Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


571977

Pengunjung hari ini : 108
Total pengunjung : 126464

Hits hari ini : 187
Total Hits : 571977

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

Aspirasi Jangan Dengan Kemarahan

Oleh : mpujayaprema | 22 Juli 2017 | Dibaca : 1102 Pengunjung

PEMERINTAH sedang membidik ormas radikal, apalagi selain radikal jelas-jelas anti Pancasila. Ini mengancam keutuhan NKRI. Sudah ada yang dicabut badan hukumnya alias dibubarkan, yakni ormas HTI. Mungkin menyusul yang lainnya.

Upaya pemerintah ini sejalan dengan gerakan untuk membuat masyarakat kembali santun dalam menyampaikan aspirasi. Aspirasi itu bisa ada di media sosial, bisa pula di jalanan berupa aksi unjuk rasa. Untuk media sosial langkah yang dilakukan sudah banyak seperti menertibkan akun-akun yang menebar kebencian bahkan sudah pula memblokir beberapa konten dari aplikasi Telegram.

Dalam ajaran Hindu memang untuk menyampaikan aspirasi harus dilakukan dengan sopan dan tidak dengan kemarahan. Sloka Sarasamuccaya 108 berbunyi: Devatasu vicesena raajasu brahmanesu ca, atyaantavya bhavet krodha baalavrdddhaatyresu ca. Jika sloka ini diterjemahkan dengan disertai penafsiran, maksudnya sebagai berikut. “Hendaknya nafsu marah itu benar-benar dikendalikan. Apa lagi menyampaikan aspirasi terutama kepada para Dewata, kepada Raja, kepada Pandita, kepada anak-anak, terhadap wanita yang  sedang mengandung, terlebih pada yang lanjut usia, pada orang yang sedang sakit. Kepada semua orang  itu janganlah  menyampaikan aspirasi dengan disertai kemarahan.”

Dalam kenyataan kita sering kali melihat bagaimana aksi demo yang dipenuhi ulah kemarahan bahkan sampai disertai tindakan kekerasan. Apalagi kata-kata yang diumbar di media sosial, bisa caci maki secara vulgar. Umumnya mereka yang menyampaikan aspirasi dengan penuh kemarahan karena merasa tidak diperhatikan.

Dalam beberapa susastra Hindu disebutkan, amatlah bahaya dan kualat jika menyampaikan ucapan atau sesuatu yang sifatnya aspirasi disertai dengan kemarahan kepada yang berikut ini. Pertama kepada para Dewata. Ista Dewata ini adalah manifestasi sinar suci Tuhan Yang Maha Esa. Para Dewata itu adalah wujud Prema Swarupa dan Ananda Swarupa. Artinya Dewata itu wujud kasih Tuhan yang selalu  melimpahkan kebahagiaan untuk umat ciptaanNya. Kasih dan kebahagiaan dari Tuhan  hanya  dapat dicapai dengan sraddha  dan bhakti dengan dasar yadnya. Bisakah kita melakukan yadnya tanpa disertai dengan kemarahan? Arti luasnya adalah janganlah kita masih punya rasa marah ketika melakukan yadnya, jangan bertengkar di pura dan seterusnya. Meski rasa marah itu bukan ditujukan ke Ista Dewata, sesuatu yang mustahil, tetapi karena lingkupnya dalam suasana yadnya tetap harus dihindari.

Yang kedua janganlah menyampaikan aspirasi dengan kemarahan kepada Raja. Yang dimaksudkan secara luas adalah pemimpin publik, apakah itu bupati, gubernur sampai presiden. Dalam konsep ajaran Hindu pemimpin itu bertugas untuk membahagiakan rakyat. Raja (aslinya ditulis Raaja)  dari kata  Rajintah artinya orang yang telah terbukti membahagiakan masyarakat. Berlakukan sopan kepada Raja, sampaikan aspirasi dengan cara yang tenang damai jangan dengan marah dan emosional.

Yang ketiga janganlah marah-marah kepada para Brahmana. Yang dimaksudkan adalah brahmana pandita. Orang yang marah kepada brahmana pandita tak akan bisa meraih vibrasi kesucian dari pandita itu, justru akan mendapatkan celaka karena vibrasi buruk yang diterima. Panditanya sendiri tidak apa-apa kalau dimarahi, bahkan dicaci atau difitnah. Tetapi yang memarahi akan rugi karena tidak bisa menerima proses patirthan dan panadahan upadesa dari Sang Pandita. Sarasamuscaya sloka 40 menyebutkan fungsi pandita  sebagai Sang Patirthan artinya sebagai orang yang mampu memancarkan  kesucian  pada  umat. Pandita juga sebagai panadahan upadesa artinya menyebarkan pendidikan spiritual pada umatnya.

Yang keempat jangan suka memarahi anak-anak (disebut dengan istilah balaka)  karena mereka belum mampu secara rasional menerima kemarahan kita. Bahkan kemarahan kita itu bisa terpendam dalam ingatan anak sehingga terbawa sampai anak itu besar dan ini mempengaruhi mental sang anak.

Yang kelima jangan memarahi kaum lanjut usia atau disebut vrddha (dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai wreda). Karena usia mereka sudah lanjut dengan energi yang menurun kemarahan itu berbahaya untuk mereka. Lembah lembutlah dalam menyampaikan apa pun kepada kaum wreda ini.

Mari kita berlaku lebih sopan dalam memberikan aspirasi apa pun bentuknya, karena ajaran agama Hindu dalam hal menjaga diri dari nafsu marah sejalan dengan kebijakan pemerintah saat ini. (*)


Oleh : mpujayaprema | 22 Juli 2017 | Dibaca : 1102 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?