Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


568562

Pengunjung hari ini : 277
Total pengunjung : 125426

Hits hari ini : 415
Total Hits : 568562

Pengunjung Online: 4


Twitter
Baca posting

Lesu

Oleh : mpujayaprema | 07 Oktober 2017 | Dibaca : 1099 Pengunjung

TANPA perlu menjadi ahli ekonomi dan cukup menjadi “pengamat ndeso”, saya berkesimpulan tidak terjadi kelesuan daya beli masyarakat hanya karena melihat sepinya mal-mal di kota. Ada dua penyebab dalam pengamatan non-ilmiah saya. Pertama, orang beralih belanja dengan memencet-mencet hape atau dalam bahasa kerennya belanja online. Kedua, mal bukan lagi menjadi daya tarik untuk ngeceng – istilah anak muda masa lalu.

Ini contoh sebagai wong ndeso. Suatu kali saya membutuhkan tadah hujan mobil saya yang keluaran Eropa. Enam warung aksesoris saya datangi di Denpasar, tak ada yang menjual. Malah saya diejek: “Pakai mobil Jepang dong, aksesorisnya berlimpah, ada KW2 lagi.” Saya disarankan beli di Jawa.

Pas membawa mobil ke Jawa – tujuannya bukan membeli tadah hujan tapi hanya menjajal jalan tol mumpung tak punya kerjaan – sempat mampir di gerai aksesoris mobil di Kudus dan Tegal. Tak ada juga barang yang dicari, mungkin gerai yang saya singgahi hanya di jalan protokol. Ketika di Jakarta saya bisik-bisik pada teman supaya ditunjukkan di mana saya bisa mencari barang penting itu, saya malah dihina: “Semakin tua kok yang dipelihara bego. Pakai hape.” Teman ini lalu memberi kursus singkat.

Unduh aplikasi ini, pencet itu, ketik kata “tadah hujan mobil”, eh, muncul barang yang dicari. Bayar juga pencet hape, ketik nama bank, masukkan PIN, oke, tulis alamat pengiriman, barang siap dikirim. Ketika saya tiba di Denpasar barang itu sudah dua hari lalu tergeletak di rumah.

Itu sejarah saya berkenalan dengan belanja online. Selamat tinggal mal, selamat tinggal toko buku. Saya sering membeli buku karya saya sendiri karena ada yang membutuhkan buku itu dengan tandatangan saya – kebiasaan yang saya pikir tak penting. Di toko buku harganya Rp 75.000. Di online cuma Rp 45.000. Lo kok diobral? Bukan obral. Toko buku online tak perlu karyawan, tak perlu sewa ruang mal yang super mahal, mungkin pula – tapi katanya akan dikejar – tak bayar pajak. Sementara dari penerbit ke distributor komisinya 45 sampai 55 persen. Dengan memanfaatkan komisi itu toko buku online bisa menjual seolah-olah obral. Mengutip teman saya, “hanya orang bego yang kini membeli buku di mal”. Selain lebih mahal perlu biaya parkir dan sress kena macet.

Anda perlu pizza, sop ikan, martabak spesial – dengan telur tiga sampai lima – pencet saja hape. Makanan datang tanpa Anda perlu bersolek dan menghidupkan mobil. Dulu ada sindiran, menjadi istri orang Bali ribetnya bukan main, setiap hari membuat sesajen. “Kini tak lagi, ada hape,” kata anak perempuan saya. Ealah, sesajen pun bisa dipesan lewat online. Tak perlu beli alat-alat di pasar swalayan.

Lagi pula kenapa harus ke mal di kota, sementara ada pasar swalayan yang bertebaran di pedesaan? Lihatlah, di mana ada “indo” di dekat situ ada “alfa”. Mini market yang buka nonstop ini bukan saja memenuhi kebutuhan primer – selain numpang ke toilet untuk para pengelana – juga tempat ngeceng baru para belia. Di sana ada wifi gratis dan kita harus maklum saat ini, para remaja itu ngeceng-nya di media sosial, bukan lagi di mal.

Jadi, apakah daya beli masyarakat lesu? “Penelitian” saya menyebutkan tak ada kelesuan itu baik sebagai isu politik maupun isu ekonomi. Istilah Pak Jokowi, ini peralihan pembelian dari offline ke online. Dari berkunjung ke toko menjadi didatangi isi toko. Hanya istri saya yang suka bilang, “kok kita jarang berbelanja ya”, karena bagi dia berbelanja itu datang ke warung, menyerahkan uang kertas dan terima barang.

(Dimuat Koran Tempo Akhir Pekan 7-8 Oktober 2017)


Oleh : mpujayaprema | 07 Oktober 2017 | Dibaca : 1099 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?