Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


502765

Pengunjung hari ini : 89
Total pengunjung : 107921

Hits hari ini : 1020
Total Hits : 502765

Pengunjung Online: 10


Twitter
Baca posting

Balada Pengungsi

Oleh : mpujayaprema | 02 Oktober 2017 | Dibaca : 1267 Pengunjung

PEMERINTAH akhirnya kewalahan menangani pengungsi Gunung Agung. Meski hal itu tak diucapkan dengan persis dan mengakui kewalahan itu, tetapi fakta yang terjadi adalah jumlah pengungsi di luar yang diperkirakan. Pemerintah menghitung jumlah pengungsi itu sekitar 65 ribu atau paling tinggi sekitar 70 ribu orang. Angka itu berdasarkan jumlah penduduk yang terkena dampak Gunung Agung jika gunung ini meletus. Kenyataan yang ada sekarang jumlah pengungsi dua kali lipat dari perkiraan, yakni 145 ribu lebih yang tercatat sampai Sabtu lalu.

Kenapa jumlah pengungsi di luar perkiraan pemerintah? Penyebab yang utama masyarakat yang berada di luar kawasan bahaya ikut-ikutan menjadi pengungsi. Ini menarik untuk dipertanyakan kenapa hal itu terjadi. Justru anggapan semula adalah masyarakat enggan untuk meninggalkan rumahnya termasuk meninggalkan kebun dan ternaknya. Nah kenapa sekarang menjadi gampang meninggalkan kampung halamannya untuk menjadi pengungsi?

Ada berbagai masalah dan tidak sepenuhnya salah para pengungsi. Pernyataan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) seringkali keluar dengan nada menakutkan. Misalnya letusan Gunung Agung bisa sangat besar karena memang begitulah corak dari gunung api ini. Ketakutan ini membuat masyarakat panik dan was-was akan keselamatannya.

Masalah lain karena daerah aman berada dalam keadaan terisolir oleh daerah bahaya. Memang wilayah itu aman, tetapi kehidupan keseharian mereka terganggu karena desa lainnya yang menjadi penyangga termasuk daerah bahaya. Tak usah menyebutkan contoh desa. Kota Amlapura saja langsung sepi karena warganya sudah banyak yang mengungsi. Karena sebagian mengungsi yang masih tinggal kesulitan berinteraksi, toko dan pasar tutup atau kalau buka tidak dalam keadaan normal. Faktor ini membuat orang yang tadinya mau tinggal jadi ikutan mengungsi.

Faktor lain lagi adalah masyarakat melihat di pengungsian itu mendapatkan pelayanan yang memadai. Makan,  minum, pelayanan kesehatan dan kebutuhan lainnya dianggap cukup. Apalagi di awal-awal pengungsian bantuan kemanusiaan mengalir dengan deras. Warga Bali sangat antusias membantu warganya yang menjadi pengungsi. Semua ini membuat masyarakat “tak takut mengungsi” dan bahkan mereka yang berada di daerah aman ikut pula mengungsi.

 Nah pengungsi yang membludak dua kali lebih dari perkiraan ini tentu akhirnya membuat pemerintah repot. Apalagi kalau Gunung Agung benar meletus, pengungsian itu menjadi jangka panjang. Bagaimana menangani pengungsi yang banyak dalam jangka panjang pula? Maka kini yang dilakukan pemerintah adalah menyeleksi para pengungsi. Gubernur Bali Made Mangku Pastika sudah menyatakan akan segera memulangkan pengungsi yang berasal dari daerah nyaman. Mereka seharusnya tak ikut mengungsi. Bahkan ada pula gagasan untuk membuat kartu identitas bagi para pengungsi. Hal ini dimaksudkan agar pengungsi itu jelas-jelas berasal dari daerah Kawasan Radius Berbahaya (KRB). Ingat yang mau dipulangkan hanya pengungsi di daerah aman, kalau masih daerah bahaya, tak mungkin dipulangkan.

Intinya adalah pendataan pengungsi. Dengan kartu identitas jelas pengungsi adalah betul-betul warga desa yang berada dalam KRB. Kemudian pengungsi dianjurkan bergabung dalam tempat penampungan yang sudah disiapkan pemerintah dan tentu dalam pengawasan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan badan serupa yang dibentuk di daerah. Semua ini untuk memudahkan pelayanan.

Dalam kenyataan saat ini ada yang disebut “pengungsi mandiri”. Dengan dalih kemanusiaan banyak orang Bali yang menawarkan menampung pengungsi, terutama yang punya pekarangan luas atau bangunan yang kosong. Tapi jumlah yang ditampung tidak banyak, rata-rata kurang dari 100 orang. Masalahnya adalah penampung “pengungsi mandiri” itu hanya menyediakan tempat, bukan termasuk bantuan sebagaimana tempat-tempat pengungsian yang dikelola BNPB. Mereka tetap mengharapkan bantuan dari posko-posko yang dikelola BNPB. Ini yang kadang menyulitkan baik bagi posko di BNPB yang mengkordinir bantuan mau pun “pengungsi mandiri” itu sendiri. Juga yang menyediakan tempat penampungan pengungsi. Kalau dua hari atau seminggu masih bisa melayani dengan ketulusan demi kemanusiaan itu tadi. Tetapi bagaimana kalau berbulan-bulan? Karena itu baik BNPB maupun pemerintah ingin agar tempat pengungsian di bawah 200 jiwa bergabung di posko yang resmi. Karena pengungsian itu jangka panjang bukan mengungsi dua tiga hari.

Kita tak bisa menebak bagaimana ulah Gunung Agung, hanya Tuhan yang tahu, apakah akan meletus atau tidak. Pergerakan magma di kawah hanya bisa dipantau untuk melihat aktifitas gunung api. Dan celakanya aktiftas itu bisa naik turun. Gempa yang terjadi pun belum tentu menandakan gunung akan meletus. Namun urusan pengungsi seharusnya sudah jelas. Jika aktifitas di bawah kawah terus terjadi, maka selama itu penduduk di daerah bahaya harus di dalam pengungsian. Ini bisa berbulan-bulan. Apalagi jika gunung meletus maka pengungsian bisa lebih panjang lagi karena pasca letusan kawasan akan rusak berat dan tak bisa serta merta dipakai pemukiman. Pengungsian bisa bertahun-tahun. Apakah selama itu para relawan masih tetap bersemangat dan penampung “pengungsi mandiri” tidak mulai terganggu dengan pekarangan yang dipakainya? Lihat saja pengungsi Gunung Sinabung sudah tiga tahun berada di tenda-tenda.

Karena itu pemulangan pengungsi yang kawasannya aman dan pendataan pengungsi dengan kartu identitas khusus, sesungguhnya adalah salah satu cara untuk mengantisipasi pengungsian jangka panjang. Inilah balada para pengungsi yang menjadi tantangan bersama. Pemerintah harus terus memikirkan bagaimana mengucurkan bantuan, relawan mulai merasakan kerepotan berlama-lama dan pengungsi pun mulai jenus dan gelisah. Mari kita doakan bersama mudah-mudahan Gunung Agung tak sampai meletus. (*)


Oleh : mpujayaprema | 02 Oktober 2017 | Dibaca : 1267 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?