Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


568618

Pengunjung hari ini : 282
Total pengunjung : 125431

Hits hari ini : 471
Total Hits : 568618

Pengunjung Online: 1


Twitter
Baca posting

Film Sejarah

Oleh : mpujayaprema | 23 September 2017 | Dibaca : 1382 Pengunjung

BAGAIMANA memahami judul tulisan ini? Saya yang menulis saja masih ragu apakah ada film sejarah. Kalau ada film sejarah – apakah itu perang, bencana dan lainnya – sudah pasti disebut film dokumenter. Kamera merekam kejadian sesungguhnya dan sebagai film ada peluang juga dibelokkan pesannya. Tergantung untuk tujuan apa film dokumenter itu selain sebagai arsip.

Kalau ada sisipan kata “berlatar-belakang” di antara kata film dan sejarah, saya paham. Banyak film jenis ini. Sebutlah contoh film Titanic yang bercerita soal tenggelamnya kapal pesiar mewah RMS Titanic pada 15 April 1912. Kapal yang berlayar dari Southampton, Inggris, menuju New York, Amerika Serikat ini menabrak gunung es di Samudra Atlantik. Bencana maritim terbesar sepanjang abad 20 yang menewaskan 1.514 orang itu tentu menarik dijadikan film.  Tapi bukan film sejarah, karena tak ada kamera yang merekam malapetaka itu. Maka dibuat drama percintaan antara Jack yang mewakili kaum rendah dengan Rose yang mewakili kaum bangsawan. Percintaan atau tepatnya perselingkuhan dua manusia beda kasta ini seolah-olah ada di kapal Titanic yang membuat film jadi seru.

Film Janur Kuning dan Serangan Fajar disebut-sebut sebagai film sejarah. Keduanya berkisah sekitar Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogya. Janur Kuning, 1979, dengan sutradara Alam Surawijaya menekankan peran Soeharto di balik serangan itu. Ada pun Serangan Fajar, 1981, sutradara Arifin C Noer menonjolkan Soeharto sebagai pahlawan revolusi Indonesia. Kedua film pesanan ini tetap saja tak akurat dari sudut kesejarahan. Bukan saja menyangkut peran tokoh, juga artistik yang mengada-ada. Bahkan Arifin membuat duatokoh khayalan, Temon, anak kecil yang kehilangan ayahnya dan Romo seorang bangsawan pejuang yang istrinya sibuk dengan pria biasa. Adanya sisipan inilah membuat “film sejarah” itu mendapat penghargaan di festival-festival.

Apakah film Pengkhianatan G30S PKI, 1984, yang pernah diputar wajib TVRI setiap tanggal 30 September dan esoknya –film itu berdurasi hampir 5 jam – tergolong film sejarah? Sulit menyebut begitu. Ini film pesanan dan alat propaganda penguasa Orde Baru.

Banyak adegan yang diada-adakan untuk kepentingan artistis mau pun dramatisasi. Aidit yang tidak merokok dibuat merokok dengan alasan kepulan asap bisa menunjukkan ketegangan. Nyanyian genjer-genjer disisipkan untuk membuat kontras. Penyiksaan para jendral dibuat dengan sangat keji, diiris silet segala – padahal dengan fakta jenazah dicemplungkan ke sumur tua sebenarnya sudah sangat keji. Rupanya kebiadaban itu dirasakan kurang.

Ketika Soeharto berkuasa tak ada yang berani menyebut film itu tidak pantas ditayangkan televisi meski pun dengan dalih tayangan televisi tidak membolehkan unsur kekerasan. Baru bulan September 1998, empat bulan setelah jatuhnya Soeharto, Menteri Penerangan Yunus Yosfiah memberhentikan  tayangan wajib di televisi dengan alasan film ini memanipulasi sejarah. Sebelumnya pimpinan TNI AU Saleh Basarah menghubungi Menteri Pendidikan Juwono Sudarsono, meminta tidak menayangkan film ini karena merusak citra TNI AU.

Kini Panglima TNI memerintahkan agar film G30S ditonton ulang. Alasannya mengingatkan generasi muda tentang sejarah bangsa. Tak ada yang salah menonton film, tapi betulkah ini film sejarah di mana generasi muda belajar sejarah bangsa?  “Bandul orde” bergerak. Film yang pernah disebut “memanipulasi sejarah” dan “alat propaganda Orde Baru” kini harus ditonton ramai-ramai. Ada apa dengan tentara kita?

(Dimuat Koran Tempo Akhir Pekan 23-24 September 2017)


Oleh : mpujayaprema | 23 September 2017 | Dibaca : 1382 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?