Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


502790

Pengunjung hari ini : 90
Total pengunjung : 107922

Hits hari ini : 1045
Total Hits : 502790

Pengunjung Online: 11


Twitter
Baca posting

Menolong Tanpa Imbalan

Oleh : mpujayaprema | 07 Oktober 2017 | Dibaca : 663 Pengunjung

GUNUNG Agung yang kawahnya mulai bergelora sebagai gunung berapi, memberi banyak pelajaran buat kita. Salah satunya adalah rasa kesetia-kawanan kita sebagai warga Bali, tanpa memandang asal-usul dan status sosial, yang diwujudkan dengan memberikan bantuan kepada warga yang tinggal di kawasan rawan bencana. Bantuan itu seperti mengurusi kemudahan untuk mengungsi, memberikan tempat penampungan meski pun pemerintah sudah tanggap dan menolongnya dengan memberikan bantuan makanan.

Gerakan spontan ini tak ada yang memberikan komando. Langsung orang-orang terketuk hatinya untuk membantu. Suatu hal yang membanggakan. Namun apakah selamanya bantuan itu spontan dan apakah selamanya naluri menolong itu tanpa ada pamerih atau imbalan? Semoga saja tetap seperti itu, menolong orang tanpa merasa perlu mendapatkan imbalan, termasuk imbalan kepopuleran.

Gelagat ke arah “menolong dengan pamrih” itu memang mulai terlihat. Ada kelompok-kelompok yang memberikan bantuan ke pengungsi lalu foto dokumentasinya diunggah ke media sosial. Bahkan dimuat media masa yang tentu saja menyertai kunjungan dalam memberikan bantuan itu. Sebenarnya ini tak apa-apa sepanjang hal itu wajar saja. Berlebihan kalau setiap kegiatan langsung mereka publikasikan dan berhari-hari seperti itu. Berbeda kalau misalnya pihak ketiga yang mengumumkan hal itu sebagai pertanggung-jawaban telah menerima bantuan.

Memberi bantuan adalah salah satu wujud bhakti kita kepada Tuhan. Ada konsep dalam ajaran Hindu, menolong kaum papa dan orang sakit adalah cara kita melakukan bhakti kepada Tuhan selain bhakti lain berupa memujaNYA. Semua bhakti ini seharusnya tidak didasari pertimbangan untuk mendapatkan imbalan. Harus dihilangkan nafsu untuk mendapatkan pamrih dari cara bhakti seperti itu. Dalam bahasa sekarang janganlah melakukan pencitraan dengan jalan membantu orang lain.

Kalau hal-hal seperti ini biasa kita lakukan maka bhakti kepada Tuhan pun akan selalu mengharapkan imbalan. Misalnya, dalam setiap persembahyangan berdoa untuk minta rejeki yang melimpah, minta kesehatan dan umur panjang, minta agar terpilih sebagai bupati atau gubernur. Maka ketika permintaan itu tak pernah terwujud, maka doa dan persembahyangan dianggap gagal. Padahal bagaimana mungkin ada rejeki yang melimpah kalau tidak bekerja keras. Bagaimana terpilih sebagai bupati atau gubernur kalau rekam jejaknya selama ini buruk, memberi sumbangan hanya dengan harapan dapat imbalan suara. Beribu kali pun kita berdoa kepada Tuhan dengan meminta macam-macam tetapi usaha kita tak sejalan maka kita akan gagal.

Bhakti kepada Tuhan adalah cinta kasih yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Cinta kasih itu harusmurni, tanpa menonjolkan keegoan kita.Cinta kasih seperti ini akan tumbuh apabila kitamulai mengatasi kepicikan, rasa keakuan serta kesombongan dalam diri dan mampu mengidentifikasikan diri dengan semua makhluk ciptaan Tuhan.Pelajaran di masyarakat adalah menolong orang dengan betul-betul didasari cinta kasih, bukan hal-hal lain.

Bhakti, kepada Tuhan mau pun kepada sesama manusia yang adalah ciptaan Tuhan,bukanlah sesuatu yang digembar-gemborkan, namun menyatu sebagaiprinsip yang selalu menjiwai diri. Bhakti dancinta kasih seharusnya menjadiharta yang tertinggi yang dimiliki oleh semuamanusia. Harta inilah yang memungkinkan seseorang hidup dengan damai dan bahagia di dunia.

Dari bhakti dan cinta kasih akan melahirkan sifat-sifat welas asih, berempati padapenderitaan sesama umat manusia, tanpa memandang dari mana mereka, dari mana asalnya. Cinta kasih adalah perwujudan darirasa persaudaraan serta solidaritas yang tinggi untukkebersamaan dan kesetaraan diantara sesama umat manusia. Istilah dalam Hindu disebut Vasudeva kutum bhakam.

Marikita pupuk cinta kasih sebagai nafas dalam kehidupan, mulailah hari-hariini kita semi rasacinta kasih, lakonilah hidupkita dengan sepenuhnya berlandaskan cinta kasih dan akhiripulahidupkita nantidengan cinta kasih, karena cinta kasih adalah jalan menuju penyatuan dengan Tuhan.

Mari kita betul-betul berbhakti ke hadapan Tuhan dengan rasa syukur bukan sebagai seorang pengemis yang selalu minta ini dan minta itu. Dengan memanjatkan syukur itu Tuhan tentu melimpahkan anugrahnya sesuai dengan amal yang kita perbuat. Begitu pula menolong orang, ikhlas dan tulus harus diutamakan, lalu bersyukurlah bahwa dalam hidup ini bisa menolong orang sebagai cara bhakti paling mudah kepada Tuhan. (*)


Oleh : mpujayaprema | 07 Oktober 2017 | Dibaca : 663 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?