Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


605830

Pengunjung hari ini : 408
Total pengunjung : 142000

Hits hari ini : 607
Total Hits : 605830

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Kasih untuk Sesama Umat

Oleh : mpujayaprema | 23 Desember 2017 | Dibaca : 930 Pengunjung

SAUDARA kita umat Kristiani sedang dalam suasana merayakan Hari Natal. Sangat baik kalau hari-hari ini kita berbicara tentang cinta kasih yang dikaitkan dengan kedamaian. Apalagi tema perayaan Natal tahun ini adalah “damai dan kasih”. Sekaligus kita ingin mengucapkan Selamat Merayakan Natal untuk saudara-saudara kita yang berlainan iman itu.

Kasih yang sering diawali dengan kata cinta yang kemudian membentuk istilah cinta kasih sejatinya adalah sebuah tanggung jawab untuk menciptakan keserasian, keseimbangan dan kedamaian antara sesama manusia, antara manusia dengan lingkungan dan antara manusia dengan Tuhan. Umat Hindu menyebutkannya sebagai Tri Hita Karana.

Kasih itu ada di dalam setiap agama. Umat Kristiani, misalnya, menyebutkan: “Cintailah Tuhan Allah-mu dengan segenap hatimu. Cintailah sesama manusia seperti (mencintai) dirimu sendiri. Ungkapan ini diambil dari Matius 12: 29-31.

Dalam ajaran Buddha ada yang disebut Metta, cinta kasih yang tak terbatas kepada semua makhluk dan tanpa pamrih. Metta adalah semangat persaudaraan, persahabatan, pengorbanan yang memandang makhluk lain sama dengan dirinya sendiri. Metta adalah juga suatu keinginan untuk membahagiakan makhluk lain dengan menyingkirkan kebencian dan keinginan yang jahat.

Bukankah agama Hindu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu peduli kepada sesama dengan hidup bersama dan saling kasih-mengasihi. Dalam kitab Sarasamuccaya sudah disebutkan manusia yang dilahirkan ke dunia adalah makhluk yang utama dan mulia jika dibandingkan dengan makhluk-makhluk hidup lainnya. Dengan keutamaan ini diharapkan dapat meningkatkan taraf hidupnya ke jenjang yang lebih berkualitas. Tujuannya adalah hidup yang harmonis, damai dan bahagia. Dengan kata lain, mengejar  tujuan hidup di dunia, yaitu jagadhita dan moksa.

Yajur Veda 26.2menyebutkan: "mitrasya ma caksusa sarvani bhutani samiksantam, mitarsya aham caksusa saruani bhutani samikse, mistrasya caksusa samisamahe'". Terjemahannya "semoga semua makhluk memandang kami dengan pandangan mata seorang sahabat, semoga kami pandang-memandang dengan pandangan mata seorang sahabat". Maksudnya adalah orang memandang kita dengan rasa persahabatan dan kita pun saling memandang dengan persahabatan pula. Hanya kedamaian yang bisa menciptakan suasana seperti ini.

Karena itulah untuk memperoleh kehidupan yang penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan, setiap orang harus hidup dalam nuansa persahabatan. Ini berarti hidup saling kasih mengasihi, menjauhi kebencian dan selalu mendambakan kedamaian. Hidup yang selaras, serasi dan seimbang. Hidup yang penuh dalam suasana rukun, tenteram, damai dan bahagia.

Ada ajaran Hindu yang tak bisa dilepaskan dari masalah cinta kasih, hidup rukun dalam suasana ketentraman yang ada di alam Chandogya Upanisad. Yakni ajaran Tatwamasi. Arti simplenya adalah “aku adalah kau”.  Apa yang aku rasakan akan kau rasakan pula. Begitu sebaliknya, apa yang kau rasakan akan kurasakan pula. Dalam pengertian yang lebih “mendalam”  bisa pula diartikan bahwa “semua makhluk yang ada di dunia ini adakah Kau” dalam pengertian Kau adalah Tuhan itu sendiri. Jadi aku sebagai makhluk adalah berasal dari Kau – dalam pengertian Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang penting dari ajaran Tattwamasi ini adalah kesadaran bahwa kebahagiaan dan penderitaan makhluk lain berarti kebahagiaan dan penderitaan diri kita sendiri.

Mengamalkan ajaran Tattwamasi ke dalam bentuk perbuatan yang nyata adalah wujud dari penerapan kasih dalam hidup ini. Membantu fakir miskin, membantu orang yang terkena musibah adalah contoh-contoh yang nyata. Karena itu selain erat berkaitan dengan keharmonisan yang sesuai dengan Tri Hita Karana juga diterapkan dalam kehidupan yang mengamalkan Tri Kaya Parisudha. Berpikir yang baik, berkata yang baik dan berbuat yang baik.

Marilah dalam suasana saudara kita umat Kristiani merayakan Natal kita tiupkan pesan damai dan kasih semoga persaudaraan kita sebagai sesama umat manusia terwujud dengan baik. Kita satu bangsa bahkan satu umat dunia, kita hanya berbeda dalam iman tetapi tidak dalam menciptakan kedamaian yang bersumber dari kasih.  Ada pesan dalam Weda yang patut direnungkan, yaitu ahimsa paramo dharma, dharma himsa tathaiva cha. Artinya melakukan tindakan yang jauh dari kekerasan adalah dharma yang tertinggi. (*)


Oleh : mpujayaprema | 23 Desember 2017 | Dibaca : 930 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?