Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


548147

Pengunjung hari ini : 19
Total pengunjung : 117968

Hits hari ini : 366
Total Hits : 548147

Pengunjung Online: 12


Twitter
Baca posting

Dewan Kerukunan

Oleh : mpujayaprema | 14 Oktober 2017 | Dibaca : 940 Pengunjung

Kenapa kita sulit untuk rukun? Padahal dalam kerukunan itu ada ketenangan dan dalam ketenangan itulah kita bisa berbuat yang lebih baik.  Dalam kerukunan itu kita bisa berbagi, saling tolong menolong, karena konon manusia diciptakan berbeda-beda agar saling mengenal satu sama lain.

Barangkali kita perlu membuat lembaga baru. Supaya nampak keren sebut saja Dewan Kerukunan Nasional. Dewan ini mengkaji kenapa kerukunan kita belakangan ini merosot dan apa masalahnya lalu apa solusinya. Dewan berada langsung di bawah presiden. Dibandingkan presiden punya dewan pertimbangan, yang tak jelas apa pekerjaannya, lebih baik punya Dewan Kerukunan Nasional yang bisa pula berfungsi sebagai penasehat moral – ah, kata ini keren amat. Presiden sudah punya menteri selain punya berbagai lembaga di luar kementrian yang sewaktu-waktu bisa diajak untuk mempertimbangkan kebijakan yang akan diambil. Jadi untuk apa lagi dewan pertimbangan. Lebur saja dan jadikan Dewan Kerukunan Nasional.  Lebih fokus.

Usul saya ini serius, mohon tidak ditanggapi dengan bercanda. Meski saya bukan peneliti dan bukan lulusan universitas ternama di Jepang – yang mungkin kalian percaya jika saya menyebutkan itu dengan berbohong – saya menemukan berbagai masalah yang menyebabkan kerukunan itu terganggu. Astaga! Sangat sepele yaitu ada di antara kita yang suka merecoki keyakinan orang lain yang tak ada urusan dengan keyakinannya sendiri. Mempersoalkan atau memberi komentar keyakinan orang lain yang menyangkut akidah yang tak bersinggungan dengan masalah sosial.

Kita tak bisa mendialogkan masalah akidah antar lintas agama. Sia-sia memperbandingkan ayat suci agama yang satu dengan agama yang lain seraya kemudian mengambil kesimpulan bahwa agama yang satu lebih baik dari agama yang lainnya. Yang bisa kita dialogkan adalah dampak sosial dari adanya keyakinan itu. Pengeras suara di masjid terlalu keras dan mengganggu warga, mari kita bicarakan apakah bisa diperkecil volumenya. Umat Hindu di Bali – terutama di perkotaan yang penduduknya lebih makmur –menutup jalan umum ketika membuat hajatan agama, mari kita bicarakan bagaimana baiknya.

Kita memang harus fanatik dalam beragama. Tapi fanatisme itu jangan dikaitkan ke masalah akidah agama lain. Tiada Tuhan selain Allah. Itu fanatisme umat muslim. Hanya ada satu Tuhan yakni Brahman. Itu fanatisme umat Hindu dalam kitab sucinya. Tidak berarti umat agama lain yang tak mengenal sebutan Allah dan tak mengenal sebutan Brahman tak punya Tuhan. Lalu dicela. Bukankah Tuhan itu bahasa Indonesia? Dan bukankah sebutan Tuhan itu bisa beragam di berbagai etnis? Dalam bahasa Indonesia saja Tuhan itu beragam: Yang Maha Kuasa, Sang Pencipta dan seterusnya.

Mencampur-adukkan akidah agama lalu merujuk ke agama tertentu bisa jadi sumber ketidak-rukunan jika itu dilakukan di ranah publik. Tak mungkin konsep Trimutri dalam Hindu atau Trinitas dalam Kristen dirujuk ke Al Quran, misalnya. Begitu pun sebaliknya. Dewan Kerukunan nantinya bisa memberi rumusan bagaimana kita bergaul dalam lintas agama di negeri majemuk ini. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang sudah ada di setiap provinsi – yang tak jelas atasannya siapa – bisa jadi ujung tombak Dewan Kerukunan.

Tentu saja dewan ini tak cuma mengurusi kerukunan yang berkaitan dengan agama. Tapi setidaknya fokus ke sini saja dulu karena aneh agama yang mengajak umatnya hidup damai ternyata umat saling lapor-melaporkan ke polisi dengan tuduhan penistaan. Kok ajaran agama jadi menakutkan?

(Dimuat Koran Tempo Akhir Pekan  14 Oktober 2017)


Oleh : mpujayaprema | 14 Oktober 2017 | Dibaca : 940 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?