Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


571996

Pengunjung hari ini : 109
Total pengunjung : 126465

Hits hari ini : 206
Total Hits : 571996

Pengunjung Online: 4


Twitter
Baca posting

Tirthayatra tak Cuma Memuja Tuhan

Oleh : mpujayaprema | 29 Juli 2017 | Dibaca : 736 Pengunjung

ADA kabar gembira saat ini. Sudah dibuka penerbangan langsung Denpasar – India lewat Kuala Lumpur yang dilakukan oleh penerbangan nasional Batik Air. Walau tujuannya adalah kota Chennal di India Selatan penerbangan ini disambut banyak orang yang gemar melakukan tirthayatra ke India. Tentu juga disambut oleh turis asal India yang akan bepergian ke Bali. Selama ini tidak ada penerbangan langsung dan harus menunggu berjam-jam di Kuala Lumpur untuk ganti pesawat, route baru ini tentu tidak meletihkan.

Lantas muncul pertanyaan, apakah sedemikian pentingnya melakukan tirthayatra ke India sehingga berbondong-bondong orang Bali ke negeri itu? Penting atau tidak tentu tergantung pribadi orang masing-masing. Dasar utamanya adalah punya dana untuk bepergian itu yang memang tidak mengganggu pengeluaran dana lainnya yang lebih pokok. Kemudian memang ada keinginan melakukan perjalanan jauh ke negeri seberang. Kalau dana ada tetapi tidak ingin, tentu tak akan terlaksana. Ada pun keinginan itu bisa karena berbagai faktor. Ada yang cuma ingin tahu saja, ada yang ingin ke tempat suci di pusatnya kelahiran agama Hindu untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan mencari vibrasi yang dianggap lebih pas di sana.

Tirthayatra adalah sebuah perjalanan mencari atau mendapatkan “tirtha”, sesuatu yang sering disebut sebagai sumber kehidupan. Tentu tempatnya adalah khusus, tempat yang disucikan. Bukan di museum, di mall, di lapangan sepakbola, misalnya. Tirthayatra itu dilakukan di pura, kuil, candi, sungai suci, situs keagamaan dan sebagainya. Nama lain yang sering digunakan selain tirthayatra adalah dharmayatra, mencari atau mendapatkan “dharma”. Dharmayatra tentu lebih luas karena “dharma” ada di banyak tempat lain, seperti ashram para suci, tempat-tempat pertemuan yang rutin menyelenggarakan ritual keagamaan dan sebagainya.

Apakah tirthayatra dan dharmayatra itu juga tempat untuk mendekatkan diri dengan Tuhan? Tentu saja benar, karena dalam kunjungan itu sudah pasti berbagai doa dilantunkan. Tetapi jika disebutkan bahwa hanya di tempat tirthayatra dan dharmayatra itu saja kita lebih dekat dengan Tuhan, ini yang keliru. Kita bisa lebih dekat memuja Tuhan di mana saja kita berada. Tidak usah bepergian jauh-jauh, di rumah sendiri pun kita bisa memuja Tuhan dengan lebih dekat. Banyak orang melakukan tirthayatra dengan mandi di Sungai Gangga dan bagi mereka itu sesuatu yang sangat berkesan. Namun, para sulinggih di Bali, setiap hari memuja “tirtha gangga” pada saat melakukan ritual surya sewana. Bukan saja air suci Gangga yang dipuja, juga air suci Sindhu, Yamuna, Saraswathi dan lainnya.

Mendekatkan diri dengan Tuhan atau memuja Tuhan bisa setiap waktu, di mana pun kita berada. Tidak perlu berkecil hati memuja Tuhan di tempat di mana kita biasa tinggal, termasuk di dalam rumah sendiri. Tuhan di dalam Kitab Weda disebut Brahman, karena kata Tuhan itu dalam bahasa Indonesia. Baca sloka ini: Ekam evadvityam Brahman, arti bebasnya: Hanya ada satu Tuhan, yakni Brahman. Ada pun kata Hyang Widhi yang digunakan untuk penyebutan Tuhan di Bali berasal dari kata Vidhi. Vidhi artinya pencipta. Hyang Widhi berarti Dia Sang Pencipta.

Tuhan tidak berwujud dan memenuhi seluruh alam semesta. Tuhan ada di mana-mana, tak ada satu tempat pun di bawah kolong langit ini yang tidak dihuni oleh Tuhan. Mantram Gayatri yang merupakan “ibu segala mantram” (mantram ini dijadikan awal dari Puja Trisandhya) diawali dengan Om bhur bhwah swah. Artinya: Tuhan yang memenuhi alam bawah atau jagat raya ini (bhur), yang memenuhi alam tengah (bhwah) , dan memenuhi alam atas atau angkasa (swah).

Kalau kita tahu Tuhan ada di mana-manadan ada di setiap saat, lalu kita bisa memuja Tuhan kapan saja, tak peduli apakah hari itu rerahinan atau tidak, purnama atau tilem, Senin atau Kamis, tentunya kita bisa memuja Tuhan di sembarang waktu dan tempat. Bisa memuja Tuhan di kamar tidur, di ruang tamu, di kantor. Kita bisa melakukan Trisandya di manapun kita mau, sepanjang tempat itu memberikan pada kita suatu keheningan untuk mendapatkan konsentrasi pikiran.

Jadi tak perlu harus melakukan tirthayatra dulu jika ingin memuja Hyang Widhi, karena melakukan tirthayatra itu bukan cuma memuja Tuhan tetapi mengetahui lebih banyak sejarah budaya agama. (*)


Oleh : mpujayaprema | 29 Juli 2017 | Dibaca : 736 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?