Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


548139

Pengunjung hari ini : 19
Total pengunjung : 117968

Hits hari ini : 358
Total Hits : 548139

Pengunjung Online: 12


Twitter
Baca posting

Menaklukkan Butha Galungan

Oleh : mpujayaprema | 28 Oktober 2017 | Dibaca : 717 Pengunjung

DALAM rentang waktu yang berdekatan ada dua hari raya Hindu yang dirayakan secara besar-besaran namun keduanya dalam budaya yang berbeda. Yang baru saja lewat adalah perayaan Deepavali, yakni pesta cahaya untuk menyambut hari kemenangan dengan dasar mitologi kisah Ramayana. Perayaan cahaya dengan lilin, lampion, obor dan segala yang bercahaya itu meriah di berbagai kota di dunia di mana umat Hindu berada, terutama tentu saja di India.

Sedangkan di Bali pekan depan kita merayakan hari raya Galungan, juga simbul dari kemenangan dharma melawan adharma. Dengan jelas bisa disebutkan bahwa kedua perayaan ini sama-sama merayakan kemenangan, namun yang satu dirayakan oleh etnis India dan yang satu lagi oleh etnis Bali dan Jawa.

Apakah kedua hari raya itu betul-betul maknanya sama sebagai hari kemenangan? Ada yang membedakan meski itu hanya sebagai penekanan untuk lebih memaknai kemenangan dharma. Pesta cahaya menyambut dan memeriahkan Deepavali betul-betul sebuah perayaan untuk kemenangan seorang tokoh yang dijadikan panutan dan menjadi inspirasi umat bagaimana tokoh itu berjuang melawan adharma. Inspirasi itulah yang diperingati dan senantiasa mau dihadirkan umat Hindu untuk teladan dalam meniti kehidupan. Sedangkan perayaan Galungan bukan sekadar hari kemenangan seorang tokoh, tetapi kemenangan diri kita sendiri melawan nafsu-nafsu buruk yang dilambangkan oleh munculnya adharma. Jadi sebelum merayakan Galungan kita sendiri yang berperang melawan adharma itu, kita harus aktif menaklukkan adharma itu baru kita merayakan Galungan. Di situ letak perbedaannya karena leluhur kita mau merangkai hari raya dengan jalan mempersiapkan diri kita dengan tantangan terlebih dahulu.

Adharma yang harus kita perangi sebelum kita sampai merayakan Galungan disimbolkan dengan bhuta kala. Bahkan bhuta kala itu dibagi dalam tiga katagori sehingga umat Hindu di Bali menyebutnya sebagai Sang Kala Tiga atau Sang Bhuta Tiga. Ketiganya ini harus kita taklukkan agar sampai pada tujuan merayakan Galungan sebagai hari kemenangan.

Siapa saja Sang Kala Tiga itu?Yang pertama adalah Sang Bhuta (Kala) Galungan. Bhuta ini dimunculkanpada Minggu (Redite) Pahing Wuku Dungulan. Hari itu adalah awal wuku Dungulan yang di Jawa disebut pula wuku Galungan. Bhuta atau Kala ini harus kita taklukkan dengan caramengendalikan diri dari segala nafsu-nafsu buruk. Pengendalian diri itu harus dilakukan dengan sangat ketat ibarat orang “nyekeb buah-buahan”. Nyekeb atau sekeb berarti menyembunyikan atau menutupi diri dari segala nafsu-nafsu jahat. Karena analoginya adalah “nyekeb buah-buahan” maka umat pun menyebut hari itu sebagau “hari penyekeban”.

Esoknya pada hari Senin (Soma) Pon dimunculkanSang Bhuta (Kala) Dungulan. Kita harus tetap tenang dan waspada jangan sampai tergoyah oleh nafsu jahat. Kita harus tetap bertahan pada posisi hari kemarinnya dan jika perlu melawan. Analoginya nafsu jahat itu kita kurung, kita ejuk atau tangkap agar tidak menggoda kita. Dengan analogi atau istilah ejuk (tangkap) ini maka umat pun menyebut hari itu sebagai “hari pengejukan”.

Bhuta yang ketiga atau terakhir dimunculkan pada hari Selasa (Anggara) Wage, diberi sebutanSang Bhuta (Kala) Amangkurat. Namanya saja yang terakhir tentu serangannya lebih ganas.Kalau kita lemah ketika diserang pada hari inilah seluruh kehidupan kita dikuasai oleh adharma yang dibawa Sang Kala Amangkurat itu. Karena itu kita taklukkan dengan kekerasan pula. Kita wajib menyembelih (nampah) nafsu-nafsu buruk ini. Dari analogi itu muncullah kemudian apa yang disebut“hari penampahan”. Maksudnya tentu semua nafsu hewani yang buruk itu kita sembelih. Nah, simbol ini langsung diterjemahkan umatsebagai nampah celeng (menyembelih babi).

Jika kita berhasil menaklukkan Bhuta Galungan dan kawan-kawannya ini sebagai pembawa simbol adharma barulah kita merayakan Galungan pada Rabu (Budha) Kliwon Dungulan. Kita merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Kalau demikian maka makna yang mau disimbolkan oleh para leluhur kita dahulu adalah hanya orang yang bisa mengendalikan diri dari segala nafsu hewani yang bisamerayakan kemenangan dharma atau merayakan Galungan dengan baik.

Di situ letak beda konsep antara Galungan dan Deepavali meski sama-sama sebagai perayaan hari kemenangan. Yang satu menang karena harus menahan segala godaan terlebih dahulu, yang satunya merayakan kemenangan yang sudah nyata sebagai simbol keteladanan. (*)


Oleh : mpujayaprema | 28 Oktober 2017 | Dibaca : 717 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?