Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


419034

Pengunjung hari ini : 79
Total pengunjung : 84646

Hits hari ini : 226
Total Hits : 419034

Pengunjung Online: 4


Twitter
Baca posting

Kembalikan Fungsi Trotoar

Oleh : mpujayaprema | 17 Juli 2017 | Dibaca : 824 Pengunjung

KOTA Denpasar terus berbenah membangun dan memperbaiki trotoar. Memang pembangunan trotoar ini tak hanya di Denpasar, juga di kota-kota lain. Bahkan bukan cuma di perkotaan saja, di desa pun banyak dibangun trotoar. Termasuk trotoar yang sedang dikerjakan saat ini adalah di Jalan Pulau Belitung Denpasar, di depan rumah anak saya.

Bisakah saya merasa gembira kalau trotoar itu sudah rampung, lalu saya menikmati olahraga jalan kaki pagi hari, tanpa merasa takut diseruduk sepeda motor? Belum tentu. Bagaimana kalau trotoar yang sudah bagus itu ternyata dijadikan tempat mangkal pedagang kaki lima atau tempat parkir sepeda motor oleh mereka yang berbelanja di warung, atau malah diserobot sepeda motor ketika jalanan macet?

Semua itu bisa terjadi. Banyak orang belum paham bahkan sama sekali belum mengerti apa fungsi trotoar. Besar kemungkinan pula tidak tahu dasar hukum dan sanksi pidana kalau kita tidak memperlakukan trotoar sebagaimana mestinya. Ditambah dengan pengawasan yang kurang dari pemerintah maka komplitlah sudah kesalah-pahaman kenapa harus ada trotoar. Kesannya jadi remeh, pemerintah hanya bisa membangun trotoar tetapi tidak bisa menjaga untuk apa trotoar itu dibuat. Apalagi dalam kasus pembangunan trotoar di Denpasar, sepertinya trotoar itu dibangun hanya untuk pelengkap pembangunan saluran air (got) di bawah trotoar. Padahal trotoar tak harus di atas got dan tak harus sebagai pelengkap dari saluran air. Bisa berdiri sendiri.

Menurut keputusan Direktur Jenderal Bina Marga No.76/KPTS/Db/1999 tanggal 20 Desember 1999, yang dimaksud dengan trotoar adalah bagian dari jalan raya yang khusus disediakan untuk pejalan kaki, yang lebih tinggi dari permukaan jalan, dan pada umumnya sejajar dengan jalur lalu lintas kendaraan.Itulah ketentuan formalnya secara hukum.

Asumsinya adalah para pejalan kaki berada pada posisi yang lemah jika mereka bercampur dengan kendaraan bermotor, maka pejalan kaki harus diselamatkan dari arus lalu lintas. Salah satu tujuan utama dari manajemen lalu lintas adalah untuk memisahkan pejalan kaki dari arus kendaraan bermotor, tanpa menimbulkan gangguan-gangguan yang besar terhadap aksesibilitas dengan pembangunan trotoar. Jadi trotoar itu adalah hak pejalan kaki.

Di mana trotoar wajib dibangun? Menurut ketentuan  itu, trotoar wajib ada di daerah yang tingkat kepadatan penduduknya tinggi, di jalan yang memiliki rute angkutan umum, di depan pasar yang berada di pinggir jalan, di depan  stasiun bis, sekolahrumah sakit, lapangan olah raga dan tempat ibadah. Lebar trotoar di lingkungan perumahan minimum 1,5 meter dan di tempat lain minimum 2 meter.

Pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 3 Tahun 2014, ditegaskan lagi bahwa definisi trotoar adalah jalur pejalan kaki yang sejajar dengan sumbu jalan dan lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan untuk menjamin keselamatan pejalan kaki yang bersangkutan.

Pejalan kaki pun mendapat istilah keren, yaitu "pedestrian". Dan pada perkembangan selanjutnya "pedestrian" bukan sebatas pada orang normal, melainkan juga para penyandang keterbatasan fisik atau disabilitas. Sebagian trotoar di kota-kota besar seperti Jakarta sudah memberikan jalur khusus bagi kalangan disabilitas, sementara di Bali nampaknya belum ada.

Apakah boleh seenaknya orang yang bukan pejalan kaki menggunakan trotoar? Tidak boleh, bahkan ada sanksi hukumnya. Pasal 63 UU No.38 Tahun 2004 menyebutkan, siapa pun yang mengganggu fungsi jalan dan jalur pedestrian bisa dikenai sanksi hukum, termasuk pedagang kaki lima, yakni dihukum maksimal 18 bulan penjara atau denda maksimal Rp 1,5 miliar. Sedangkan jika cuma mengganggu jalur pejalan kaki saja atau trotoar dikenakan pasal  275 UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pelaku bisa dihukum maksimal satu bulan penjara atau denda Rp 250.000.

Jadi amat jelas keberadaan trotoar yang nampak sepele itu diatur dalam undang-undang. Kenyataannya trotoar banyak diambil alih oleh pedagang kaki lima, untuk parkir sepeda motor, bahkan digunakan untuk emperan menjual barang dagangan bagi pemilik toko pinggir jalan. Pengguna tak berhak ini merasa aman-aman saja, bahkan kalau digunakan untuk parkir ada pula petugas parkir yang memungut sewa parkir. Pedagang pun mendapatkan restribusi. Ini hampir terjadi di seluruh kota di Indonesia.

Dengan kondisi seperti ini justru pejalan kaki yang mengalah. Fasilitasnya diserobot pengguna lain. Maka harus ada pengawasan yang ketat bagaimana mengembalikan fungsi trotoar. Masyarakat harus disadarkan bahwa trotoar itu khusus untuk pejalan kaki. Pemerintah daerah harus menempatkan aparat yang terus memantau dan mengawasi fungsi trotoar sejalan dengan kewajiban mengelola tata ruang-wilayahnya sesuai aturan yang berlaku. Bisa melibatkan aparat terbawah yang ada di desa.

Trotoar itu harus ada di setiap jalan dengan pertimbangan kepadatan lalu lintas dan penduduk. Namun siapa yang membangun sudah diatur dalam pasal 45 ayat 2 UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Rinciannya jika itu di jalan negara yang membangun trotoar adalah pemerintah pusat. Demikian seterusnya, di jalan provinsi dibangun pemda provinsi, di jalan kabupaten dan desa dibangun pemda kabupaten, di jalan kota dibangun pemerintah kota sedangkan di jalan tol dibangun oleh badan usaha pengelola jalan tol itu.

Betapa bahagianya bagi pejalan kaki kalau trotoar itu bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Ini sekaligus bisa membuat orang betah berjalan kaki dan tentu akan mengurangi sedikit keruwetan di jalan. Karena berdasarkan penelitian, orang Indonesia adalah orang yang paling malas berjalan kaki. Penyebabnya karena fasilitas untuk berjalan kaki itu tidak nyaman, yakni trotoar. Lihat saja di Denpasar, untuk membeli sesuatu yang hanya berjarak 500 meter saja harus naik motor karena berjalan kaki takut diserempet motor. Betapa nikmatnya olahraga jalan kaki di pagi hari kalau trotoar yang ada di Denpasar ini bisa berfungsi dengan baik. (*)


Oleh : mpujayaprema | 17 Juli 2017 | Dibaca : 824 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?