Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


605828

Pengunjung hari ini : 407
Total pengunjung : 141999

Hits hari ini : 605
Total Hits : 605828

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

Bencana Bukan Kutukan

Oleh : mpujayaprema | 04 Desember 2017 | Dibaca : 1023 Pengunjung

BENCANA yang dimaksudkan adalah bencana alam. Misalnya gempa bumi,  tsunami, banjir, tanah longsor, angin puting beliung, gunung meletus. Semua bencana ini tentu tidak diharapkan datangnya. Karena bencana bisa mendatangkan korban, baik itu korban jiwa mau pun korban material.

Coba saja kita amati belakangan ini, betapa banyaknya korban akibat bencana alam. Infrastruktur di sejumlah daerah lumpuh. Ada jembatan yang diterjang banjir, ada jalan yang ketimbun tanah longsor, rumah penduduk yang hancur oleh angin puting beliung. Ini korban badai Cempaka di Jawa, sedangkan di Bali ada gunung meletus.

Apakah bencana ini sebuah kutukan dari Sang Penguasa Alam. Apakah Tuhan murka sehingga memberikan hukuman kepada umatnya di dunia? Barangkali memang ada keyakinan seperti itu bahwa setiap bencana adalah pertanda murkanya Tuhan sehingga hukuman pun diberikan kepada manusia. Namun dalam konsep ajaran Hindu dan juga keyakinan para leluhur Nusantara, bencana tak ada kaitannya dengan kemarahan Tuhan dan Tuhan bukanlah Sang Pemarah.

Apa yang disebut bencana itu adalah pergerakan bhuwana agung (bumi yang didiami manusia) menuju keharmonisannya. Bhuwana agung seperti halnya bhuwana alit (manusia) adalah sesuatu yang hidup, sesuatu yang terus berproses. Kalau prosesnya berhenti maka tak akan ada keseimbangan.

Ini satu sisi dari proses alam. Dalam keyakinan menyangkut proses kehidupan, ada lahir hidup dan mati. Ada penciptaan (stiti), ada kehidupan (utpeti), ada kematian (pralina). Kematian harus diperluas artinya sebagai suatu peleburan. Proses peleburan ini melahirkan kehidupan yang baru. Demikian seterusnya berulang-ulang sehingga alam tetap harmonis. Bencana tak harus ditakuti tetapi harus dihadapi dengan tenang.

Rupanya konsep keyakinan leluhur yang juga ajaran Hindu ini diterapkan dengan baik oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sehingga dalam penamaan badai tropis yang terjadi di Indonesia menggunakan nama bunga. Badai tropis yang baru saja terjadi bernama Badai Cempaka, yang menyusul datang adalah Badai Dahlia. Tahun 2010, awal dari penamaan memakai bunga ini nama badainya Anggrek. Dan tahun 2014 namanya Badai Bakung. Jadi semua nama bunga sesuai dengan urutan alfabet. Tujuannya sangat mulia yakni agar badai-badai itu tidak menjadi sesuatu yang menakutkan karena ini adalah proses alam yang tak bisa dicegah oleh manusia, betapa pun canggihnya teknologi.

Di Amerika Serikat nama-nama badai itu diambil dari nama yang mirip nama orang. Bahkan kebanyakan nama-nama yang menunjukkan nama seorang wanita. Misalnya, Irma, Jose, Katrina, Cindy, Irene, Emily, Franklin dan banyak lagi. Penamaan badai ini diatur oleh Word Meteorilogical Organization (WMO), badan dunia yang mempelajari dan mengamati pergerakan badai. Namun WMO tidak mengatur keharusan nama tertentu yang penting adalah konsisten dan berurutan secara alfabet (huruf yang pertama) untuk memudahkan penyebutan. Dan BMKG memilih nama-nama bunga dengan urutan dari awal anggrek, bakung, cempaka dan dahlia. Setelah dahlia mungkin akan dicarikan nama bunga yang berawal huruf “e”, tetapi kalau tidak ketemu bisa saja dilewati dengan alfabet yang lain. Di Amerika pun yang sudah menyiapkan 21 nama badai, nama badai dengan huruf awal “x”, “q” dan “z” dilewati.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono R Prabowo, menyebutkan penamaan siklon tropis dengan nama-nama bunga sudah diajukan sejak awal pertemuan internasional saat BMKG Indonesia diakui oleh Komisi BMKG se-Dunia. Nama Badai Anggrek dijadikan langkah awal pada tahun 2010 setelah ada penertiban nama-nama badai itu. Sebelumnya pernah ada badai disebut Badai Durga. Ternyata ini membuat takut orang karena penamaan itu memakai nama Dewi Durga yang dianggap menyeramkan.

Jadi intinya adalah bagaimana belajar dari filosofi leluhur di masa lalu bahwa bencana alam bukan penghancuran jagat raya. Bencana alam bukanlah malapetaka tetapi sebuah proses dari semesta untuk mengharmoniskan jagat raya. Bumi bergerak menyeimbangkan diri dan jika alam ada yang rusak maka manusia harus introspeksi jangan-jangan ada yang salah dalam merawat bumi. Mungkin hutannya terlalu banyak ditebang sehingga muncul banjir. Mungkin ada pemanasan global sehingga mudah bibit-bibit siklon tropis menguat menjadi badai. Kita diajak harus bersahabat dengan alam.

Presiden Joko Widodo pun menanggapi datangnya apa yang disebut bencana belakangan ini sebagai hal yang harus dihadapi dengan tenang. Jokowi mengajak masyarakat tidak panik. Bahkan dalam hal erupsi Gunung Agung di Bali, presiden menyebutkan bisa dijadikan daya tarik tambahan buat wisatawan. Bali masih aman untuk dikunjungi. Bahwa terjadi masalah seperti bandara yang “buka tutup” lama-lama akan menjadi kebiasaan bagaimana kita hidup di daerah bencana.

Ini penting untuk dipahami masyarakat Bali. Kita tidak tahu apa yang terjadi dengan Gunung Agung. Apakah erupsinya secara “normal” dalam arti meletus dengan besar setelah itu selesai dan bertahun-tahun tidak lagi meletus. Seperti letusan tahun 1963 yang begitu dasyat. Namun setelah itu tak ada lagi letusan sampai pada tahun 2017 ini. Artinya selama 54 tahun Gunung Agung menunjukkan kedamaiannya.

Atau erupsi dengan cara yang tidak “normal” seperti Gunung Sinabung di Sumatra Utara. Sudah sejak 3 tahun erupsi dan sampai sekarang masih berlanjut. Dalam arti kadang meletus kadang tidak tetapi gerakan magmanya tetap berlangsung. Jika ini terjadi pada Gunung Agung, mudah-mudahan saja tidak, maka banyak hal yang bisa berubah dalam pola hidup masyarakat terdampak bencana. Kawasan rawan bencana tetap harus kosong dan penduduk mungkin perlu pemukiman baru (relokasi) seperti halnya di Sinabung. Dampaknya makin meluas karena ada pura besar di lereng Gunung Agung, sebut saja Pura Besakih, Pura Pasar Agung dan banyak yang lainnya. Tentu umat tak bisa leluasa melakukan persembahyangan di sana.

Tapi apa pun yang terjadi marilah kita tidak “menyalahkan Tuhan” dalam kasus bencana yang terjadi belakangan ini. Juga tidak menuduh bahwa orang-orang yang ada di daerah bencana sedang menjalani hukuman dari Tuhan. Ini semata-mata alam sedang berproses mencari jalannya sendiri untuk harmonisasi. (*)


Oleh : mpujayaprema | 04 Desember 2017 | Dibaca : 1023 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?