Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


738874

Pengunjung hari ini : 120
Total pengunjung : 196957

Hits hari ini : 364
Total Hits : 738874

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

“Wujud Tuhan” Yang Agung

Oleh : mpujayaprema | 02 Desember 2017 | Dibaca : 1165 Pengunjung

BAGAIMANAKAH “wujud Tuhan” dalam ritual agama Hindu? Pertanyaan ini tentu saja mengada-ada. Jangankan wujud Tuhan yang kita puja, wujud Istadewata yang merupakan percikan sinar suci Tuhan saja tak bisa kita ketahui dengan jelas. Kita hanya membuatkan wujud para dewa sesuai dengan keinginan kita sendiri berdasarkan fungsi yang diemban oleh para dewa-dewi yang disebut Istadewata itu.

Wujud berupa patung dan gambar para dewa itu sendiri juga lebih cenderung dipengaruhi budaya lokal. Budaya India dan budaya Nusantara khususnya Bali berbeda dalam menciptakan wujud itu. Dewi Saraswati versi India berbeda sedikit dengan Dewi Saraswati versi Bali tetapi fungsi Sang Dewi sebagai simbol pembawa ilmu pengetahuan sama. Misalnya, tangannya empat dan seterusnya. Mungkin yang mencolok perbedaannya adalah Dewi Durga. Versi India adalah dewi yang cantik sementara versi Bali menyeramkan.

Namun Tuhan sebagaimana yang disebutkan dalam Weda tidak berwujud dan tidak dapat digambarkan, bahkan tidak bisa dipikirkan. Dalam bahasa Sansekerta disebut Acintyarupa yang artinya: tidak berwujud dalam alam pikiran manusia. Namun Tuhan Yang Maha Esa bisa diberikan berbagai nama untuk mengagungkan keberadaanNya.

Lantas bagaimana kita memuja Beliau yang tak terpikirkan dan tak berwujud itu? Maka pandai-pandailah kita menciptakan atribut, baik berupa nama maupun “simbul perwajahan”, semata-mata untuk alat konsentrasi dalam memuja Tuhan. Dalam konsep agama Hindu pemujaan dengan cara ini disebut Saguna Brahman. Artinya Brahman yang memiliki saguna atau atribut baik berupa nama atau pun “rupa” yang kita buat. Sedangkan apabila kita bisa memuja Beliau tanpa atribut maka itu disebut Nirguna Brahman. Tak perlu alat konsentrasi apa pun untuk memuja Beliau.

Berbeda dengan Istadewata yang wujudnya lebih jelas karena fungsinya sebagai dewa pembawa sinar suci Tuhan, maka umat yang melakukan pemujaan kepada Tuhan dengan cara Saguna Brahman memakai atribut yang lebih abstrak dan cenderung berupa simbul. Dalam budaya ritual Hindu di Bali simbul-simbul itu disebut sebagai pratima. Nah pratima inilah yang dijadikan “alat konsentrasi” dalam pemujaan kepada Tuhan.

Pratimasebagai alat konsentrasi memuja Tuhan sudah dikenal sejak Kerajaan Singasari. Konsepnya adalah dalam Hindu ada empat jalan atau cara memuja Tuhan sesuai Catur Marga. Salah satunya adalah dengan Bhakti Marga. Dalam Bhakti Marga ini ada yang disebut apara bhakti dan para bhakti. Apara bhakti adalah memuja dengan penuh cinta kasih namun ada keterbatasan dalam hal pengetahuan maupun spiritual. Kelompok inilah yang merupakan bagian terbesar umat, memerlukan adanya pratima atau simbul Tuhan yang dipuja. Pratima karena merupakan simbul abstrak dari Tuhan tentu wujudnya bukan wujud dewa-dewi dalam Istadewata.

Kita bisa lihat di Bali setiap pura yang besar mempunyai pratima. Setiap piodalan pratima itu dihias dan kemana pun runtutan ritual, pratima itu diusung sebagai simbul mengusung Tuhan. Apakah itu dibawa ke laut untuk ritual melasti dan seterusnya. Selama berlangsungnya ritual pratima ditempatkan di tempat yang khusus, biasanya tempat itu disebut balai pepelik. Ketika piodalan selesai pratima itu dikembalikan ke tempatnya, tentu setelah ada ritual mengembalikan “roh” yang ada di dalam pratima.

Betapa agungnya pratima sebagai simbul dari perwujudan Tuhan, alat konsentrasi umat dalam memuja kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Tak ada umat yang berani memperlakukan pratima sebagai “barang yang campah”. Pratima saat diusung diiringi alunan tembang dan suara genta mau pun gamelan. Dan memang banyak pratima yang dibuat dari bahan emas, sesuatu yang juga untuk berfungsi mengagungkan Tuhan. Tentu jadi mahal. Karena itu banyakpratima yang menjadi obyek curian para maling.

Kalau kita sudah tahu bagaimana konsep memuja Tuhan secara Saguna Brahman lewat pemujaan apara bhakti maka kita tak mungkin “menyimbulkan” Tuhan itu dengan hal-hal yang kurang agung, apalagi yang kotor. Misalnya, asap hitam yang mengandung debu vulkanik yang keluar dari Gunung Agung kita anggap sebagai “simbol Tuhan” yang bersemayam di Gunung Agung. Begitu pula lahar dingin yang mengalir dari gunung itu kita puja dengan “banten pemendak” bahkan diiringi gamelan sebagai simbul Tuhan yang bersemayam di Gunung Agung sedang melakukan perjalanan.

Tuhan Yang Maha Agung memerlukan simbul-simbul pratima yang seharusnya juga dibuat agung. Bukan asap pekat dan bukan lahar dingin dijadikan pratima. (*)


Oleh : mpujayaprema | 02 Desember 2017 | Dibaca : 1165 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?