Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


502781

Pengunjung hari ini : 90
Total pengunjung : 107922

Hits hari ini : 1036
Total Hits : 502781

Pengunjung Online: 11


Twitter
Baca posting

Tri Hitakarana Harus Berlandaskan Toleransi

Oleh : mpujayaprema | 09 September 2017 | Dibaca : 505 Pengunjung

TAK ada bosan-bosannya orang menyebutTri Hitakarana. Bahkan sudah ada pula piagam untuk institusi yang melestarikan Tri Hitakarana dalam kehidupan keseharian. Semacam Tri Hitakarana Award. Tetapi apakah benar kita semakin banyak mematuhi ajaran Hindu yang demikian luhur ini? Mari kita introspeksi sejenak.

Tri Hitakaranaadalah ajaran luhur yang menyangkut kehidupan manusia. Disebut luhur karena tiga ajaran itu mengutamakan keharmonisan yang sejati. Yang pertama, hubungan harmonis  manusia dengan Tuhan dengan istilah parahyangan. Yang kedua hubungan harmonis antarsesama manusia yang disebut pawongan. Yang ketigahubungan harmonis manusia dengan alam lingkungan yang disebut palemahan.Apakah benar kita sudah melakukan ketiga hubungan harmonis itu? Apakah benar hotel-hotel yang mendapatkan piagam Tri Hitakarana sudah melaksanakan hubungan harmonis untuk ketiga jenis itu?

Hubungan harmonis manusia dengan Tuhan bisa bersifat pribadi dan bisa bersifat kolektif. Bersifat pribadi dengan cara rajin sembahyang di kamar suci atau merajan keluarga.Bisa pula dengan melakukanmeditasi, samadi, japa, yoga, namaskaramatau menyebut nama Tuhan berulang-ulang. Keharmonisan hubungan ini tidak perlu dipamerkan. Bisa jadi orang seperti ini terlihat jarang bersembahyang di pura yang besar dan dilihat oleh umum. Tapi itu tak berarti membuat ia tidak harmonis dengan Tuhan yang dipujanya lewat berbagai Ista Dewata.

Harmonis dengan Tuhan secara kolektif tentu harus dijalani dengan keharmonisan yang lain, seperti harmonis dengan sesama manusia. Dia tak bisa melakukan persembahyangan yang bersifat “pribadi” di sebuah pura umum yang dihadiri banyak orang. Ketika dia memuja Tuhan di tempat umum, dia harus harmonis dengan umat yang lebih banyak. Misalnya saat melantunkan Puja Trisandya yang biasa dilakukan sebelum Kramaning Sembah. Kalau dituntun dengan irama Puja Trisandya yang baku, yang selama ini sudah dikenal, dia tak bisa melakukannya dengan irama tersendiri. Kita tahu irama Puja Trisandya saat ini ada banyak sekali, cobalah lihat di YouTube. Ada irama ala India, irama kidung, irama kekawin, irama meditasi, irama pop, irama rock bahkan ada irama etnis seperti irama Bali, Jawa bahkan irama Dayak. Kalau dia tetap dengan iramanya sendiri dan tak mau ikut irama yang sudah dituntun, maka dia berarti tidak harmonis dengan sesama manusia, meski pun tetap harmonis dengan Tuhan. Dia bukan penghayat ajaran Tri Hitakarana dengan benar.

Lebih bermasalah lagi kalau dalam skala yang besar. Misalnya,mau melakukan yadnyapada piodalan di puradengan cara agni hotra. Tentu taksemua pengempon purasetuju. Bukan karena menyalahi cara ritual, tetapi kita harus toleran terhadap cara ritual orang lain. Kalau untuk urusan pribadi seperti tiga bulanan anak, perkawinan dan lain-lain itu masih bisa dimengerti. Juga urusan banten. Ngotot sendirian supaya banten caru tak boleh memakai binatang, tentu menyalahi unsur pawongan karena secara umum caru itu pastilah dengan mengorbankan binatang. Tri Hitakarana intinya juga toleransi.

Yang paling banyakdilanggar dari ajaran Tri Hitakarana ini adalah unsur  ketiga, pelemahan. Sudah benarkah kita harmonis dengan lingkungan? Pernahkah Anda memungut sampah upacara begitu selesai melakukan persembahyangan? Tidak banyak yang melakukan hal ini, meski sudah mulai ada pengumuman yang mengharuskan pemedek untuk memungut “sampah yadnya” dan dibuang di tong sampah yang sudah disediakan di pura. Ini sengaja mencarikan contoh yang kecil-kecil. Kalau urusan kecil begini bisa selesai dengan lingkungan yang harmonis, tentu urusan yang lebih besar akan mengikutinya.

Lihatlah lingkungan yang lebih besar, sudah mulai rusak di pulau yang kita banggakan ini. Tempat-tempat suci sudah dikepung oleh sarana bisnis, sementara penataan kawasan wisata yang bersentuhan dengan ritual justru malah dicurigai. Pantai tempat melasti di kawasan Teluk Benoa, misalnya, dipenuhi sampah. Sangat jorok dan berbau. Sementara untuk menata pantai itu supaya bersih dan nyaman dicurigai sebagai akal-akalan investor. Tak ada niat baik karena selalu ada kecurigaan.

Hidup dengan menjalankan ajaran Tri Hitakarana sesungguhnya mudah. Harmonis dengan Tuhan, harmonis dengan sesama manusia dan harmonis dengan lingkungan membutuhkan pengorbanan untuk membunuh ego pribadi. Perlu sikap toleransi yang tinggi. (*)


Oleh : mpujayaprema | 09 September 2017 | Dibaca : 505 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?