Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


502793

Pengunjung hari ini : 90
Total pengunjung : 107922

Hits hari ini : 1048
Total Hits : 502793

Pengunjung Online: 11


Twitter
Baca posting

Ganesha Sebagai Simbol Kekinian

Oleh : mpujayaprema | 23 September 2017 | Dibaca : 810 Pengunjung

SEMUA ornamen dalam agama Hindu mengandung simbol. Apakah itu sesajen, bangunan suci, termasuk patung-patung, baik yang sakral berupa perwujudan dewa mau pun yang tidak sakral. Dengan adanya simbol itu maka diharapkan para pemuja bisa menghayati dan kemudian mengambil makna simbol itu untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Yang jadi masalah apakah penghayatan itu sudah dipraktekkan dalam kekinian sehingga sesuai dengan apa yang disimbolkan?

Ganesha adalah salah satu “perwujudan dewa” yang penuh dengan simbol. Entah siapa yang merancang awalnya simbol ini. Yang jelas, Ganesha sebagai Dewa Kebijaksanaan banyak digunakan oleh orang untuk simbol sebuah lembaga dan tak hanya berkaitan dengan agama Hindu. Institut Teknologi Bandung adalah salah satu perguruan tinggi yang menggunakan simbol Ganesha. Sedangkan nama Ganesha dipakai oleh Universitas Pendidikan Ganesha di Singaraja. Mungkin yang diharapkan dari simbol ini adalah orang-orang yang berilmu harus bijak menggunakan ilmunya, jangan sampai ilmu itu digunakan untuk hal-hal yang buruk.

Umat Hindu di Bali kini sedang menggandrungi Ganesha. Hampir setiap rumah ada Ganesha. Bahkan lebih dari sebuah, misalnya, ada di pekarangan, ada di angkul-angkul, ada di merajan, ada di ruang kerja. Tentu besar kecilnya menyesuaikan. Apakah simbol-simbol dalam wujud Ganesha itu mewarnai pemilik rumah?

Ganesha sebagai putra Dewa Siwa berkepala seekor gajah. Ini simbol kekuatan. Kuat dalam mengemban kebijaksanaan. Kepala yang besar itu bukan berarti “besar kepala” yang lebih banyak diartikan sombong. Tetapi hendaknya akal lebih diutamakan dari kekuatan phisik dalam memecahkan masalah.

Telinga Ganesha besar adalah simbol dari harus lebih banyak mendengar. Lihat pula mulutnya yang kecil. Jadi, orang bijaksana itu harus lebih banyak mendengarkan orang lain dan gunakan kata-kata yang secukupnya untuk memberikan pencerahan. Janganlah banyak mengumbar kata-kata yang jorok. Kendalikan mulut karena ungkapan moderen menyebutkan “mulutmu harimaumu”. Jangan pula suka mengumbar janji yang tak mungkin bisa ditepati, karena semuanya itu bukanlah ciri orang-orang bijak. Bukankah saat ini orang lebih banyak koar-koar dan jarang mendengarkan pendapat orang lain? Dan banyak juga yang mengumbar janji-janji sorga? Jangan-jangan simbol Ganesha itu sudah tak dihayati dengan benar.

Mata Ganesha itu sipit, tidak membelalak sebagaimana patung-patung yang berfungsi menjaga alam. Ini adalah simbol konsentrasi yang kuat. Cobalah kalau kita berdoa dengan mata yang membelalak dan mata yang dipejamkan. Pasti lebih konsentrasi ketika mata dipejamkan. Minimal setengah tertutup. Apakah orang-orang sekarang ini sudah mengerjakan sesuatu dengan penuh konsentrasi? Konsentrasi diperlukan karena ini memperbaiki daya nalar kita dan juga membuat keputusan yang diambil pikiran jadi lebih jernih.

Ganesha bertangan empat, seperti banyak patung perwujudan dewa dewi lainnya, misalnya, Dewi Saraswati dan Dewi Laksmi. Tentu dimaksudkan agar simbol-simbol yang dikatakannya bisa lebih banyak lagi. Tangan Ganesha di bagian belakang membawa kapak, juga ada cemeti. Ini simbol yang menyertai kekuatan sebagai pemegang kebijaksanaan itu. Kekuatan itu bisa menumpas hal-hal yang buruk dan membahayakan jika memang diperlukan. Namun sebelum melakukan perlawanan untuk melindungi kebijakan, dua tangan Ganesha yang di depan membawa kebaikan. Tangan kanan menyiratkan kedamaian dan memberikan anugerah kepada siapa pun, tangan kiri membawa semangkuk manisan susu. Kebaikan dan rasa sayang harus diutamakan lebih dulu. Kasih sayang harus mendapat prioritas.

Apakah pemuja Ganesha dan orang-orang yang gemar memasang patung Ganesha sudah mengetahui simbol-simbol itu dan mau menghayatinya? Kalau saja itu yang terjadi maka dunia ini menjadi sangat aman dengan catatan penghayatan itu dipraktekkan di masyarakat.Tetapi begitulah umumnya kita memajang patung, lebih kepada bentuk “pelengkap ritual”. Ditaruh di merajan dan diberikan sesajen setiap saat. Bendera Ganesha dikibar-kibarkan saat “mecaru Rsi Gana” supaya Ganapati (sebutan lain Ganesha di Bali) menolong umat yang sedang “membersihkan lingkungan”. Jika kita tetap membenci dan mementingkan diri sendiri, tak mau mendengar dan menolong orang lain, jangan-jangan kita belum layak menaruh patung Ganesha di rumah. (*)


Oleh : mpujayaprema | 23 September 2017 | Dibaca : 810 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?