Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


548132

Pengunjung hari ini : 19
Total pengunjung : 117968

Hits hari ini : 351
Total Hits : 548132

Pengunjung Online: 13


Twitter
Baca posting

Dialog

Oleh : mpujayaprema | 28 Oktober 2017 | Dibaca : 754 Pengunjung

Pengangkatan Muhamad Sirajuddin Syamsuddin sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban patut disambut dengan suka cita. Bukan karena istilah “utusan khusus” itu membuat jabatan ini menjadi penting. Tapi ada kata “dialog” yang hilang makna belakangan ini. Apalagi dialog  itu dikaitkan dengan antaragama. Itu benar-benar sudah jauh dari peradaban.

Din Syamsuddin sebenarnya sudah melakukan sebagian pekerjaan itu dalam jabatannya sebagai Presiden Asian Conference of Religions for Peace. Juga jabatan lain sebagai Co-presiden World Conference on Religion for Peace. Cuma dialog yang dilakoninya kebanyakan di luar negeri, sementara Presiden Jokowi berharap Din yang “diutus’ itu lebih fokus melakukan dialog di dalam negeri.

Lalu apa yang akan dilakukan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini? Din menyebut  sesuai pesan Presiden Jokowi akan memulai dialog di dalam negeri. Tanpa rukun di dalam bagaimana bisa mengekspor kerukunan. Namun di dalam negeri pun banyak masalah. Bagaimana antarumat beragama bisa rukun kalau di dalam agama yang sama perbedaan seringkali membawa masalah. Secara khusus Din menyebut masalah itu ada pada umat Islam,  lantas ia sampai pada hal yang ditunggu-tunggunya, yakni Islam rahmatan lil alamin.

Berat benar tugas Din. Suara umat tak pernah akur. Nahdatul Ulama, misalnya, setuju Perpu tentang ormas disahkan menjadi Undang-Undang, sementara Muhammadiyah menolaknya bahkan mengancam akan melakukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi. Ini satu contoh paling anyar. Dan Din meski sudah menyandang “utusan khusus” tetap segaris dengan Muhammadiyah. Adakah ini pertanda dialog diabaikan?

Jika urusan begini saja sulit diurai dengan dialog, bagaimana pula jika ada unsur keyakinan di dalamnya. Sebutlah contoh kasus Syiah yang dianut sebagian warga Madura yang sampai kini belum tuntas. Warga Syiah Madura masih di pengungsian. Atau contoh lain kasus Ahmadiyah yang tak pernah selesai – mungkin persoalan masih panjang – sehingga masjid Ahmadiyah sering kena segel.

Dialog di lingkungan satu umat beragama saja demikian ribetnya dalam upaya mencari solusi rukun, bagaimana pula melakukan dialog antarumat beragama. Lihat saja belakangan ini, setiap ada gesekan masalah antarumat beragama, langsung main lapor polisi dengan dalih ada pelecehan atau penistaan. Padahal bisa jadi hal itu hanya karena masalah ketidak-tahuan.  Kenapa tidak dicari penyelesaian dengan dialog yang lebih adem?  Di situ arti penting penunjukan Din Syamsudin sebagai utusan khusus.

Memang betul urusan ketidak-rukunan yang mencuat akhir-akhir ini tak cuma masalah agama. Hampir semua masalah berbangsa dihiasi dengan perbedaan tajam yang sulit dipertemukan. Apa yang menjadi dasar dari negara ini dan termuat jelas dalam sila-sila Pancasila seperti hiasan dan hafalan belaka tanpa penghayatan. Persatuan Indonesia, musyawarah mufakat, dan seterusnya, sudah nampak diabaikan. Tepat sekali langkah Presiden Jokowi untuk membentuk Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila agar kita kembali belajar dari kearifan para pendahulu kita. Tapi apa masalahnya bisa selesai hanya dengan membentuk unit ini dan unit itu lalu mengangkat utusan khusus ini dan utusan itu? Yang dibutuhkan adalah keteladanan pemimpin bangsa ini untuk meletakkan dialog sebagai hal penting dalam menyelesaikan urusan berbangsa. Dialog itu yang kini sangat mahal. Media sosial yang seharusnya bisa menjadi sarana dialog justru dipakai untuk melampiaskan dendam.

(Dimuat Majalah Tempo Akhir Pekan 28 Oktober 2017)


Oleh : mpujayaprema | 28 Oktober 2017 | Dibaca : 754 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?