Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


568617

Pengunjung hari ini : 282
Total pengunjung : 125431

Hits hari ini : 470
Total Hits : 568617

Pengunjung Online: 1


Twitter
Baca posting

Peduli Tanpa Nyinyir

Oleh : mpujayaprema | 25 September 2017 | Dibaca : 1006 Pengunjung

GUNUNG Agung berstatus awas sejak Jumat malam pekan lalu. Ini adalah status tertinggi atau terakhir untuk gejala gunung yang akan meletus. Karena itu sejak dikenakan status awas maka seluruh daerah yang terdampak bahaya dalam radius 12 km harus dikosongkan. Penduduk pun diungsikan ke tempat yang aman. Semua pihak langsung melakukan antisipasi untuk penyelamatan. Juga antisipasi yang terkena dampak seperti penerbangan dengan kemungkinan menutup bandara Ngurah Rai dan dialihkan ke bandara yang lain.

Bagi yang tidak paham permasalahan, situasi ini disebut sebagai kepanikan dan malah dikatakan mengada-ada. Yang mereka lihat adalah Gunung Agung itu tetap tegak berdiri, paling ada awan yang menyelimuti. Tak ada suara bergemuruh, tak ada hujan abu dan sebagainya. Lalu mereka pun menulis di media sosial, kenapa harus panik, tak terjadi apa-apa dan gunung tidak meletus. Bahkan mereka balik menyebut pemerintah menciptakan berita bohong alias hoax.

Kenapa ada yang nyinyir begini? Bagaimana kalau ada yang percaya kenyinyiran ini? Tentu berbahaya. Harus dijelaskan bahwa tanda-tanda sebuah gunung api meletus tidak berarti gunung api itu sudah meletus. Ada instansi yang mengawasi setiap saat pergerakan gunung api. Ada pemantauan yang terus-menerus oleh sebuah instansi resmi yang bernama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Lembaga PVMBG ini yang menetapkan kapan gunung api dalam status waspada, kapan berstatus siaga dan kapan berstatus awas. Penetapan itu berdasarkan rekaman dan pemantauan kawah dengan alat-alat yang canggih.

Bahwa pergerakan dalam kawah itu belum tentu akan membuat sebuah gunung api meletus, semua serba mungkin. Ada kalanya pergerakan itu justru menurun sehingga status awas bisa kembali menjadi siaga atau malah waspada. Dalam bahasa sederhana bisa saja sebuah gunung api yang berdasarkan rekaman dan pengamatan bergerak ke arah erupsi tiba-tiba jadi berkurang pergerakannya dan kembali normal. Tetapi yang pasti, sebagaimana dikatakan pakar gunung api Surono (biasa dipanggil Mbah Rono) letusan itu tak bisa diduga kapan terjadi jika tanda-tanda itu sudah muncul. Hanya Tuhan yang tahu.

Jadi Gunung Agung yang sudah memberikan tanda-tanda akan meletus, hanya Tuhan yang tahu apa benar meletus atau tidak. Bisa ya dan tentu hal itu tidak kita harapkan bersama, tetapi bisa pula tak jadi meletus yang menjadi harapan bersama. Namun langkah antisipasi harus dilakukan meski pun gunung kelihatan biasa-biasa saja dengan mata yang normal. Jangan sekali-kali bersikap nyinyir bahwa gunung yang nampak normal itu tak perlu ditakuti karena tidak meletus.

Mari belajar dari tahun 1963 saat Gunung Agung meletus dengan hebat. Ini bisa menjadi pengalaman berharga bagaimana antisipasi terbilang “ceroboh”. Maklum pemahaman masyarakat saat itu masih kurang, sementara peralatan yang dimiliki pemerintah juga tak secanggih sekarang. Tanda-tanda pergerakan dalam kawah di gunung itu sudah muncul awal Januari 1963. Namun karena baru “tanda-tanda” dan gunung tetap “kelihatan normal” masyarakat tidak begitu peduli. Juga pemerintah tak tegas melakukan evakuasi. Ternyata meletus juga pada 18 Februari 1963 untuk pertama kali, artinya sebulan setelah tanda-tanda ada pergerakan di kawah. Letusan pertama itu pun masih disikapi dengan dingin oleh masyarakat dan ada anggapan toh sebentar saja berhenti karena letusan kecil. Apa yang terjadi kemudian? Letusan terus membesar dan lontaran material berupa batu besar sampai 6 km. Hampir seluruh Bali tersiram hujan pasir, hujan abu sampai ke Jawa. Sebulan setelah meletus baru awan panas muncul dan menyebar ke radius 5 km. Gunung Agung baru selesai meletus 27 Januari 1964, jadi hampir setahun meletus. Korban meninggal yang tercatat  1.148 jiwa dan ratusan yang terluka. Korban yang tak tercatat mungkin masih banyak.

Kita tentu tak mau mengulangi kejadian itu. Karenanya PVMBG langsung meminta penduduk diungsikan setelah tanda-tanda pergerakan kawah membesar. Pemerintah pun langsung bergerak. Badan Nasional Penanggulangan Bencana baik tingkat pusat maupun daerah bergerak cepat. Tempat-tempat pengungsian dibangun di banyak titik. Semua penduduk di radius yang disebut berbahaya harus dipindahkan. Gubernur Bali Made Mangku Pastika bahkan menyatakan jika ada penduduk yang tak mau dipindahkan harus dipindahkan paksa. “Jika perlu kalau dia menutup diri di rumahnya, dobrak rumahnya. Borgol dia dan angkut ke tempat pengungsian. Kita tak mau ada kasus Mbah Marijan di sini, ” kata Gubernur saat meninjau tempat pengungsian Sabtu lalu.

Mbah Marijan adalah “juru kunci” Gunung Merapi yang tidak percaya awan panas akan sampai di rumahnya. Petugas kewalahan meyakinkan Mbah ini dan karena beliau orang spiritual dan yakin tak terjadi apa-apa, petugas pun menyerah. Ternyata awan panas itu benar datang sesuai perkiraan dan Si Mbah hangus terbakar. Ada yang simpati pada kematian ini namun beberapa bulan setelah itu petugas dikecam banyak orang karena tak memaksa Mbah Marijan diungsikan. Bahkan menurut undang-undang petugas yang tak memaksa demi keselamatan orang itu justru bisa dihukum.

Ini juga jadi pelajaran siapa tahu ada orang Bali yang mengaku “bisa selamat dari awan panas” dan tak mau diungsikan. Memang resiko ditanggung orang itu tetapi petugas tetap disalahkan secara hukum karena membiarkan kematian.

Soal lain yang tak perlu dinyinyiri adalah soal bantuan. Belum apa-apa menuduh pemerintah pusat tak menaruh perhatian dengan membandingkan bantuan ke Myanmar dalam kasus Rohingya. Kasus Rohingya itu sudah lama dan kasus pengungsian Gunung Agung baru seminggu. Buktinya kemarin pemerintah pusat sudah turun tangan.

Ini masalah sensitif dan mari kita hindari kenyinyiran yang tak perlu. Solidaritas masyarakat Bali sangat luar biasa dalam membantu sesamanya terbukti sumbangan masyarakat terus mengalir. Ini kepedulian yang harus terus dibangkitkan tetapi jangan dikotori oleh hal-hal lain yang merusak nilai keikhlasan dalam menangani bencana ini. Dan akhirnya kita berdoa semoga saja “tanda-tanda gunung meletus” ini justru berkurang dan tak jadi meletus karena semuanya hanya kehendak Tuhan. Jangan pula menyebut Tuhan marah dan sebagainya, semua ini adalah untuk keseimbangan alam. Tuhan itu Maha Pengasih. (*)


Oleh : mpujayaprema | 25 September 2017 | Dibaca : 1006 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?