatan yang hina dan kotor. Bukan saja menghina diri sendiri tetapi juga menghina lingkungan bahkan menghina sesuatu yang lebih besar, misalnya, menghina agama. Apa yang dilakukan para teroris yang terus diburu oleh polisi adalah orang yang sedang dirasuki kasmala. Mereka tak segan-segan berbuat jahat seperti melakukan bom bunuh diri, membacok polisi yang sedang melakukan persembahyangan, sungguh menghina agama meski pun mereka melaksanakan niat kotor itu dengan dalih membela agama. Tak ada agama mengajarkan keburukan seperti itu, justru sebaliknya perbuatan itu menghina agama.

Mada adalah segala bentuk perkataan atau pembicaraan yang penuh dusta dan itu adalah kekotoran dari mulut. Mulutmu adalah harimaumu, demikian kata pepatah. Betapa banyaknya orang berdusta saat ini. Mengaku hidup jujur, bersih, banyak berbuat amal, tetapi semuanya menjadi pengakuan dusta setelah ketahuan korupsi dan ditangkap KPK. Mulut yang kotor ini akhirnya merusak nama baik keluarga, juga nama baik lingkungan dan komunitas terdekat.

Moha adalah pikiran yang kotor karena sudah memperlihatkan hal-hal yang angkuh dan curang.  Gejala seperti ini sudah ada banyak di sekitar kita. Inilah tiga jenis musuh yang menggerogoti pikiran, perkataan dan perbuatan manusia. Kalau kita lengah, lemah dan tidak waspada maka kita bisa terjebak pada pusaran kekotoran itu.

Kitab Sarasamuccaya sloka 160 menyebutkan: “Manusia menjadi utama karena kesusilaannya dan sesungguhnya kelahiran manusia bertujuan untuk melaksanakan kesusilaan itu; kekuasaan dan kebijaksanaan menjadi tanpa guna jika tidak dijabarkan dengan tindakan-tindakan yang susila”. Mari kita berlaku susila dan jauhkan diri dari Tri Mala dan Tri Mala Paksa. (*)


Oleh : mpujayaprema | 08 Juli 2017 | Dibaca : 1116 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?