Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


548145

Pengunjung hari ini : 19
Total pengunjung : 117968

Hits hari ini : 364
Total Hits : 548145

Pengunjung Online: 12


Twitter
Baca posting

Sebulan Menunggu Erupsi Gunung Agung

Oleh : mpujayaprema | 30 Oktober 2017 | Dibaca : 943 Pengunjung

SUDAH sebulan lebih seminggu Gunung Agung berstatus awas. Sepanjang itu pulalah sejumlah orang mengungsi. Mula-mula sedikit lama-lama berjubel sampai ratusan ribu jumlah pengungsi. Status awas itu dicanangkan pada 22 September 2017 dengan prakiraan bahwa gunung akan meletus secepatnya, karena itu penduduk di Kawasan Rawan Bencana (KRB) harus diungsikan. Ada pula prakiraan bahwa letusan kali ini lebih cepat dari tahun 1963. Saat itu Gunung Agung mulai “batuk-batuk” pada pertengahan Januari 1963 dan erupsi baru terjadi 18 Februari 1963.

Manusia boleh memperkirakan apa pun, tetapi Tuhan yang menentukan. Sampai hari ini ternyata Gunung Agung belum arupsi. Artinya penantian saat awal diketahui gunung itu memuncak pergerakan magmanya sampai hari ini, tidak ada yang mencemaskan. Itu berarti penantian hari ini lebih panjang dari penantian tahun 1963.

Apakah Gunung Agung akan erupsi atau tidak setelah sebulan lebih berstatus awas? Sejatinya tak ada yang tahu pasti. Gempa sudah menurun dalam hitungan jumlah, namun pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih tetap menyematkan status awas. Justru dengan berkurangnya gempa itu maka tekanan penyumbat lebih cepat jebol dan gunung erupsi. Entahlah, karena segala ilmu yang dimiliki manusia tak ada artinya kalau Tuhan berkehendak “melawan ilmu” itu.

Ada kisah unik yang beredar di masyarakat. Kalau sampai Sugihan Bali itu Gunung Agung tidak meletus, maka gunung akan kembali normal sedikit demi sedikit. Sugihan Bali sudah lewat tiga hari yang lalu, lusa kita sudah merayakan Galungan. Tapi apa alasan memakai ukuran Sugihan Bali? Bagi yang percaya kisah ini berpegangan pada tahun 1963 bahwa Gunung Agung meletus saat Sugihan Bali. Ternyata itu tidak betul. Gunung Agung mulai meletus 18 Februari 1963 dan hari itu adalah Soma (Senin) Wuku Wariga. Pada saat Galungan 20 Maret 1963 Gunung Agung sedang hebat-hebatnya meletus.

Toh kabar ini yang intinya “gunung tak akan meletus karena sudah lewat Sugihan Bali” ada yang mempercayai. Mereka bertekad untuk pulang ke desanya yang sudah lama ditinggalkan untuk mempersiapkan Hari Raya Galungan. Bahkan keyakinan mereka itu sangat tebal disertai pandangan bahwa “Tuhan tak akan membuat bencana pada saat umatnya bersembahyang”. Kita harus hormati keyakinan itu yang berpandangan bahwa Tuhan atau Hyang Widhi tak akan mencelakaakan umat yang penuh sujud. Tapi bagaimana menjelaskan hal itu ketika fakta yang terjadi saat perayaan Galungan tahun 1963 justru banyak umat yang menjadi korban karena Gunung Agung meletus dengan hebat? Apakah kita harus pasrah lalu menyebut “hidup dan mati adalah kehendak Tuhan, masuk ke gedung batu pun kalau Tuhan menghendaki, kita bisa mati”.

Inilah dilema dari sebuah penantian dan menunggu hal-hal yang sesungguhnya tidak kita harapkan terjadi. Semua orang, bukan saja orang Bali tetapi juga orang-orang di seluruh dunia, berharap Gunung Agung tidak meletus. Tetapi banyak pula orang yang diam-diam “menghitung hari” kapan Gunung Agung meletus. Yang mereka tunggu sesungguhnya adalah kepastian, kalau meletus cepatlah, kalau tidak cepat pulalah. Tentu dengan harapan masing-masing. Kalau meletus cukup ringan saja, tak sekuat tahun 1963. Kalau tidak meletus segera ada penelitian dan kemudian pengumuman bahwa status gunung diturunkan dari awas ke waspada atau siaga.

Sulitnya adalah ilmu yang dimiliki manusia tak berarti apa-apa jika dihadapkan dengan “ilmu Tuhan”. Tuhan punya “ilmu” yang tak mudah ditebak oleh umat manusia. Dalam bahasa agama bisa disebut, misalnya, Tuhan ingin menguji kesabaran umat, Tuhan ingin menunjukkan jalan bagaimana umat harus menyikapi cobaan ini. Dan berbagai pandangan lain yang menunjukkan betapa Maha Kuasa Tuhan itu.

PVMBG adalah lembaga yang menetapkan kapan gunung api dalam status waspada, kapan berstatus siaga dan kapan berstatus awas. Penetapan itu berdasarkan rekaman dan pemantauan kawah dengan alat-alat yang canggih. Artinya penetapan yang mereka lakukan berdasarkan “ilmu manusia”. Hasilnya adalah meski pun gempa menurun jumlahnya, erupsi masih besar bisa terjadi. Justru dengan menurunnya gempa vulkanik ini maka penyumbat kawah lebih cepat jebol dan erupsi terjadi. Tanggungjawab mereka besar untuk menyelamatkan nyawa. Tahun 1963 Gunung Agung memakan korban 1.148 jiwa dan ketika Gunung Merapi erupsi di era serba canggih ini ternyata korban pun banyak karena tak percaya peringatan PVMBG.

Kalau sudah begitu mau bilang apa Bupati Karangasem Mas Sumantri yang menyebut pendapatan asli daerah lenyap sampai satu triliun rupiah? Mau berkata apa Gubernur Bali Made Mangku Pastika yang terus berharap agar status gunung diturunkan – kalau bisa? Bahkan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan juga gusar kenapa hal ini bisa terjadi. Para pejabat ini terus menggelar diskusi, tentu melibatkan PVMBG dan lembaga terkait seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). BNPB bahkan menghitung potensi kerugian dari aktivitas vulkanik Gunung Agung ini mencapai Rp 2 triliun.

Itu kerugian pemerintah dari potensi pemasukan yang hilang dari sektor pariwisata, galian C, perbankan dan lainnya. Tentu belum dihitung kerugian masyarakat Bali yang jauh dari Gunung Agung tetapi terkena dampak dari aktivitas gunung ini. Proyek pembangunan macet. Harga pasir naik dua kali lipat.

Ya, selama ini kita hanya bisa menunggu. Sudah sebulan lewat semoga penantian itu tak lama dengan harapan Gunung Agung statusnya diturunkan dari awas dan untuk seterusnya kembali normal. Selama kepastian itu tidak ada, marilah kita memuja leluhur dan Hyang Widhi di tempat yang aman pada Hari Raya Galungan. (*)


Oleh : mpujayaprema | 30 Oktober 2017 | Dibaca : 943 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?