Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


498928

Pengunjung hari ini : 92
Total pengunjung : 107192

Hits hari ini : 161
Total Hits : 498928

Pengunjung Online: 5


Twitter
Baca posting

Bahasa Bali di Media Sosial

Oleh : mpujayaprema | 24 Juli 2017 | Dibaca : 528 Pengunjung

BAGAIMANAKAH sebaiknya menggunakan bahasa Bali di media sosial? Memang tidak ada aturannya dan juga tak ada yang mengatur. Namun karena tidak ada rambu untuk itu baru-baru ini terjadi sedikit heboh. Ada aplikasi yang bernama testony.com yang menggunakan bahasa Bali. Situs aplikasi ini memang diniatkan untuk hiburan dan melakukan testing main-main yang jawabannya pun main-main pula.

Sebagai sebuah kreatifitas tentu aplikasi ini menarik. Tetapi karena bahasa Bali yang dipakainya bahasa pergaulan yang sangat lokal, menjadi masalah besar karena media sosial bukan urusan lokal. Di sinilah kesalahan besar yang dilakukan oleh pencetus dan pengelola testony.com, mereka nampaknya ingin akrab dengan bahasa komunitas lokal sementara kita tahu bahwa media sosial yang bernama internet masalah global. Media sosial dibaca oleh orang-orang dari berbagai etnis, suku, bahkan logat jika itu dalam satu rumpun bahasa. Dengan kesalahan ini maka jawaban dari testony.com menjadi bahasa yang jorok dan kadang porno. Menjadi masuk akal kalau kemudian situs ini disomasi oleh Aliansi Peduli Bahasa Bali lewat FaceBook.

Saya sendiri juga mendapat pertanyaan terutama dari orang-orang Bali yang ada di luar daerah, kenapa bahasa Bali sekarang begitu jorok dan menjurus porno. Setelah saya amati beberapa saat, memang saya melihat hal-hal yang jorok dan porno, karena itu dalam memberi komentar di laman somasi Aliansi Peduli Bahasa Bali, saya menganjurkan agar situs ini dilaporkan ke Polda Bali sebagai hal yang bersifat porno.

Menggunakan idiom lokal untuk media global, memang tak cocok. Saya sebut satu contoh kata saja yaitu digunakannya kata cai atau ci untuk mengganti kata kamu dalam bahasa Indonesia. Ini betul-betul kata ganti yang sangat lokal saat ini di Bali.

Kata cai atau ci sekarang dianggap sangat kasar dan merendahkan untuk umum. Tapi tidak untuk daerah lokal tertentu. Begitu pula kata nani bisa merendahkan dan kasar untuk suatu komunitas lokal tetapi tidak untuk lokal yang lain. Di Bali kita sebenarnya mengenal berbagai budaya lokal yang mempengaruhi penggunaan bahasa Bali dalam pergaulan. Di Bali utara, misalnya, ada dua sahabat lama yang sudah lama berpisah. Begitu mereka ketemu, salah satu berujar: “Beh mara cai teka....” Tak ada yang aneh digunakannya kata cai itu, baik bagi yang mengucapkan mau pun yang menerima. Ganti kata cai dengan nani, juga tidak aneh. Bahkan kalau kalimat itu diganti begini: “Beh mara cicinge teka....” juga tak ada yang aneh. Dua sahabat itu bisa berpelukan dan bercanda.

Bayangkan kalau kata-kata itu dipakai di Bali Selatan. Kata nani mungkin asing, tetapi kata cai dikenal, namun sebagai kata yang sangat kasar. Apalagi diganti dengan cicinge, ini jelas sangat merendahkan. Cicing itu adalah anjing, siapa yang mau disamakan dengan anjing? Ini penistaan, tetapi di lokal tertentu di Bali utara ini bahasa pergaulan.

Nah itulah yang tidak disadari oleh pengelola testomy.com. Tapi saya tidak tahu siapa pengelola situs itu, apakah benar anak-anak muda dari Bali utara, dan kemudian mereka sok akrab di media sosial yang bersifat global dengan idiom lokalnya. Atau seperti yang dituduhkan seseorang dari Lampung yang menduga ini adalah sekelompok orang yang mau menjatuhkan budaya tutur orang Bali dengan sengaja menggunakan bahasa Bali yang kasar dan jorok, porno pula.

Sesungguhnya dalam bertutur dengan menggunakan bahasa daerah, bahasa daerah apa pun tak cuma bahasa Bali juga bahasa daerah lain, ada etika yang memang tidak ada aturan tertulisnya. Etika itu dipengaruhi oleh budaya setempat dan dipengaruhi pula oleh keakraban teman sebaya. Di Jawa anak-anak muda atau orang dewasa tetapi keakrabannya dimulai sejak muda, biasa saling menyebut asu untuk mengumpat. Asu itu artinya anjing. Atau ungkapan lain untuk menunjukkan kejengkelean, misalnya, ndasmu. Di media sosial pun kata ini sering digunakan tetapi terbatas untuk saling menjawab antar teman, bukan untuk publik. Kita masih ingat bagaimana ada seorang anak muda di Jakarta yang di FaceBook menyebut Gus Mus (KH Mustofa Bisry) dengan kata ndasmu. Wah geger besar, Pemuda Ansor dan kader NU tak rela kiyai yang dihormati itu disebut ndasmu. Akhirnya anak muda itu diantar orangtuanya datang ke pesantren Gus Mus di Rembang untuk minta maaf. Kalau tak minta maaf keselamatannya terancam.

Karena itu dalam bertutur dengan bahasa daerah, idiom lokal sebaiknya tidak digunakan di media sosial jika itu untuk konsumsi publik. Kalau untuk ngobrol dengan teman dekat dan saling bersapa masih bisa dipakai. Tapi ini pun dihindari oleh kebanyakan orang karena walau pun kita jelas ngobrol dengan teman sendiri karena orang lain juga tahu status obrolan itu, ini bisa menunjukkan dari kalangan mana kita. Sering saya melihat status orang yang suka menulis jorok, ketika ada yang mengingatkan dia membalas: “Terserah gua dong, kalau tak suka jangan dibaca...” (Kalau memakai bahasa Bali lebih kasar lagi, misalnya: “Ngudiyang ci uyut kanggo keneh cange...”). Sesungguhnya orang ini mempermalukan dirinya. Kalau mau bicara kasar sama teman dekat jangan diunggah ke media sosial, lakukan saja lewat telepon, WhatsApp, SMS, atau aplikasi lainnya yang tidak untuk publik.

Dalam adat dan budaya Bali, tutur bahasa Bali ada menggunakan bahasa kasar, madya (kepara) dan bahasa halus. Bahasa kasar untuk keakraban dan itu pun sekarang sudah mulai ditinggalkan diganti dengan bahasa kepara jika di depan umum. Kalau berdua saja tak apa-apa. Sedangkan untuk acara adat seperti meminang dalam perkawinan, rapat di banjar atau dalam ritual di pura, digunakan bahasa halus. Di media cetak, karya sastra berbahasa Bali ada yang menggunakan bahasa madya dan bahasa halus. Tak pernah digunakan bahasa kasar, kecuali dalam dialog tertentu yang itu pun oleh penulisnya ada penjelasan kenapa tokoh itu menggunakan kata kasar.

Di media sosial, sebaiknya yang digunakan adalah bahasa madya dan bahasa halus, sama seperti di media cetak. Kenapa? Ya karena ini media publik bukan media pergaulan yang hanya sebatas teman yang membacanya. Karena itu saran saya, testony.com harus memperbarui cara komunikasinya. Apalagi sudah disomasi nanti bisa berurusan ke ranah hukum. Kasihan karena pada satu sisi memperkenalkan bahasa Bali ke dunia maya adalah kreatifitas yang baik untuk melestarikan bahasa daerah yang makin berkurang peminatnya. Maksud baik tapi caranya salah tentu tak ada manfaatnya. (*)


Oleh : mpujayaprema | 24 Juli 2017 | Dibaca : 528 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?