Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


502787

Pengunjung hari ini : 90
Total pengunjung : 107922

Hits hari ini : 1042
Total Hits : 502787

Pengunjung Online: 11


Twitter
Baca posting

Mari Saling Tolong Menolong

Oleh : mpujayaprema | 16 September 2017 | Dibaca : 361 Pengunjung

KITA tidak bisa hidup sendiri. Kita selalu tergantung kepada orang lain. Ketergantungan itu adalah kondrat yang sudah diciptakan Yang Maha Kuasa. Tuhan menciptakan orang dengan segala perbedaannya agar saling mengenal dan saling membantu. Diciptakan orang kaya agar bisa membantu orang miskin. Diciptakan orang yang lahir sudah cacat tubuh agar memberi kesempatan pada orang yang sehat normal untuk membantunya.

Jangan sesali keadaan itu. Selalu syukuri apa yang ada dan tentu saja berjuang terus tanpa lelah untuk memperbaiki apa yang kurang. Jangan menyimpan dendam untuk keadaan yang kita terima. Hidup sebagai manusia hal yang sangat mulia. Sarasamuccaya sloka 4 menyebutkan: “Menjadi manusia adalah kelahiran yang paling utama. Karena hanya dengan menjadi manusia sajalah kebajikan atau kebenaran dapat dilakukan, dan hanya dari kebajikan atau kebenaran itulah kesengsaraan dapat dibenahi.”

Kadang ada orang yang mengaku bingung bagaimana membantu orang lain. Ada keluarga miskin yang  tempat tinggalnya pun tak layak huni, bercampur dengan binatang peliharaannya. Namun warga sekitarnya cuek saja. Mereka prihatin tetapi tak tahu bagaimana cara membantu keluarga itu. Cobalah cari cara-cara sederhana. Misalnya, dengan melaporkan kepada kepala desa, lalu kepala desa melaporkan ke camat dan seterusnya ke atas. Bupati dan Gubernur tentu akan tergugah dan pemerintah punya program “bedah rumah”, misalnya. Artinya, memberi bantuan itu tak harus langsung ke orangnya, bisa dengan memberikan informasi kepada aparat terkait atau pihak ketiga.

Jadi untuk menolong orang dalam prinsip saling tolong-menolong memerlukan kreatifitas karena hidup sebagai manusia diberikan pikiran. Manusia dibekali tri pramana: sabda, bayu, idep (bisa bersuara, punya napas dan punya pikiran). Hewan hanya punya dwi pramana: sabda danbayu (suara dan napas). Meski begitu hewan dengan dwi pramana saja masih bisa menolong sesamanya. Induk ayam berkotek untuk memanggil anaknya jika ada makanan. Akan halnya tumbuh-tumbuhan yang hanya punya eka pramana yaitu napas (bayu), tak bisa menolong sesama tumbuhan lain. Kalau pohon itu mau tumbang, tumbanglah dia, tak ada pohon lain yang menolong. Kalau ditebang oleh manusia, pohon itu tak bisa menjerit minta bantuan.

Dalam serial Mahabharata di televisi – tetapi tidak ada di dalam buku – ada contoh bagaimana orang harus diajarkan berpikir untuk menolong sesamanya. Ada adegan ketika para Pandawa dan Kurawa sedang menginjak remaja. Mereka berkumpul dalam suatu ruangan mau makan bersama. Setiap orang sudah punya jatah makanan di depannya yang sama besarnya untuk keadilan.

Bhisma, tokoh yang dihormati sebagai pengasuh anak-anak bangsa Kuru itu, tiba-tiba memberikan pencerahan bagaimana makan bersama dengan prinsip tolong menolong. “Untuk kebersamaan kita saat ini tidak boleh makan dengan tangan yang sikunya ditekuk,” kata Bhisma. Pandawa dan Kurawa tercengang dan mereka harus mengikuti perintah itu. Semua orang lalu mencobanya, tapi tak ada yang bisa. Ada yang mengambil makanan lalu mulutnya didekatkan ke tangan, tak berhasil jika siku tak boleh ditekuk. Ada yang menaikkan tangan ke atas, lalu membuang makanan itu sehingga jatuh pas di mulut. Makanan malah banyak yang tercecer.

Yudhistira berpikir keras dan menemukan cara. Tangan kanannya mengambil makanan, lalu dia sodorkan ke mulut Bima yang ada di sebelah kirinya. Bima kaget. “Makanlah, sikuku tidak ditekuk,” kata Yudhistira. Lalu Bima makan pemberian Yudhistira. Bima kemudian melakukan hal yang sama, ia ambil makanan dan disodorkan ke mulut Arjuna yang duduk di kirinya. Arjuna pun makan dengan lahap pemberian Bima. Arjuna juga melakukan hal yang sama. Demikian seterusnya sehingga anak-anak itu, baik Pandawa maupun Kurawa, semua makan dari pemberian saudaranya. Bhisma berkata: “Baiklah anak-anakku, kalian sudah mempraktekkan ajaran suci, manusia tak bisa hidup sendiri, hidup manusia tergantung pada orang lain.”

Bhisma menekankan arti kebersamaan, tolong-menolong dan bergotong royong. Manusia wajib melakukan hal itu, tak ada seorang pun mahkluk yang bernama manusia bisa hidup sendiri. Krishna dalam setiap episode serial Mahabharata berkata: “Kehidupan seorang manusia sungguh sangat utama, tetapi manusia yang congkak dan tidak mau bersahabat dengan manusia lainnya, sangatlah sia-sia,” katanya. Mari kita perbanyak sahabat dan saling tolong menolong. (*)


Oleh : mpujayaprema | 16 September 2017 | Dibaca : 361 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?