Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


502769

Pengunjung hari ini : 90
Total pengunjung : 107922

Hits hari ini : 1024
Total Hits : 502769

Pengunjung Online: 12


Twitter
Baca posting

Gunung Agung Kawasan Suci

Oleh : mpujayaprema | 30 September 2017 | Dibaca : 901 Pengunjung

DALAM ajaran Hindu gunung adalah kawasan suci. Gunung menjadi hulu atau pusat dari segala kehidupan. Gunung adalah pusat mata air yang mengalirkan kehidupan untuk masyarakat. Air mengalir lewat sungai dan bagian yang tidak dimanfaatkan masyarakat terus mengalir ke laut. Dan di laut air dari berbagai gunung bercampur jadi satu, maka laut pun kembali menjadi kawasan suci. Karena itu umat Hindu dalam segala ritualnya menyandingkan samudra dengan gunung. Di masyarakat Bali dikenal dengan sebutan “nyegara gunung”.

Karena gunung adalah kawasan suci maka di gunung selalu ada pura untuk tempat umat Hindu mewujudkan bhakti sucinya kepada Tuhan. Termasuk di Gunung Agung, gunung berapi yang kini sedang aktif, yang menurut para ahli vulkanologi ada tanda-tanda akan meletus. Jika pun benar Gunung Agung meletus itu sudah kehendak alam untuk menyeimbangkan semesta. Bukan berarti kawasan suci ini justru membuat petaka.

Gunung Agung sebagai gunung berapi memiliki mitos yang berkaitan dengan gunung-gunung besar di tempat lain yang semuanya merupakan gunung berapi. Syahdan menurut mitos ini, dahulu kala Pulau Bali dan Lombok masih begitu labil di samudra yang luas. Pulau Jawa sudah stabil karena Hyang Pasupati sudah menancapkan bungkahan Gunung Mahameru yang dibawa dari India. Bungkahan Mahameru yang di Jawa diberi nama Gunung Semeru itu ternyata hanya menstabilkan Pulau Jawa saja, tidak pulau sekitarnya seperti Bali. Maka Hyang Pasupati kembali memotong Gunung Semeru untuk ditancapkan di Bali dan Lombok. Kedua pulau kecil itu pun jadi stabil. Di Bali gunung itu dinamai Gunung Agung dan di Lombok dinamai Gunung Rinjani. Di era moderen mitos ini sebaiknya dilihat dari keberadaan gunung-gunung berapi yang saling berhubungan.

Kesucian gunung tak tergantung pada apakah gunung itu aktif sebagai gunung api atau tidak. Dalam konsep Hindu semua gunung adalah suci. Selalu terdapat pura sebagai sarana umat untuk mensucikan gunung itu. Di Bali, misalnya, di lereng Gunung Agung ada Pura Besakih yang besar sebagai pusatnya pura di Bali. Ada banyak lagi yang bertebaran di berbagai sisi lerengnya.Di lereng Gunung Batukaru ada Pura LuhurBatukarudan banyak lagi pura lebih kecil; di sisi yang lain. Bahkan di puncak Gunung Batukaru ada pura sederhana karena gunung ini bukan gunung api sehingga tidak memiliki kawah. Di Gunung Lempuyang ada Pura Lempuyang Luhur, Lempuyang Madya dan banyak lagi lainnya. Demikian pula di Gunung Andakasa dan Gunung Batur. Gunung di Jawa pundikitari tempat suci seperti Gunung Semeru, Gunung Lawu, Gunung Salak. Di Indiapegunungan Himalaya dengan puncaknya Gunung Kailasa jelas-jelas disebutkan sebagai kediaman Dewa Siwa dan saktinya Dewi Parwati.

Jadi gunung sebagai lambang kesucian sekaligus kesuburan dalam kepercayaan umat Hindu diaktualisasikan dalam berbagai cara sebagai wujud bhakti dan ritual. Sarana upacara yadnya di Bali selalu ada simbol gunung seperti gebogan, dangsil, tumpeng dan lainnya. Di Jawa malah dipertahankan apa yang disebut gunungan dalam ritual tradisional padahal masyarakat sudah beragama lain dan bukan lagi Hindu. Filsafat gunungan itu tetap dipelihara sebagai simbol kesuburan.

Di Bali selain dijadikan sarana dalam unsur banten, penjor yang dipakai dalam menyambut Hari Raya Galungan juga menyiratkan simbol gunung sebagai kesuburan. Penjor Galungan memakai hiasan dari daun janur atau enau, bukan memakai kain. Lalu ada gantungan buah-buahan, umbi-umbian, baik yang belum diolah mau pun yang sudah diolah sebagai jajanan.Itulah simbol kemakmuran.

Nah, kini Gunung Agung sedang bermasalah. Seandainya jadi meletus, apakah Hyang Mahadewa yang sejatinya adalah Siwa, sedang marah kepada umatnya? Tidak demikian cara memandangnya. Tuhan itu maha pengasih, maha pengampun, bukan maha pemarah. Yang terjadi adalah alam semesta sedang melangsungkan upaya penyeimbangan. Ambil hikmah baiknya. Muntahan material yang dikucurkan bisa menjadi modal berharga kelak. Umat diingatkan untuk bersatu dalam menghadapi berbagai masalah, terbukti gotong royong membantu umat yang berpindah tempat untuk sementara (sebutan lain dari mengungsi) sangat luar biasa. Tentu tidak lupa untuk berdoa, kalau memang meletus, jangan terlalu lama dan ringan saja. Doa yang utama tentu tidak jadi meletus, cukup keseimbangan itu diolah di bawah kawah, bukan dimuntahkan. (*)


Oleh : mpujayaprema | 30 September 2017 | Dibaca : 901 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?