Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


568688

Pengunjung hari ini : 285
Total pengunjung : 125434

Hits hari ini : 541
Total Hits : 568688

Pengunjung Online: 5


Twitter
Baca posting

30 September

Oleh : mpujayaprema | 30 September 2017 | Dibaca : 1270 Pengunjung

Apakah Anda sudah menonton film Penghianatan G-30-S/PKI semalam? Atau sudah menonton di halaman kantor resort militer dengan suguhan kopi? Atau baru menonton hari ini, pas 30 September? Cobalah berbagi, kesan apa yang didapat.

Di era Orde Baru film ini wajib diputar di TVRI. Perlu waktu 2 hari memutarnya. Yang diputar pada 30 September berjudul Penghinatan G-30-S/PKI. Hari itu pun diresmikan sebagai Hari Berkabung Nasional. Rakyat wajib memasang bendera setengah tiang di depan rumah. Kantor pemerintah tak ada yang berani absen memasang bendera setengah tiang ini, bisa-bisa dicap “antek PKI”.

Esoknya pada 1 Oktober diresmikan sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Bendera merah putih berkibar penuh. Dan malamya TVRI memutar film lanjutan yang diberi judul Penumpasan G-30-S/PKI. Tak ada pilihan bagi orang desa, kalau mau menyalakan televisi, ya harus menonton film ini. Televisi swasta belum masuk desa saat itu.

Orde Baru tumbang, 1998, film ini tak lagi diputar wajib. Kini setelah 19 tahun ada prakarsa dari Panglima TNI Jenderal Gatot untuk nonton bareng film Orde Baru itu. Alasannya agar generasi muda tahu sejarah bangsanya.

Anak yang lahir pasca tumbangnya Orde Baru, sekarang masih duduk di SMA. Apa bisa belajar sejarah hanya dari film ini? Jangan-jangan seperti yang dikatakan seorang guru, kesan sang anak adalah film ini bercerita tentang pembunuhan para jenderal yang dilakukan oleh bawahannya. Tentara yang pangkatnya rendah membunuh tentara yang pangkatnya tinggi. Mereka sulit menyimak latar belakang “perseteruan tentara” itu karena bekal ceritanya kurang.

Kalau anak SMA saja menyebut film ini “perseteruan tentara” bagaimana dengan anak-anak yang masih SD dan SMP? Karena itu bijaksana sekali keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang melarang anak-anak SD dan SMP menonton film G-30-S. Alih-alih mau belajar sejarah bangsa, mereka bisa bingung kenapa tentara bisa saling bunuh.

Kesan yang ditangkap memang tidak akan sama. Film ini tentu mau menunjukkan bagaimana kejamnya PKI. Namun kesan itu belum tentu sampai. Bisa jadi film ini hanya mengingatkan hal-hal yang berkaitan dengan G-30-S itu. Seperti yang dirasakan sebagian orang Bali, film hanya mengingatkan terbunuhnya ratusan ribu orang Bali yang disangkutkan dengan PKI. Mati mengenaskan tanpa diusut apa betul PKI, tanpa pengadilan. Ini trauma sejarah dan film hanya mengingatkan tragedi itu. Mungkin karena konflik PKI dan non-PKI seperti yang terjadi di Jawa, tak tercatat besar di Bali. Orang hanya ingat “kekejaman’ PKI sebatas menyerobot hutan lindung, sesekali pesilat PKI berkelahi dengan pesilat PNI atau anak-anak IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia) yang disebut anak PKI saling ejek dengan anak-anak GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia) yang menyebut dirinya anak PNI. Tak ada sampai bunuh-membunuh ulama sebagaimana di Jawa. Pembunuhan itu justru terjadi setelah 30 September.

Nonton bareng Penghianatan G-30-S/PKI seharusnya dibekali dengan pengetahuan cukup tentang situasi negeri sebelum 30 September 1965 – betapa pun tidak akuratnya catatan sejarah itu. Jika pengetahuan itu kurang ikuti ide Presiden Jokowi agar film itu diperbarui untuk generasi sekarang. Tapi apa itu pekerjaan mudah? Kenapa tidak dikesampingkan saja belajar sejarah dari film, yang mudah direkayasa baik karena pesanan politik maupun kepentingan artistik. Mari belajar sejarah dari buku yang lebih murah. Kalau ada debat dan kekeliruan mudah direvisi dengan menerbitkan buku baru lagi.

(Dimuat Koran Tempo Akhir Pekan 30 September 2017)


Oleh : mpujayaprema | 30 September 2017 | Dibaca : 1270 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?