Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


502804

Pengunjung hari ini : 90
Total pengunjung : 107922

Hits hari ini : 1059
Total Hits : 502804

Pengunjung Online: 11


Twitter
Baca posting

Kaum DifabelkeTempat Suci

Oleh : mpujayaprema | 11 September 2017 | Dibaca : 431 Pengunjung

PERHIMPUNAN Pemuda Hindu (Peradah) Indonesia, Bali, menyambangi Yayasan Cahaya Mutiara Tampaksiring yang menampung 40 orang penyandang disabilitas, Senin pekan lalu. Dalam pertemuan itu terungkap bagaimana kaum difabel (penyandang disabilitas alias cacat tubuh) menyampaikan beberapa curahan hati menyangkut keberadaan mereka. Menurut ketua yayasan I Ketut Budiarsa, asalkan kaum difabel diberi akses oleh pemerintah, mereka tak akan menjadi beban lingkungan dan bahkan bisa berprestasi dengan baik.

Semua negara menghormati hak kaum difabel. Karena itu berbagai fasilitas umum wajib ada sarana untuk penyandang disabilitas ini. Kalau kita membuka aplikasi Google dengan segala kontensnya dan menaruh alamat di sana, pasti ada pertanyaan apakah tempat yang kita daftarnya itu ada fasilitas untuk kaum difabel. Yang paling inti adalah apakah ada sarana untuk penyandang cacat yang menggunakan kursi roda. Tentu akan menjadi aneh kalau kaum difabel dalam mengunjungi sebuah tempat acap kali harus turun dari kursi roda dan digotong karena naik tangga lantaran tak ada fasilitas untuk kaum difabel.

Hak untuk kaum difabel itu dilindungi undang-undang. Hak untuk menikmati pendidikan, hak untuk berolahraga, hak untuk berkesenian, dan hak untuk mencari nafkah. Sudah tentu semua hak itu disesuaikan dengan jenis cacat tubuh apa yang disandang kaum difabel itu. Di Bali sendiri banyak kaum difabel yang sudah berprestasi baik di bidang seni lukis, seni patung dan bahkan seni tari. Banyak orang yang takjub bagaimana penyandang tuna rungu, yang sejak kecil tak bisa mendengar, ternyata bisa menari dengan baik diiringi gamelan gong hanya mengandalkan kode-kode dari pelatihnya. Penyandang tuna netra juga bisa menabuh dengan piawai. Sudah banyak penyandang cacat tubuh seperti lumpuh ada yang bisa membuat lukisan dengan bagus. Tuhan Maha Adil, ketika sebagian anggota tubuh tidak berfungsi dengan baik, ada anggota tubuh lain yang fungsinya luar biasa.

Ketua Peradah Bali dalam pertemuan itu menyebutkan akan mendesak pemerintah untuk lebih memberikan perhatian kepada penyandang disabilitas. Pertanyaannya adalah apakah memberikan hak kepada kaum difabel ini hanya tugas pemerintah? Bagaimana dengan komunitas masyarakat, lembaga-lembaga adat, pemuka agama dan lainnya? Pertanyaan yang lebih menukik adalah apakah kaum difabel ini diberikan hak dan bisa mengakses haknya untuk bersembahyang ke sebuah pura? Penyandang tuna netra tentu lebih aman dengan cara dituntun. Penyandang tuna rungu malah tak perlu dituntun karena tubuh lainnya sehat. Bagaimana dengan penyandang cacat seperti kelumpuhan. Digotong memasuki pura dengan naik tangga tentu tidak elok dilihat. Apakah ada sarana untuk “pejalan kursi roda”? Nampaknya semua pura besar di Bali tak punya fasilitas itu. Padahal bisa saja dibuat dengan memanfaatkan pintu (pemedal) di belakang. Ini yang sudah dibuat di beberapa pura di luar Bali. Pura itu tetap indah dari depan dengan candi bentar dan candi kurung yang bertangga, sementara di belakang atau samping ada jalan yang tak memakai tangga dan di sinilah kaum difabel bisa masuk dengan kursi rodanya.

Mungkin kita tak terbiasa melihat kaum difabel memasuki pura untuk ikut bersembahyang. Terutama di pura-pura yang besar yang tergolong Kahyangan Jagat. Barangkali satu dua penyandang tuna rungu atau bahkan tuna netra ikut bersembahyang, tetapi pernahkah kita melihat kaum difabel dengan kursi rodanya dalam keramaian umat di tempat suci? Hampir tak pernah. Padahal tak ada yang menyalahkan hal itu. Tak ada larangan kaum difabel memasuki pura dan hak mereka untuk bisa ikut bersembahyang harus dihormati. Mereka itu bukan kaum cuntaka – yang dilarang memasuki pura. Tuhan tak membedakan mereka dengan orang-orang yang normal. Yang tidak boleh adalah pemangku yang menyandang disabilitas karena tugasnya harus prima dalam melayani umat.

Ada sebuah kisah yang menggambarkan betapa hak kaum difabel harus dihormati dan betapa Tuhan pun selalu memberkati hambanya yang kekurangan dalam hal phisik ini. Syahdan ada sebuah tempat suci yang sangat ramai dikun­j­ungi di desa yang bernama Vrin­da­wandi India.  Ratusan ribu orang datang setiap hari di sana. Arca yang dipuja di sana adalah arca Shri Krishna. Arca ini tidak ada penjelasan sia­pa pembuatnya, dan orang pun menyebutkan “bukan buatan ma­nusia”. Arca itu muncul begitu saja dari dalam tanah sekitar 400 ta­hun lalu, tidak jauh dari kuil yang sekarang ber­diri.

Kawasan di mana arca itu muncul adalah sebuah taman yang di­­penuhi oleh tumbuhan Mukti Lata, sejenis tumbuhan melata yang daunnya rimbun, tetapi cabang-cabang atau rantingnya me­run­­duk menyentuh tanah. Menurut keyakinan setempat, tum­buhan tersebut adalah penjelmaan roh-roh agung yang merunduk menyem­bah tanah suci tempat munculnya arca Shri Krishna itu.Kuil yang memuja arca Shri Krishna tersebut ber­nama Banka Bihari, diambil dari nama patung itu sendiri.

Adaseorang lelaki setengah baya yang setiap pa­gi dan sore hari datang teratur menghadap ke arca Krishna. Setelah beberapa waktu berlalu, seorang pendeta mulai menaruh perhatian pada lelaki tersebut. Ternyata ia penyandang disabilitas, dia tuna netra. Ada punorang-orang yang datang berkunjung ke tempat suciitu tujuan utamanya adalah dapat melihat arca walau hanya sesaat. Lalu apa tujuan lelaki tuna netraitu ke sana, bukankah dia tak bisa melihat?

Pendeta tersebut penasaran. Suatu hari pendeta mendekati lelaki tuna netraitu dan bertanya terus terang. “Maaf, Anda kan tidak bisa melihat, tetapi Anda datang se­tiap hari ke tempat suciini. Boleh saya mengetahui alasan Anda untuk datang ke sini?”

Lelaki itu menjawab dengan kalem: “Saya memang tidak bi­sa melihat, tetapi Shri Krishna kan bisa melihat saya?” Sang Pen­deta terkejut mendengar jawaban itu.Dan dia makin menyadari bahwa Tuhan hanya melihat hambanya yang sujud, bukan orang-orang yang hilir mudik di tempat suci.

Apa yang bisa kita tangkap dari kisah nyata ini? Tidak ada larangan untuk orang buta dan kaum difabel pada umumnya untuk datang ke tempat suci. Hak mereka memuja Hyang Widhi atau lewat para Ista Dewata adalah hak suci yang harus dihormati. Mari kita berikan akses bagi saudara-saudara kita yang difabel ini. (*)


Oleh : mpujayaprema | 11 September 2017 | Dibaca : 431 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?