Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


605815

Pengunjung hari ini : 406
Total pengunjung : 141998

Hits hari ini : 592
Total Hits : 605815

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Masih Takut dengan “Kapongor”?

Oleh : mpujayaprema | 09 Desember 2017 | Dibaca : 988 Pengunjung

APA yang dimaksudkan dengankapongor?Kata ini mungkin tidak dikenal di seluruh Bali. Yang dimaksudkan adalah para leluhur yang sudah berstatus Ida Bethara, murka kepada pratisentana alias keturunannya. Marah atau murka itu tanda-tandanya bisa bermacam-macam. Tergantung situasi dan kondisi di mana umat yang kapongor itu berada. Juga tergantung kepercayaan karena tidak semua orang percaya bahwa Ida Bethara bisa marah-marah.

Kapongoritu bisa karena hal-hal yang kecil. Tipis bedanya antara takhayul dan keyakinan berdasarkan sastra agama. Misalnya, tidak boleh menanam pohon kelapa di pekarangan rumah nanti bisa kapongor. Sejauh mana ada pijakan sastra agamanya, orang tak mau tahu. Mungkin saja ini semacam nasehat para orang tua karena berbahaya pohon kelapa di halaman rumah. Kalau nanti kelapanya berbuah lalu jatuh menimpa anak-anak yang masih kecil, kan berbahaya. Itu menjadi buktiIda Bethara marah.

Di sebuahkuburan desa adat ada pohon kepuh yang besar tetapi tua. Pohon ini berbahaya karena sewaktu-waktu bisa roboh. Bagaimana kalau robohnyapas ada upacara ngaben di kuburan adat itu? Tahu bahwa pohon itu dikeramatkan maka tak ada warga desa yang berani menebangnya. Lalu ada pemikiran bagaimana kalau dicari “tukang sensor” dari Jawa untuk menebangnya. Kalau Bethara marah biarlah tukang dari Jawa itu yang menimpa amarah.Ternyata tak terjadi apa-apa. Ida Bethara dan semua mahkluk halus yang menghuni setratak ada yang marah. Setra itu pun jadi asri dan di bekas pohon kepuh itu dibangun balai.

Akhir bulan lalu ada pohon besar yang tumbang di Pura Mekori, Desa Belimbing, Kabupaten Tabanan. Pohon ini cabangnya banyak dan tentu sudah tua, tetapi tak ada yang berani memotongnya karena dalam wilayah pura. Ketika tumbang menghalangi jalan dan macet pun terjadi. Bahkan ada korban jiwa penduduk yang berumah di seberang jalan. Ida Bethara lagi marah, kata sejumlah penduduk. Seharusnya ini jadi peringatan untuk pohon besar yang lain di pinggir jalan raya. Badai sedang mengancam, banyak pohon tumbang.

Masih ada penduduk yang tinggal di kawasan rawan bencana Gunung Agung yang tak mau mengungsi hanya karena takut kapongor (dimarahi Ida Bethara). Alasannya ada merajan yang harus selalu diberikan sesajen setiap rahinan. Mereka ini seolah-olah bisa membuktikan bahwa betapa pun asap keluar pekat dari kawah gunung kalau Ida Bethara tidak marah tak akan terjadi apa-apa. Nah ini soal keyakinan, harus dibujuk dengan lebih halus bahwa dalam erupsi gunung ini tak ada masalah apakah Ida Bethara murka atau tidak. Ini semata-mata soal alam.

Berkaitan erat dengan istilah kapongor ini adalah adanya balian (dukun) yang seolah-olah bisa menurunkan para leluhur yang sudah menjadi Ida Bethara dan berdialog dengan keturunannya. Lewat perantaraan balian inilah biasanya dipercayai  adakah kesalahan yang dilakukan keturunannya sehingga leluhur itu murka dan memberikan hukuman.

Masyarakat Bali terutama di pedesaan masih percaya pada balian jenis iniyang biasa disebut: balian meluasang, balian baas pipis, balian dasaran, atau sebutan lainnya. Yakni balian yang entah dengan teknik atau ilmu apa, dipercaya bisa menjadi perantara dari roh orang yang sudah tiada. Atau kalau tidak “kemasukan roh” seolah-olah tahu dan bisa menebak segala sumber yang jadi pangkal masalah yang diderita oleh mereka yang datang ke balian itu. Dari sinilah kemudian muncul berjenis-jenis kapongorkarena berbagai hal. Kapongor salah upacara, kapongor salah banten, kapongor salah memberi nama anak kecil, dan sebagainya.

Masyarakat harus diberi bekal sastra agama yang benar bahwa Tuhan dan para leluhur yang sudah “menyatu dengan Tuhan” tak punya sifat pemarah. Tuhan Maha Penyayang, Tuhan Maha Kasih dan Tuhan Maha Pengampun. Bahwa manusia yang hidup di dunia ini diberi cobaan seperti sakit, itu adalah bagian dari perjalanan hidup dalam suka dan duka. Ada istilah di Bali: suka duka lara pati. Senang, sedih, sakit dan meninggal adalah semata-mata sebuah perjalanan atau siklus yang harus dilalui. Justru harus ada anggapan bahwa sedih dan sakit itu adalah cara Tuhan untuk memberikan kita peringatan, mungkin ada hal-hal yang salah kita lakukan. Ada pun kematian adalah puncak dari kelepasan kita terhadap semua hukuman dunia, seharusnya kita menyongsong ketenangan abadi itu tanpa rasa takut. (*)


Oleh : mpujayaprema | 09 Desember 2017 | Dibaca : 988 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?