Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


568683

Pengunjung hari ini : 284
Total pengunjung : 125433

Hits hari ini : 536
Total Hits : 568683

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Patung

Oleh : mpujayaprema | 12 Agustus 2017 | Dibaca : 1007 Pengunjung

Banyak hal yang tak saya mengerti dalam kasus Patung Dewa Perang Khong Co Kwan Sing Tee Koen yang berdiri megah di Kelenteng Kwan Swie Bio, Tuban, Jawa Timur. Patung terbesar di Asia Tenggara itu tiba-tiba diprotes oleh sejumlah orang karena dianggap tidak mencerminkan budaya mayoritas masyarakat Tuban. Mereka menuntut patung yang sudah diresmikan 17 Juli lalu itu dirobohkan. Mula-mula alasannya soal IMB (Izin Mendirikan Bangunan) yang tidak ada.

Ini jadi awal pertanyaan saya. Patung didirikan di areal kelenteng, bukan di alun-alun atau persimpangan jalan. Patung ini sakral menjadi bagian tak terpisahkan dari kelenteng. Apakah mendirikan patung di areal tempat ibadah harus ada IMB? Bukankah IMB itu adalah untuk mendirikan tempat ibadah? Kalau sebuah tempat ibadah sudah mendapatkan IMB – yang sering begitu sulit bagi kaum minoritas– apa pun yang dibangun di dalamnya tentu tak diperlukan lagi izin khusus. Saya membayangkan kalau Patung Dewa Khong Co Kwan Sing Tee Koen ini sampai dirobohkan hanya karena tak ada IMB, maka ribuan patung Dewa Hindu di berbagai pura bisa dirobohkan karena tanpa IMB. Pemerintah tak bisa campur tangan patung apa saja yang boleh dan tidak boleh dibangun di tempat-tempat persembahyangan. Umat Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha seharusnya tak peduli patung apa yang dibangun di kelenteng, rumah persembahyangan umat Konghucu. Mau disebut berhala silakan saja karena berhala dan tidaknya itu urusan agama masing-masing, sesuai keyakinan pemeluknya.

Sekarang anggap izin mendirikan patung itu diperlukan, seperti membangun patung di kawasan publik.  Kenapa tidak dipersoalkan sejak awal? Apakah patung sebesar dan semegah itu – tinggi 30 meter -- yang dibangun selama setahun lebih, tidak dilihat sebelumnya oleh pemerintah daerah? Apakah masyarakat setempat juga tak ngeh saat patung itu dikerjakan para tukang, bukankah kelenteng itu sangat terkenal sebagai obyek wisata di Tuban? Kenapa setelah diresmikan baru dipersoalkan?

Ada yang ngotot agar patung itu dirobohkan. Ada pula yang berharap pemerintah bertindak arif menyelesaikan masalah ini, sambil menyayangkan pihak kelenteng tak memperhatikan rasa keadilan, kebersamaan dan kepantasan dalam membangun patung. Meminta pemerintah bertindak arif tak jelas arahnya akan ke mana, apakah akan terus menutup patung itu dengan kain? Ini pernyataan normatif tanpa solusi. Ada pun soal keadilan, kebersamaan dan kepantasan, bagaimana tolok ukurnya jika patung itu adalah sesuatu yang sakral? Masyarakat di luar kelenteng mungkin mengira patung itu sejenis “patung pahlawan perang etnis Cina” sehingga merasa pahlawan pribumi tidak dianggap. Padahal ini patung tokoh yang oleh umat Konghucu dianggap setingkat dewa, sehingga tak ada yang patut didiskusikan mengenai kepantasan karena sumbernya adalah keyakinan. Keyakinan pun tak bisa dipilah-pilah agar adil untuk pemeluk keyakinan yang berbeda.

Ini bukan kasus pertama. Di Medan pernah ada patung Buddha harus diturunkan dari wihara, padahal wihara tanpa patung Buddha tentu aneh, mungkin seperti masjid tanpa menara. Saya bingung, perubahan apakah yang terjadi pada penghuni Nusantara yang dulu sangat toleran ini? Patung sebagai karya seni juga banyak yang dirobohkan. Jiwa kita semakin gersang. Sedihnya patung sakral umat beragama tertentu dibangun sebagai bagian tak terpisahkan dari rumah ibadah yang sudah mendapat izin, dipersoalkan oleh pemeluk agama lain. Begitu rendahkah iman kita yang terganggu hanya melihat patung?

(Diambil dari Koran Tempo Akhir Pekan 12 Agustus 2017)


Oleh : mpujayaprema | 12 Agustus 2017 | Dibaca : 1007 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?