Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


548148

Pengunjung hari ini : 19
Total pengunjung : 117968

Hits hari ini : 367
Total Hits : 548148

Pengunjung Online: 12


Twitter
Baca posting

Seimbangkan Sekala dan Niskala

Oleh : mpujayaprema | 14 Oktober 2017 | Dibaca : 1028 Pengunjung

SEBAGAI umat Hindu kita percaya pada alam sekala dan niskala. Sekala itu adalah sesuatu yang nampak terang benderang dilihat dengan mata, jelas suaranya terdengar dengan telinga bahkan siapa yang berbicara atau dari mana suara itu berasal. Orang menyebut logikanya dipergunakan.

Sedangkan alam niskala adalah sesuatu yang tidak berwujud tetapi kita yakin sesuatu itu ada. Ada bunyi yang kita rasakan tetapi tidak tahu dari mana bunyi itu datang dan siapa yang membunyikan. Bisa jadi bunyi itu hanya ilusi atau “suara hati” atau “suara-suara mistis”. Tak bisa dijelaskan dengan logika, tapi kita yakini ada. Termasuk dalam unsur niskala ini kita yakin permohonan lewat doa akan dikabulkan dan kita yakin akan mendapatkan anugerahNya lewat tirtha dan bija.

Antara sekala dan niskala harus seimbang. Tak bisa salah satu diabaikan keberadaannya. Kita tak bisa terus-menerus berdoa dan bersembahyang dengan harapan hidup kita tercukupi kesehariannya jika kita tak bekerja dengan keras mencari sumber kehidupan. Kita tak bisa memohon agar lulus ujian dengan berdoa saja tanpa diimbangi dengan belajar.

Sekarang banyak media masa yang memberitakan unsur-unsur niskala dalam kaitan aktifitas Gunung Agung sebagai gurung berapi. Pemberitaan itu juga diunggah di media sosial. Misalnya, ada disebutkan seorang pemangku (dalam berita itu disebut “pemuka Hindu”) yang mendapatkan pewisik untuk mencari tirtha di beberapa pura di Bali. Setelah tirtha itu diperoleh kemudian dipakai persembahyangan di Pura Besakih. Berdasarkan pewisik jika ritual itu dilakukan maka Gunung Agung tidak akan meletus. Dan “pemuka Hindu” itu yakin akan alam niskala itu.

Lalu ada contoh sebaliknya. Ada diberitakan seorang pendeta yang juga mendapatkan pewisik bahwa Gunung Agung tetap akan meletus, meski pun tidak sebesar tahun 1963. Yang menarik kedua “sumber berita” itu setelah ditanya wartawan dari mana pewisik itu datang, semuanya menjawab dari Tuhan. Entah benar keduanya menyebut kata Tuhan atau hanya salah tangkap penulis berita yang dari namanya bukan orang Bali, kita tak tahu. Tak ada penjelasan soal itu.

Kalau kita percaya penuh pada alam niskala tanpa memperbandingkannya dengan alam sekala yakni berupa pengamatan para ahli gunung api dengan peralatannya yang canggih, ini sangatlah berbahaya. Karena ini persoalan nasib nyawa manusia dan sangat “untung-untungan”. Jika Gunung Agung tak jadi meletus, yang menjadi harapan semua orang, maka pemangku yang disebut “pemuka Hindu” itu bisa disanjung. Tetapi bagaimana kalau ada masyarakat yang percaya penuh lalu tiba-tiba menjadi korban setelah terbukti pewisik itu salah. Karena itu pemerintah sepenuhnya berpegang pada faktor sekala, sementara faktor niskala sepanjang itu menyelenggarakan doa tentu sah-sah saja. Tapi jangan disertai anjuran bahwa keadaan aman karena gunung tak akan meletus.

Aparat yang bersentuhan dengan aktifitas Gunung Agung baik para ahli maupun pemerintah daerah tetap berpegang pada faktor sekala karena di sini logika keilmuan yang dipakai. Kasus banyaknya korban ketika Gunung Merapi meletus menjadi pelajaran berharga. Ketika banyak warga yakin Merapi tak akan erupsi, pemerintah kesulitan memaksa penduduk untuk mengungsi. Keyakinan sebagian warga itu karena ada tokoh spiritual Mbah Marijan yang menyebutkan Merapi tak akan erupsi. Atau kalau pun erupsi warga masih bisa diselamatkan dengan segera. Mbah Marijan yang justru menjadi “juru kunci” Merapi tak mau mengungsi.

Apa yang terjadi? Merapi meletus tiba-tiba. Lontaran material berupa pasir dan batu bisa dihindari oleh penduduk dengan cepat-cepat berlari. Tetapi ada awan panas yang kecepatannya luar biasa tak cukup untuk dihindari dengan berlari memakai mobil sekali pun. Dan kita tahu di sinilah korban terbanyak terpanggang awan panas, termasuk Mbah Marijan. Pengalaman yang sangat penting buat pengamanan warga di lereng gunung berapi yang aktif.

Persoalan lain, apakah benar pewisik itu dari Tuhan? Tentu mustahil. Sebagai umat Hindu kita mengenal bahwa Tuhan dan para dewa tak bisa memberikan pewisik. Yang bisa dan pewisik diterima oleh balian, dasaran, tapakan dan sebagainya adalah leluhur kita yang sudah menyatu dengan Tuhan (amor ring achintya), karena dulunya adalah manusia biasa. Leluhur itu disebut Bethara. Tuhan kalau turun ke dunia wujudnya adalah awatara dan itu sesuatu yang sangat langka. Mari kita lebih selektif dengan alam niskala dan selalu menyandingkannya dengan alam sekala. (*)


Oleh : mpujayaprema | 14 Oktober 2017 | Dibaca : 1028 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?