Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


548142

Pengunjung hari ini : 19
Total pengunjung : 117968

Hits hari ini : 361
Total Hits : 548142

Pengunjung Online: 12


Twitter
Baca posting

Bersembahyang Galungan di Pengungsian

Oleh : mpujayaprema | 21 Oktober 2017 | Dibaca : 952 Pengunjung

HARI Raya Galungan tak lama lagi. Minggu depan kita sudah mulai memasuki rangkaian hari raya itu diawali dengan Hari Sugihan. Sementara itu keadaan Gunung Agung masih tak menentu. Para ahli gunung api masih menyebutkan aktifitas di kawah gunung tetap tinggi sehingga status Gunung Agung masih awas. Artinya para pengungsi yang daerahnya berada dalam status rawan bencana tak bisa pulang ke rumah. Mereka masih tetap tinggal di pengungsian. Lalu bagaimana cara merayakan Galungan dengan segala rangkaiannya itu?

Hari Raya Galungan yang berlanjut sampai pada Hari Raya Kuningan adalah hari raya yang memuja para leluhur yang telah menyatu dengan Tuhan (amor ring Achintya). Hari kemenangan dharma melawan adharma ini rangkaian ritualnya amatlah panjang. Mulai dari penyucian alam semesta pada Sugihan Jawa, penyucian diri sendiri pada Sugihan Bali, lanjut melakukan brata (berbagai tantangan) dengan munculnya Sang Kala Tiga dan berakhir dengan keberhasilan mengalahkan Sang Kala Tiga itu dengan merayakan galungan, yang berarti kemenangan. Nah, bagaimana kita bisa melaksanakan ritual itu sebagaimana tradisi yang sudah ada padahal kita masih dalam pengungsian? Tinggal di bawah tenda atau di gedung terbuka dengan banyak orang yang bisa jadi berbeda keluarga dan bahkan berbeda leluhur.

Marilah kita melakukan ritual dengan cara yang sangat sederhana. Kalau bisa cari tempat yang lebih lapang untuk berkumpul bersama keluarga melakukan pemujaan dengan sarana yang ada, jika perlu cukup dengan canang sari saja. Kalau ada buah-buahan sedikit atau jajanan boleh saja disertakan. Ditambah sebatang dupa yang dinyalakan dan air untuk memohon kesucian (bisa dari air mineral dalam gelas), itu sudah cukup untuk memuja leluhur dan terus memuja Tuhan Sang Pencipta. Puspam (bunga),phalam (buah-buahan), toyam (air) ditambah dengan dipam (api dari dupa) sebagai saksi, sudah cukup untuk melakukan pemujaan itu. Yang penting adalah niat kita yang tulus ikhlas dan juga yang perlu diperhatikan pada saat apa kita melakukan pemujaan sederhana itu. Kalau pada hari Sugihan mohonlah kesucian lahir dan bathin. Kalau pada hari Galungan mohonlah keselamatan dan anugrah-Nya, tentu sembari menyebutkan dalam hati atau diucapkan kepada leluhur bahwa semua yang kita lakukan ini dalam segala keterbatasannya.

Memuja Tuhan itu mudah, jangan dibuat ruwet. Tuhan tidak berwujud, Beliau memenuhi seluruh alam semesta. Tuhan ada di mana-mana, tak ada satu tempat pun di bawah kolong langit ini yang tidak dihuni oleh Tuhan. Di bawah tenda pengungsian pun Tuhan pasti “muncul” kalau bhakta-Nya melakukan pemujaan. Bukankah kita tahu bahwa mantram Gayatri yang merupakan “ibu segala mantram” (mantram ini dijadikan awal dari Puja Trisandhya) diawali dengan  Om bhur bhwah swah. Itu artinya Tuhan yang memenuhi alam bawah atau jagat raya ini (bhur), yang memenuhi alam tengah (bhwah) , dan memenuhi alam atas atau angkasa (swah).

Begitu pula dengan sarana persembahyangan. Memuja Tuhan tak harus dengan sarana yang biasa kita gunakan dalam keadaan yang normal. Kalau kita tak bisa dan tak memungkinkan mempersembahkan hasil alam, kita mempersembahkan hati kita yang paling dalam. Begitu pula memberikan persembahan kepada leluhur, apa pun yang bisa diperoleh di tempat pengungsian bisa dihaturkan. Tak usah jauh-jauh mencarinya.

Persembahan yadnya ini ada pada tingkat kanista, tetapi bukan nista. Tak ada persembahan yang nista. Mengacu pada sloka dalam Bagawad Gita memang ada yang disebutkan persembahan yang kanista yaitu sudah cukup dengan mempersembahkan sekuntum bunga, sebiji buah, dan setangkai daun.

Pada Hari Raya Galungan itu sendiri di mana porsi memuja leluhur lebih dominan diteruskan memuja Tuhan dengan mendatangi pura-pura, maka bagi pengungsi yang jauh dari pura asal, baik itu pura desa maupun pura kawitan, sesungguhnya bisa mendatangi pura terdekat, Pura yang aman dari kawasan rawan bencana sebagaimana yang ditetapkan pemerintah. Pura umum itu misalnya pura jagatnatha, pura yang ada di pantai, di campuhan atau pura di mana umat bisa melakukan pengelukatan. Yang tidak disarankan adalah pura atau merajan milik keluarga kalau memang tak ada hubungan dengan keluarga pengemong merajan itu.

Jadi sama sekali tak ada halangan merayakan Galungan meski pun dalam status sebagai pengungsi. Ada ungkapan para tetua di masa lalu, tak ada “galungan buwung” maksudnya tak ada Galungan yang batal. Galungan bisa dirayakan dengan sangat sederhana dan di mana saja. (*)


Oleh : mpujayaprema | 21 Oktober 2017 | Dibaca : 952 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?