Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


568555

Pengunjung hari ini : 276
Total pengunjung : 125425

Hits hari ini : 408
Total Hits : 568555

Pengunjung Online: 4


Twitter
Baca posting

Menista Agama

Oleh : mpujayaprema | 09 Oktober 2017 | Dibaca : 1426 Pengunjung

LAGI terjadi kehebohan yang sumbernya adalah penistaan agama. Kali ini dilakukan oleh seorang pengacara yang cukup populer namun langkahnya sering kontroversial, Eggy Sudjana. Bukan saja satu agama yang dinistakannya, tetapi semua agama di luar agama yang dianutnya. Videonya viral di dunia maya dan memancing reaksi dari berbagai pihak. Sudah ada empat laporan ke polisi yang meminta agar kasus penistaan agama ini diusut secara hukum.

Usai sidang di Mahkamah Konstitusi yang mengadili uji materi Perppu Ormas, Eggy Sudjana menyebutkan semua agama di luar Islam bertentangan dengan Pancasila, khususnya sila pertama yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa. Kutipan ucapannya sebagai berikut: “... tidak ada ajaran agama selain Islam yang sesuai dengan Pancasila. Karena Kristen Trinitas, Hindu Trimurti. Buddha sepengetahuan saya tak punya konsep Tuhan.  Jadi ajaran agama selain Islam bertentangan dengan Pancasila....” dan seterusnya. Lalu ia mengambil kesimpulan: “... jika Perppu diterima dan berkekuatan hukum tetap, konsekwensinya ajaran selain Islam dibubarkan.”

Eggy Sudjana seorang muslim. Di awal-awal ucapannya yang menjurus penistaan itu ia menyampaikan kalimat “pengetahuan saya mungkin terbatas...” Kalau sudah mengakui pengetahuannya terbatas, kenapa berani melontarkan pernyataan seperti itu bahwa semua agama selain Islam bertentangan dengan sila pertama Pancasila? Orang-orang yang belajar perbandingan agama tak akan berani menuduh seperti itu. Semua perguruan tinggi agama diajarkan ilmu perbandingan agama bahkan di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) yang kini mulai berubah status menjadi Universitas Islam Negeri ada fakultas khusus yang membidangi studi perbandingan agama itu.

Eggy Sudjana jelas mau mengatakan bahwa dengan ajaran Trimurti berarti umat Hindu memuja banyak Tuhan, setidaknya tiga Tuhan: Brahma, Wisnu dan Siwa. Karena memuja banyak Tuhan maka itu bertentangan dengan sila pertama Pancasila yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa. Di sini jelas pengetahuan Eggy Sudjana memang terbatas karena ia tak paham apa yang disebut dewa dan apa yang disebut Tuhan. Bukan hanya tiga tetapi ratusan lagi dewa-dewa yang ada dalam ajaran Hindu bukanlah Tuhan. Dewa berasal dari kata “div” yang artinya sinar. Yang dimaksudkan adalah “div” atau “deva” adalah sinar suci dari Tuhan itu sendiri. Umat Hindu bisa memuja Tuhan lewat sinar suciNya yang sesuai dengan keinginan umat. Analognya adalah Tuhan itu sebagai matahari. Sinar matahari punya berbagai zat yang bisa dimanfaatkan oleh umat tergantung kebutuhan. Sementara matahari itu tetap saja satu.

Sudah barang tentu Eggy Sudjana tak pernah membaca sloka-sloka Weda karena di berbagai sloka Weda ajaran bahwa Tuhan itu satu sudah gamblang disebutkan. Sloka Yajurweda XVII.27 menyebutkan Yo devanam namadha eka eva. Artinya: “Tuhan adalah satu dan Dia dinamakan dengan nama yang berbedabeda.” Di semua agama hal itu ada, termasuk di dalam agama Islam sekali pun.

Kemudian Atharvaweda XIII.3.7 menyebutkan: Yad ekam jyotir bahudha vibhati. Terjemahan bebasnya: “Ada satu Tuhan yang agung bercahaya. Dia bersinar dalam bentuk yang berbeda-beda.” Yang paling banyak dikutip dan sangat singkat adalah Atharvaweda XIII.4.20 yang berbunyi: Sa esa eka ekavrd eka eva. Terjemahannya: “Tuhan adalah satu dan hanya tunggal.” Masih banyak lagi sloka-sloka yang bertebaran dalam kitab suci umat Hindu yang menunjukkan keesaan Tuhan.

Dalam sejarah perjalanan bangsa ini agama Hindu memang seringkali mengalami “penistaan” namun jarang ada yang mempersoalkan. Misalnya, umat Hindu sering disebut menyembah patung. Agama Hindu disebut agama bumi, artinya agama buatan manusia dan bukan bersumber dari wahyu Tuhan. Agama Hindu dekat dengan takhyul karena percaya pada hal-hal gaib. Dan banyak lagi tuduhan yang menjurus kepada penistaan agama.

Saat-saat itu umat Hindu juga gamang untuk menjelaskan penistaan ini karena untuk membantahnya kita kesulitan referensi akibat tidak banyaknya terjemahan Weda. Ketika sekarang kitab Weda banyak diterjemahkan dan bahkan tafsir Weda begitu banyak dibukukan kita menjadi terbuka dan siap untuk membela agama Hindu dari pelecehan. Selain itu umat non-Hindu pun ikut juga “mempelajari Hindu” dalam kaitan studi perbandingan agama sehingga tuduhan miring itu sudah semakin kecil volumenya. Meski di sana sini masih ada riaknya, seperti yang disampaikan Eggy Sudjana itu.

Sesungguhnya dalam etika pergaulan di masyarakat majemuk seperti Indonesia ini kita jangan memperbandingkan ajaran agama yang menyangkut akidah atau ajaran inti agama itu. Kita tak bisa berdebat antar-ajaran agama karena perdebatan itu selain tidak mutu tidak akan ketemu. Sudah kita sepakati sejak dulu bahwa dialog antar-agama tidak mempersoalkan hal-hal prinsip tentang ajaran agama. Tetapi yang didialogkan adalah masalah-masalah sosial di masyarakat. Sepanjang agama itu ajarannya tidak bersinggungan secara phisik yang membuat onar di masyarakat, tak ada gunanya untuk direcoki. Kalau ada pembunuhan, perampokan, atau keonaran lain dengan dalih ajaran agama, itu yang perlu kita dialogkan untuk dicarikan jalan keluarnya. Tetapi bagaimana kita berdoa dan memuja Tuhan sesuai dengan ajaran agama masing-masing tak perlu dipersoalkan. Dengan kata lain, janganlah kita memberi komentar terhadap ajaran agama lain yang menyangkut akidah dan ritual. Sudah banyak korban soal ini, misalnya, yang menimpa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang bersedia dihukum 2 tahun penjara karena “mengomentari secara keliru ajaran agama lain”. Apakah Eggy mengikuti Ahok?

Bahwa umat Islam, misalnya, ada yang bertanya-tanya kenapa umat Hindu seolah-olah memuja banyak Tuhan, kenapa umat Hindu seolah-olah memuja patung, ya, biarkan pertanyaan itu disimpan sendiri. Karena mereka tak mempelajari konsep Hindu. Pertanyaan sejenis juga ada di umat lain. Misalnya, umat Hindu bertanya-tanya pula kenapa ritual haji umat Islam ada melempar jumroh sebagai wujud setan, kenapa pula mencium batu hitam di Masjid Haram Mekah. Ya, disimpan saja pertanyaan itu karena kita sebagai umat Hindu tak mempelajari konsep Islam.

Mari kita berlaku sebagaimana yang diajarkan semua agama, hormati agama orang lain agar orang lain itu menghormati agama kita. Agamaku adalah agamaku, agamamu adalah agamamu. Untuk apa kita sibuk mengurusi keyakinan orang lain sepanjang tak berdampak negatif pada kehidupan sosial di masyarakat. (*)


Oleh : mpujayaprema | 09 Oktober 2017 | Dibaca : 1426 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?