Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


568580

Pengunjung hari ini : 278
Total pengunjung : 125427

Hits hari ini : 433
Total Hits : 568580

Pengunjung Online: 4


Twitter
Baca posting

Subsidi

Oleh : mpujayaprema | 16 September 2017 | Dibaca : 506 Pengunjung

RINDU saya tak terbendung untuk menemui Romo Imam. Sudah lama tak bersua karena itu saya bawakan beliau serbuk kopi hasil kebun sendiri. Romo menyambut saya dengan sumringah dan saya segera menawarkan untuk menyeduh kopi. “Anak saya belum pulang membeli elpiji. Mungkin membelinya jauh. Kita ngobrol dulu,” ujar Romo.

Kami pun duduk di beranda. “Warung-warung kecil dekat sini semua menjual elpiji. Kenapa mencari warung yang jauh,” kata saya membuka percakapan. Romo menatap saya dengan tajam. “Itu kan tabung elpiji 3 kg. Sampeyan ini merusak tata niaga elpiji dan tak membantu pemerintah untuk subsidi kalau ikut membeli tabung kecil itu. Orang seperti kita harus membeli elpiji 12 kg yang nonsubsidi, ada aturannya kan?”

Saya memotong: “Itu kan aturan di Jakarta, Romo. Di daerah mana ada aturan begitu. Orang gedongan pun memakai elpiji tabung kecil.” Romo makin meninggi suaranya: “Memangnya tak malu orang kaya membeli elpiji tabung kecil?” Saya cepat-cepat menjawab: “Yang membeli kan pembantunya, tak ada masalah.”

Romo Imam nampak kecewa dengan jawaban saya yang menantang. “Pantas negeri ini tak maju-maju amat. Kebijakan subsidi semuanya tak jalan di masyarakat. Tak ada yang memberi contoh, capek deh,” Romo mengeluh. Lalu saya memberi komentar dengan lebih kalem. “Kalau di beberapa daerah ada subsidi yang sedikit berhasil, Romo. Bahan bakar minyak. Masyarakat sudah mulai menggunakan Pertalite dan bahkan Pertamax yang nonsubsidi untuk mobil dan motornya. Premium yang disubsidi sudah mulai berkurang,” kata saya.

Romo memperbaiki cara duduknya. “Nah, itu kok bisa? Baguslah,” katanya. Langsung saya jawab: “Ya bisa saja karena Premium langka dijual. Stasiun pengisian bahan bakar hampir selalu menempelkan kata ‘premium habis’. Masyarakat dipaksa beralih ke bahan bakar lain. Jadi kalau elpiji 3 kg mau tepat sasaran, jangan dijual di sembarang warung, harus selektif. Jika perlu seperti aturan di Jakarta, pembelinya membawa surat keterangan miskin dan pegawai negeri dilarang membeli elpiji tabung kecil.”

 “Dan itu pun gagal pula,” kata Romo lalu menarik nafas panjang. “Seharusnya ada kesadaran dari masyarakat sendiri dalam arti masyarakat membantu penuh kebijakan subsidi ini. Harus ada teladan dari tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah, ya, seperti saya ini.” Romo tertawa.

Karena saya tak menanggapi Romo melanjutkan: “Masalahnya tokoh-tokoh masyarakat termasuk elite politik saat ini tidak rukun dan cenderung saling menyalahkan, paling merasa benar, saling sindir bahkan saling hujat. Bagaimana negeri bisa maju? Yang diincar hanya kekuasan semata, lalu nama rakyat di bawa-bawa. Rakyat nenekmu.”

Kalau Romo sudah menyebut “rakyat nenekmu” itu pertanda sudah kesal. Benar kan? Dengar apa yang Romo katakan.  “Kita bertengkar hal-hal yang tidak perlu. Komisi Pemberantasan Korupsi yang getol menangkap koruptor mau dibekukan. DPR sibuk mengunjungi koruptor di penjara untuk mencari-cari kelemahan KPK. Besaran utang negara diungkit-ungkit padahal sejak dulu, ya, berutang. Kalau berdalih pengawasan dan kontrol kepada pemerintah, boleh-boleh saja, tapi caranya yang santun. Bukan ngumbar opini sesat di media sosial, apalagi dimanfaatkan oleh biro jasa spesialis berita hoax. Kalau ributnya soal-soal begini, bagaimana mengawasi subsidi agar tepat sasaran. Capek deh...”

Jika Romo sudah mengeluh “capek deh”, meniru anak-anak kecil, itu pertanda kesal, gemas dan pasrah. Untung anaknya pulang membawa tabung elpiji besar dan kami segera menyeduh kopi.

(Diambil dari Koran Tempo Akhir Pekan 16 September 2017)


Oleh : mpujayaprema | 16 September 2017 | Dibaca : 506 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?