Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


568623

Pengunjung hari ini : 283
Total pengunjung : 125432

Hits hari ini : 476
Total Hits : 568623

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

Garam

Oleh : mpujayaprema | 05 Agustus 2017 | Dibaca : 948 Pengunjung

Garam di laut asam di gunung bertemu dalam belanga. Ini pepatah tentang jodoh, tapi sudah kedaluwarsa warisan para leluhur. Saat itu wawasan leluhur kita masih lokal, belum global. Petani garam memang adanya di pantai dekat laut.

Kalau sekarang ada politisi yang masih mengkaitkan garam dengan pantai, memang tidak salah. Asal tidak ngotot menyebut satu-satunya pengolahan garam hanya di pantai. Mereka mungkin masih melihat bagaimana petambak garam di Madura, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur setia bekerja di terik matahari pantai. Sementara petani garam di Bali sudah jauh berkurang karena lebih asyik mencari ikan atau mengantar turis jalan-jalan ke laut.

Bertani garam di pantai mengandalkan alam. Tergantung terik matahari. Yang jadi masalah, Tuhan Maha Asyik belakangan ini, musim kemarau kok ada hujan. Ini membuat petani garam gagal panen. Panas sebulan dihapus hujan sehari. Produksi berkurang permintaan tetap karena ibu-ibu kalau tidak memakai garam masakannya tidak enak.

Sementara itu di negeri seberang, Australia, misalnya, garam tak ada hubungannya dengan pantai. Garam ditambang, tinggal diciduk seperti orang Magelang mengambil pasir Gunung Merapi. Berjuta-juta ton garam itu diambil, tambang baru habis ratusan tahun kemudian. Garam ini dikirim ke Indonesia dengan kapal laut yang tak gratis, masuk pelabuhan bayar, bongkar muat perlu ongkos. Eh, harganya tetap lebih murah dari garam produksi Nusantara.

Jika orang masih mengkaitkan bahwa pantai Indonesia terpanjang kedua seharusnya memproduksi garam terbanyak kedua pula di dunia, orang itu pastilah sama dengan leluhur kita di masa lalu yang kekurangan informasi. Di dunia global saat ini, coba kunjungi “rumah Mbah Google” dan buka “pintu garam” maka berhamburan informasi bagaimana garam itu diambil dan tak sepenuhnya dibuat. Australia garis pantainya secuil tapi garamnya melimpah, Belanda yang garis pantainya cuma seperlima puluh garis pantai Indonesia menghasilkan garam nomor satu di dunia. Karena garamnya adalah hasil tambang.

Apa salahnya impor garam kalau harganya lebih murah? Apakah itu membuat kita kehilangan nasionalisme? Nasionalisme perlu realistis. Kalau impor beras, nah, itu baru kita pertanyakan: apa saja kerja presiden, menteri pertanian, gubernur, petani dan seterusnya? Lahan kita banyak untuk mencetak sawah, kita bisa swasembada beras. Karena di seluruh dunia proses membuat beras itu sama. Tanam padi di sawah, saat panen dijadikan gabah dan disosoh jadi beras. Tak ada beras ditambang. Sedangkan garam, kita mengolahnya di pantai sebulan dua bulan tanpa hujan, sementara di negeri lain tinggal mengambil saja di alam. Tuhan tidak adil. Tapi bukankah Tuhan menciptakan perbedaan yang tak adil ini agar sesama negara saling punya ketergantungan? Kita juga punya kekayaan lain yang tinggal diambil dari alam, baru bara dan gas cair di Kalimantan, emas dan tembaga di Papua, nikel di Sulawesi. Negara lain membutuhkan itu dan kita kirim ke sana, seperti halnya negara kita membutuhkan garam lalu dikirim dari negara lain.

Mari sudahi polemik pro dan kontra impor garam. Jika bermaksud menolong petani garam, bantulah dengan teknologi. Tapi kalau itu juga mahal, kenapa tidak dicarikan lapangan kerja yang lain? Memang ketergantungan dari negara lain kadang membuat tidak enak, tapi apa ada negara yang segala kebutuhannya dipenuhi sendiri? Ini justru mengingkari ciptaan Tuhan yang membuat manusia (serta alamnya) berbeda-beda agar saling mengenal dan saling membantu.

(Diambil dari Koran Tempo Akhir Pekan 5 Agustus 2017)


Oleh : mpujayaprema | 05 Agustus 2017 | Dibaca : 948 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?