Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


548151

Pengunjung hari ini : 19
Total pengunjung : 117968

Hits hari ini : 370
Total Hits : 548151

Pengunjung Online: 12


Twitter
Baca posting

Satu Hari Raya Hindu untuk Dunia

Oleh : mpujayaprema | 23 Oktober 2017 | Dibaca : 1009 Pengunjung

KENAPA tidak ada satu hari raya Hindu yang bisa dirayakan oleh umat Hindu seluruh dunia? Semua agama punya “hari kebesaran” yang dirayakan di berbagai negara yang berbeda, tetapi Hindu tak bisa dipersatukan untuk hari rayanya. Di setiap negara perayaannya berbeda-beda.

Pertanyaan itu muncul di media sosial setelah ada sedikit “ramai-ramai” berkaitan dengan Hari Raya Diwali atau yang juga disebut Deepavali. Sebelum mengulas pertanyaan di atas ada baiknya membicarakan dahulu kenapa ada berbagai pendapat sekitar Deepavali.

Ternyata masalah intinya bukan perayaan Deepavali itu, karena sudah bertahun-tahun dirayakan oleh sebagian umat Hindu. Yang dihebohkan adalah soal liburnya. Sekolah-sekolah di Bali termasuk kantoran libur pada hari Deepavali. Yang unik murid tak tahu kenapa hari itu libur karena tak ada kegiatan apa-apa. Katanya hari raya Hindu kok tak ada ritual apa pun, begitu pertanyaan orang.

Bisa jadi ini tergolong “salah paham” dalam menyikapi surat edaran yang sumbernya dari Dirjen Bimas Hindu Kementrian Agama. Surat Dirjen yang tembusannya kepada semua gubernur mengharapkan kebijaksanaan agar hari Deepavali dijadikan libur fakultatif untuk umat yang beragama Hindu. Surat ini oleh Gubernur Bali ditanggapi dengan positif dan meminta agar libur fakultatif itu diselenggarakan di Bali.

Nah, setelah banyak yang bertanya-tanya kenapa tumben libur, Dirjen Bimas Hindu Prof. Made Widnya menjelaskan (seperti dimuat koran Pos Bali 18 Oktober 2017) bahwa yang dimaksudkan libur fakultatif itu hanya untuk umat Hindu etnis India. Umat Hindu etnis Bali tidak usah ikutan libur karena sama sekali tak merayakannya. Lalu dijelaskan oleh Prof Widnya bagaimana asal-usul adanya surat edaran itu.

Awalnya adalah aktifis Hindu etnis India,  AS Kobalen, selaku Ketua Gema Sadhana, sayap politik Partai Gerindra, yang bersurat kepada PHDI Pusat agar umat Hindu di Indonesia diberi libur fakultatif di hari Deepavali. Surat itu oleh PHDI diteruskan ke Istana. Ternyata Istana menanggapi dengan baik, lalu diteruskan ke menteri teknis yakni Kementrian Agama. Menteri Agama kemudian meminta Direktorat Bimas Hindu membuatkan surat edaran memenuhi permintaan itu. Jadi yang dimaksudkan libur itu hanya umat Hindu etnis India, etnis lain tak perlu libur.

Namun ada pelajaran baik dari libur Deepavali yang pertamakali ini. Pemerintah merespon dengan baik permintaan dari majelis umat Hindu. Lalu umat Hindu pun mulai mengenal lebih banyak apa itu perayaan Deepavali, yang selama ini dilakukan besar-besaran di berbagai negara. Dan ujung-ujungnya adalah ada semacam keinginan, apakah tak mungkin ada satu hari raya untuk umat Hindu seluruh dunia. Seperti Natal untuk umat Kristiani, Idul Fitri untuk umat Islam, Waisak untuk umat Buddha, Imlek untuk umat Konghucu.

Nampaknya membuat satu hari raya Hindu yang bisa dirayakan bersama oleh umat Hindu seluruh dunia tanpa memandang etnis, sulit dilakukan. Karena ajaran Hindu memperbolehkan untuk menyerap budaya lokal di mana agama itu berkembang. Termasuk membuat sendiri hari rayanya dengan tujuan yang sama.

Deepavali adalah hari raya untuk kemenangan dharma yang dimeriahkan dengan pesta cahaya. Mitologi yang diambil adalah kembalinya Sri Rama bersama istrinya Sita dan adiknya Laksamana ke Ayodya setelah menempuh berbagai rintangan selama pembuangan termasuk mengalahkan Rahwana sebagai simbul dari adharma. Jadi inti yang diperingati itu adalah pesta kemenangan untuk sebuah kebenaran melawan kebatilan.

Umat Hindu di Nusantara juga merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Di Jawa mitologi yang dipakai adalah kisah-kisah di masa Majapahit dan saat berkembang di Bali mitologi yang diambil legenda Mayadenawa. Itulah perayaan Galungan yang semasa populer di Jawa disebut Dungulan. Galungan dan Dungulan berarti kemenangan. Di Bali kemudian kata Dungulan dijadikan nama wuku.

Karena ajaran Hindu menyerap budaya lokal maka hari raya keagamaannya memakai perhitungan lokal. Umat Hindu etnis Jawa dan Bali (yang memang  keturunannya dianggap satu) memakai perhitungan wariga berdasarkan wewaran. Satu bulan umurnya 35 hari dan oleh orang Bali sering disebut “bulan Bali”. Kecuali Nyepi yang merupakan pergantian tahun Saka, semua hari raya Hindu memakai wariga. Di sinilah menyebabkan perbedaan besar itu sehingga tak mungkin ada hari raya agama Hindu yang bisa berlaku seluruh dunia.

Bagaimana dengan Nyepi? Meski Nyepi memakai perhitungan peredaran bulan yang sama dengan hari raya Hindu di India atau negara lain, kalender Saka yang dipakai Bali ada yang disebut “penampih sasih”, artinya ada bulan yang dobel pada siklus 3 atau 4 tahun sekali. Tujuan dari “penampih sasih” ini adalah agar nama sasih selalu sinkron dengan musim mengingat di mana lalu leluhur orang Bali itu sebagian besar petani yang berpedoman pada musim. Seperti diketahui, kalender Saka memakai perhitungan peredaran bulan sementara musim berpatokan pada matahari yang dipakai pedoman kalender Masehi. Kalender yang memakai peredaran bulan, seperti kalender Hijrah yang dipakai umat Islam, selalu maju setiap tahun jika dipadankan dengan kalender Masehi. Itu yang membuat semua hari raya Islam maju 14 hari setiap tahunnya. Lebaran terus berganti jika diukur dari nama bulan tahun Masehi.

Di Bali para leluhur kita tak mau seperti itu. Nama sasih harus selalu mengikuti musim. Sasih Kasa mulai dingin yang puncaknya Sasih Karo. Itu musim buah-buahan seperti panen kopi. Sasih Kapat mulai panas dan hujan saatnya mulai siap-siap ke sawah. Juga banyak upacara persembahyangan karena bunga lagi mekar-mekarnya. Sasih Kepitu dan Kawulu mulai panen padi lalu angin kencang dan main layangan. Banyak lagi yang dikaitkan dengan musim sampai pada hal-hal di luar musim. Misalnya disebut Sasih Kesanga anjing mulai binal. Kalau tidak ada “penampih sasih” maka nama sasih bisa berubah terus sehingga tak lagi sinkron dengan musim. Nyepi bisa jadi tak selalu di bulan Maret akhir atau awal April, bisa saja Nyepi jadi bulan Desember dan lainnya.

Perbedaan ini membuat sulit membuat satu hari raya Hindu yang bisa dipakai seluruh umat Hindu dunia. Apalagi yang bernama hari raya selalu dikaitkan dengan persembahyangan dan bukankah cara-cara bersembahyang umat Hindu juga menggunakan budaya lokal?  Tapi bisa saja dicoba dicari “hari baik” itu, meski pun berbeda juga terasa indah. Kita jadi saling mengenal. (*)


Oleh : mpujayaprema | 23 Oktober 2017 | Dibaca : 1009 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?