Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


419049

Pengunjung hari ini : 79
Total pengunjung : 84646

Hits hari ini : 241
Total Hits : 419049

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Penolakan Sarana Listrik di Bali

Oleh : mpujayaprema | 31 Juli 2017 | Dibaca : 417 Pengunjung

SEBAGAI kawasan pariwisata utama di Indonesia, kebutuhan listrik di Bali cukup tinggi dibandingkan kawasan lainnya. Apalagi sudah sebagian besar desa-desa di Bali mendapat aliran listrik, lebih dari 80 persen, angka yang tinggi untuk ukuran negeri ini. Sayangnya Bali tak pernah mandiri dalam pengadaan listrik. Sumber listrik terbesar datang dari Jawa lewat kabel laut yang rentan dengan gangguan.

Cita-cita untuk mandiri dalam pengadaan listrik memang sudah sejak lama. Karena itu berbagai hal pernah dikaji, antara lain, membangun Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) memanfaatkan sumber panas bumi di Bedugul. Proyek yang dengan populer disebut Geothermal Bedugul ini sudah dimulai dengan mengebor sumber panas bumi. Diperkirakan hasil dari geothermal ini antara 165 – 175 Megawatt. Namun proyek ini tak diteruskan karena ditentang oleh masyarakat Bali, dianggap mencemarkan kesucian alam Bali.

Upaya memperbesar kapasitas Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Sanggaran dengan membangun beberapa pembangkit lagi, juga mendapat tentangan dari masyarakat setempat. Dengan alasan PLTD itu dekat pemukiman dikhawatirkan akan menambah polusi. Rencana pun jadi macet.

Sementara itu kebutuhan akan listrik terus meningkat di Bali. Besaran prosentasi kebutuhan listrik ini melebihi rata-rata nasional. Menurut catatan PLN setiap tahun rata-rata peningkatan kebutuhan listrik di Bali sekitar 11 persen. Ini yang membuat adanya kekhawatiran bahwa dalam beberapa tahun ke depan krisis listrik akan terjadi di Bali, meski pun Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) Celukan Bawang sudah berproduksi.

Mengantisipasi krisis listrik di Bali pemerintah mau tak mau harus menambah pasokan listrik dari Jawa. Dan karena kabel laut tidak aman untuk jangka panjang, apalagi bisa porak poranda kalau diseruduk kapal di Selat Bali, direncanakan membentangkan kabel udara yang dikenal dengan nama SUTET (Saluran Udara Tegangan Tinggi). Dari hasil survey jarak  terdekat dari Jawa ke Bali adalah di Watudodol (Jawa) dan Segara Rupek (Bali). Ini memang jarak terdekat yang sudah menjadi legenda masyarakat Bali karena dulu Danghyang Nirartha memakai jalur ini untuk datang ke Bali.

Ternyata SUTET membutuhkan tower besar di daratan Bali dan itu yang harus dibangun di Pantai Segara Rupek yang dikenal dengan istilah Bali Crossing. Dan pembangunan itulah yang ditentang oleh komponen masyarakat Bali utara. Dalam rapat di wantilan Pura Jagatnatha Singaraja, Jumat pekan lalu, komponen masyarakat dan organisasi Hindu termasuk Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Buleleng menolak pembangunan Bali Crossing itu. Alasannya khawatir proyek itu akan menghilangkan kesucian Pura Segara Rupek.

Ini jadi hal yang  serius. Di satu pihak Bali akan krisis listrik dalam beberapa tahun ke depan jika tidak ada tambahan pasokan, namun pasokan tidak mungkin bisa ditambah karena sarana yang memasok listrik itu bisa mencemarkan kesucian pura. Sementara itu kebutuhan listrik bukan cuma dinikmati oleh pengusaha hotel saja, tetapi penduduk Bali pedesaan pun sudah akrab dengan listrik. Masyarakat Bali sudah terbiasa menanak nasi dengan rice cooker, sudah biasa pula mencuci pakaian dengan mesin cuci, menikmati televisi, menikmati gadget dengan  berbagai perangkatnya. Tentu sangat mustahil kalau kembali menyetrika pakaian dengan setrikaan arang, mencuci pakaian ke sungai, atau memakai lampu teplok di malam hari. Kita sudah lama menikmati hidup yang moderen dan itu semua gara-gara adanya listrik. Kita tak bisa pisah dengan aliran listrik. Tetapi kalau sarana untuk mendatangkan aliran listrik itu kita tentang terus tanpa solusi apa pun, bukankah ini tidak adil?

Jika saja Geothermal Bedugul berjalan sesuai yang diharapkan kebutuhan listrik di Bali bisa tercukupi tanpa harus mendapatkan pasokan dari  Pulau Jawa. Bali memiliki cadangan energi dari panas bumi sekitar 226 MW dan tersebar di 5 titik yang berbeda. Dari lima titik yang sangat berpotensi itu, kawasan Gunung Bedugul menyimpan sekitar 165-175 MW.

Tarik ulur Geothermal Bedugul sebenarnya belum berakhir. Pemerintah pusat lewat Direktorat Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) masih tetap berharap pembangunannya bisa diteruskan oleh Bali Energy Limited. Sudah ada tiga sumur bor yang dibuat.  Namun masyarakat termasuk Pemda Provinsi Bali sudah jelas menolak proyek ini. Bukan saja urusannya masalah kesucian alam karena gunung bagi masyarakat Bali adalah kawasan suci, juga potensi merusak lingkungan alam setempat.

Kalau Geothermal Bedugul ditolak dalam kaitan dengan lingkungan, SUTET atau Bali Croosing di Segara Rupek nampaknya hanya dikaitkan dengan kesucian pura saja. Apakah ini tak bisa dibicarakan lebih lanjut? Apakah betul kesucian pura tercemar hanya karena ada kabel yang melintang di atas? Kalau kabel SUTET tak mungkin persis di atas pura karena di bawah kabel SUTET lahan harus dibebaskan PLN. Apakah para dewa ternoda jika hanya berjalan selintas saja di bawah kabel tegangan tinggi? Bukankah di lain tempat sudah terbiasa ada rentangan kabel listrik dan bukankah pula pembangunan underpass mau pun fly over sudah disetujui adanya di Bali?

Teknologi seharusnya jangan terlalu dikaitkan dengan kesucian yang sifatnya sulit diukur secara duniawi. Kita sudah terbiasa menyaksikan di pura bagaimana kabel listrik dan kabel pengeras suara melintang di atas dan tak ada masalah apa-apa. Kalau itu dipersoalkan hanya karena dianggap mengurangi atau menghilangkan kesucian, apakah kita akan memakai penerangan obor jika ada piodalan di pura? Apalagi kalau kembali ke masa lalu di rumah-rumah memakai lampu templok dari minyak. Sesuatu yang mustahil.

Memang, tenaga listrik dengan cara-cara moderen yang ramah lingkungan masih ada teknologi yang lainnya. Misalnya tenaga listrik dengan energi surya atau memanfaatkan gelombang samudra di laut. Potensi itu konon ada di sekitar Bali. Tapi proyek ideal semacam itu masih memerlukan kajian yang panjang dan butuh waktu bertahun-tahun. Sementara Bali akan kekurangan listrik dalam waktu yang dekat, apalagi kalau kabel bawah laut yang selama ini dipakai sudah tergolong tua. Seharusnya ada solusi bagaimana listrik dari Jawa tetap aman ke Bali karena orang Bali yang lebih membutuhkan. Jadi tidak asal menolak namun ada jalan keluarnya. Masih untung Bali dipasok listrik dari Jawa, pulau lainnya tak ada dipasok listrik dari Jawa, semuanya sudah mandiri. (*)


Oleh : mpujayaprema | 31 Juli 2017 | Dibaca : 417 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?