Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


419039

Pengunjung hari ini : 79
Total pengunjung : 84646

Hits hari ini : 231
Total Hits : 419039

Pengunjung Online: 4


Twitter
Baca posting

Hormat Kepada Guru

Oleh : mpujayaprema | 15 Juli 2017 | Dibaca : 1051 Pengunjung

GURU mulai mendapat perhatian dari pemerintah. Pendidikannya ditingkatkan baik lewat jenjang formal maupun program sertifikasi. Gaji meningkat seirama dengan jam mengajar yang sudah dipatok setiap minggu. Tak bisa lagi menjadi guru seenaknya seperti absen mengajar.

Guru harus menjadi panutan karena guru menularkan teladan yang baik kepada muridnya. Juga harus menjadi teladan di lingkungan masyarakat tempat dia mengajar. Guru formal seperti itu dalam ajaran Hindu disebut Guru Pengajian. Ini guru yang perannya paling menonjol dalam masalah duniawi karena waktunya paling banyak untuk mengajar. Karena itu ada ide dari pemerintah untuk membuat sekolah sehari atau full day school, meski banyak ditentang karena sarana belum memadai.

Dengan posisi guru seperti itu kita wajib memberi hormat kepada guru. Guru di sekolah ini juga disebut Guru Parampara yang membentuk watak seseorang untuk memiliki kecerdasan. Di luar urusan sekolah yang formal, Guru Parampara itu juga wajib dihormati. Misalnya guru dalam sebuah pasraman atau guru yang berfungsi sebagai Guru Nabe yang mendidik murid atau sisya untuk meningkatkan kerohaniannya. Dalam hal ini ada istilah “aguron-guron” di mana para sisya dengan tekun menerima pelajaran dari Guru Nabe.

Ada pula yang disebut Guru Wisesa. Guru ini adalah pemerintah. Kita tak bisa hidup sendiri tanpa ada yang memerintah dan mengayomi di dalam masyarakat. Bayangkanlah dalam kehidupan di masyarakat kita tidak punya pemimpin. Pemerintah itu mulai dari yang paling rendah, misalnya kepala desa, sampai yang paling tinggi yaitu presiden.

Belakangan ini banyak orang yang tidak lagi menghormati Guru Wisesa atau setidaknya penghormatan itu mulai luntur. Apa pun yang dibuat oleh pemerintah pasti dicela. Apa pun yang dilakukan oleh Bupati, Gubernur, Presiden pasti dinyinyiri. Sikap seperti ini tidak baik. Memang para pejabat itu adalah manusia biasa saja, bukan dewa. Mereka punya kelemahan, tetapi tak berarti kelemahan itu yang terus kita sebut. Juga di antara mereka ada saja yang berbuat tidak baik, misalnya, melakukan korupsi yang membuat masyarakat sengsara karena uang negara mereka ambil seenaknya. Tetapi tak harus seluruhnya dikatakan buruk. Kita harus senantiasa menghormati Guru Wisesa karena dari sana kita banyak belajar dan Guru Wisesa wajib memenuhi kebutuhan masyarakatnya secara material dan spiritual.

Dua guru yang disebut tadi adalah bagian dari empat guru dalam ajaran Hindu yang disebut dengan istilah Catur Guru. Dua lainnya adalah Guru Rupaka dan Guru Swadyaya. Guru Rupaka itu adalah orang tua kita sendiri, yang melahirkan dan membesarkan kita. Kedua orang tua ini (ayah dan ibu) memberikan pendidikan awal sejak kita dilahirkan. Mereka mengajarkan kita berjalan, berbicara, mengenal lingkungan dan memberikan nilai-nilai kehidupan sejak dari mana kanak-kanak. Kalau Guru Rupaka salah dalam mendidik anak sejak kecil maka resikonya akan diterima anak itu setelah dewasa. Kalau teladan yang diberikan orang tua buruk, maka buruklah anak itu. Kalau orang tuanya perokok anak itu pasti juga juga perokok. Kalau orang tuanya rajin sembahyang dan melantunkan sloka-sloka suci, si anak pasti akan mengikutinya. Di era sekarang ini anak usia lima tahun sudah bisa melafalkan Gayatri Mantram dengan benar karena orang tuanya rajin melantunkan mantram itu.

Guru Rupaka ini tidak menerima gaji, sebagaimana Guru Pengajian dan Guru Wisesa. Mereka adalah guru seumur hidup buat seseorang dari kanak-kanak sampai dewasa. Karena jasa yang luar biasa itu ada ungkapan di masyarakat bahwa letaknya sorga adalah di telapak kaki ibu. Ini adalah ungkapan simbolis untuk menggambarkan betapa kita harus menghormati Guru Rupaka sedemikian tinggi. Hanya dengan “melihat telapak kaki ibu” kita diajarkan untuk sungkem atau sujud sebagai penghormatan dan terimakasih kepada orang yang melahirkan kita. Sungguh berdosa besar jika kita menelantarkan ayah dan ibu dalam kehidupan ini, apalagi ketika beliau berusia lanjut. Itu sebabnya dalam masyarakat Hindu keberadaan Panti Jompo kurang diminati karena mengirim orang tua ke panti itu seolah-olah kita membiarkan Guru Rupaka diurus orang lain.

Adapun Guru Swadyaya ini adalah Guru Sejati, Guru Maha Agung. Tak lain adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maha Guru alam semesta atau dalam ajaran Hindu disebut Sang Hyang Paramesti Guru. Kita bukan saja harus hormat kepada Guru Swadyaya tetapi wajib untuk memujaNya setiap saat. (*)


Oleh : mpujayaprema | 15 Juli 2017 | Dibaca : 1051 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?