Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


605816

Pengunjung hari ini : 406
Total pengunjung : 141998

Hits hari ini : 593
Total Hits : 605816

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

Gayatri Rock tak Ada Masalah

Oleh : mpujayaprema | 16 Desember 2017 | Dibaca : 954 Pengunjung

BULAN lalu ada berita kecil. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali meminta klip Gayatri dengan nada rock yang ditayangkan di sebuah televisi lokal di Bali distop penyiarannya. Gayatri Mantram dengan nada rock itu produksi Bintang K-Rock. Tayangan ini sebagai selingan acara televisi.

Kenapa Mantram Gayatri dengan nada rock itu baru dicekal PHDI?  Padahal sejak diunggah di YouTube 7 September 2012 sudah dilihat oleh 136 ribu orang. Lagi pula Mantram Gayatri sudah ada berbagai versi, tak cuma rock ada juga yang reggae. Cobalah buka YouTube. Mantram Gayatri ada banyak sekali. Nadanya pun bermacam-macam. Penyanyinya yang terkenal, misalnya, Mohandhi Shobane, Lata Mangeshkar, Anuradha Paudwal, Shekhar Ravjiani, Jagjit Singh. Ini gaya khas India yang melantunkan lagu spiritual dengan riang gembira, tetapi ada perbedaan satu dengan lainnya.

Begitu pula versi Indonesia. Gayatri Mantram ditembangkan oleh banyak penyanyi. Ada yang dinyanyikan Dek Ulik, Tri Utami bersama Dewa Bujana, Gek Tia. Ada yang disebut versi Bali TV lantaran tiap pagi ditayangkan di stasiun televisi itu, ada versi Majapahit yang berbeda pula dengan versi Jawa. Ada pula versi Dayak yang bagi telinga tertentu seperti tembang para dukun, ada yang kini amat digandrungi diputar di desa-desa yang dilantunkan Luh Camplung, nama asli Jero Murniati, penari arja dan karyawan RRI Denpasar. Ada versi Seruling Dewata yang cocok untuk meditasi. Tentu juga ada gaya reggae dan rock seperti yang dicekal PHDI Bali itu.

Masih banyak versi lainnya. Teks mantram itu sendiri tak ada yang diubah-ubah. Ada yang ngelangenin, ada yang seperti kidung, ada yang mirip kekawin. Begitu pula ada yang diniatkan untuk yoga dan ada untuk meditasi. Versi India yang penuh keceriaan itu banyak untuk melakukankirtanam (mengulang-ulang pemujaan) kepada Dewi Gayatri, karena itu pengulangan disesuikan dengan japamala sebanyak 108 kali.

Kenapa Gayatri Mantram Rock harus dilarang? Gayatri Mantram tertulis di dalam Reg Weda III.62.10 yang oleh para tetua kita di Bali dijadikan sebagai mantram utama dan pembuka dari Puja Trisandya. Bunyinya: OM, Bhur bhuvah svaha, Tat Savitur Warenyam, Bhago devasya Dhimahi, Dhiyo yo Nah Pracodayat. Artinya: Oh Tuhan Engkau adalah pemberi hidup, pelebur rasa sakit, penderitaan dan kesedihan, perwujudan dan pemberi kebahagiaan. Oh pencipta alam semesta, semoga kita menerima cahaya-Mu yang meleburkan dosa kita, semoga Engkau menuntun akal pikiran kita ke arah yang benar.

Wahyu Weda ini diterima oleh Maharsi Wiswamitra, yang merupakan salah satu Sapta Rsi yang menerima wahyu langsung dari Tuhan. Kekuatan mantram ini luar biasa, apalagi jika dilantunkan dengan berulang-ulang, dipakai sarana berjapa. Bisa meneduhkan hati, mengurangi kecemasan dan mengusir mara bahaya.

Dengan cara apa kita melantunkan Gayatri Mantram? Tidak ada yang baku. Semuanya baik tergantung budaya lokal. Kalau kita sendirian atau bersama kelompok yang sudah sama-sama sepakat, apa pun iramanya bisa saja dilakukan. Mau irama sendu seperti mekidung di Bali, atau bercorak ria seperti di India, tak ada yang salah.  Cara terbaik adalah bagaimana kita melantunkan itu dengan tanpa beban, dan hati kita tersentuh untuk melantunkannya. Jangan melantunkan dengan keterpaksaan atau melantunkan mantram teramat suci itu dengan hati yang kurang bisa menerimanya. Kalau Ketua PHDI Bali menyebutkan Gayatri Mantram harus dilantunkan dengan teduh dan sendu, itu salah besar. Tak semua orang tersentuh dengan satu gaya saja.

Yang penting adalah lihat situasi dan kondisi atau orang Bali bilang desa kala patra. Sesuaikan dengan lingkungan sekitar. Kalau di pura dalam kaitan dengan persembahyangan, apakah Gayatri Mantram dilantunkan berulang-ulang atau dilantunkan sebagai pembuka dari Puja Tri Sandhya, maka pakailah gaya yang sudah disepakati secara umum. Biasanya disebut “gaya walaka” seperti yang dilakukan anak-anak sekolah atau dalam rapat-rapat. Janganlah di pura menembangkan Gayatri Mantram gaya rock arau reggae. Gaya Luh Gamplung dan Bali TV sebenarnya cocok dengan lingkungan pura, namun terbatas pada selingan acara. Kalau dijadikan tembang bersama apa semua orang hafal? Demikian pula untuk siaran di radio dan televisi, Puja Trisandhya memakai “gaya kekawin”. Jadi semuanya harus disesuikan dengan lingkungan. Karena itu Gayatri Mantram gaya rock sebagai selingan acara di televisi tak ada salahnya karena ini bukan untuk ritual. Kalau tak suka matikan televisi. (*)


Oleh : mpujayaprema | 16 Desember 2017 | Dibaca : 954 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?