Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


605813

Pengunjung hari ini : 405
Total pengunjung : 141997

Hits hari ini : 590
Total Hits : 605813

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Penghayat

Oleh : mpujayaprema | 11 November 2017 | Dibaca : 2133 Pengunjung

Masalah penghayat kepercayaan yang oleh Mahkamah Konstitusi boleh dicantumkan dalam Kartu Tanda Penduduk masih jadi persoalan rumit kalau negara tetap mengurusi masalah keyakinan sampai hal remeh temeh. Keyakinan merupakan hak seseorang yang dijamin konstitusi dan bukan pemberian dari negara. Kalau konsepnya seperti ini maka negara wajib melindungi dan menjamin pemenuhan hak warga negaranya untuk memeluk agama atau mengikuti kepercayaan di luar agama.

Apa itu agama? Catatan saya di era Orde Baru, difinisi agama -- meski tak pernah ada aturan tertulis -- harus punya kitab suci yang merupakan wahyu Tuhan dan punya nabi atau sebutan lain sebagai penerima wahyu Tuhan. Dengan syarat itu maka penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang kitab dan penerima wahyunya “kurang jelas” digolongkan aliran kepercayaan. Jika agama diayomi oleh Departemen Agama, aliran kepercayaan dibina oleh Kejaksaan.

Bagaimana pemerintah membina aliran kepercayaan? Justru menekan warga kepercayaan untuk meninggalkan cara-cara ritual mereka dan “kembali ke jalan benar sesuai agama yang ada”. Praktek di lapangan adalah harus memilih satu agama yang diakui (aneh agama harus mendapat pengakuan negara) untuk dicantumkan dalam identitas kependudukan. Yang membangkang menghadapi berbagai kesulitan. Urusan sekolah anak, pekerjaan, perkawinan dan banyak hal.

Maka wajar keputusan MK disambut baik. Namun kerumitan muncul apa yang akan ditulis di kolom agama itu? Cukupkah: Penghayat Kepercayaan? Atau nama penghayat kepercayaan? Sekarang ada 187 penghayat kepercayaan yang terdaftar. Apakah sistem perekaman KTP akan mencantumkan semua itu untuk diklik?

Kerumitan lain bisa susul-menyusul. Apakah perkawinan itu sah di antara kedua penghayat yang berbeda? Bagaimana menyiapkan guru penghayat di sekolah? Siapa yang mengayomi penghayat, apakah Kementrian Agama atau tetap di bawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan setelah kejaksaan merasa aneh mengurusi soal keyakinan itu?

Sensus berkaitan dengan agama pasti berubah hasilnya. Para pemimpin agama harus legowo. Maklum banyak yang bangga jika agamanya dinyatakan besar dalam persentase. Saya pernah hadir dalam diskusi lintas agama. Seseorang bertanya berapa persentase pemeluk agama di Indonesia? Narasumber dari Islam bilang 87 %, dari Katolik sebut 17 %, dari Kristen Protestan sebut 14 % dan dari Buddha dengan kalem bilang, 2 % sajalah. Jawaban saya: “Itu sudah lebih dari 100 persen kalau digabung, kami di Hindu tak kebagian dong. Apakah di zaman now ini perlu besar-besaran pengikut agama atau  besar-besaran kontribusi menciptakan kedamaian?”

Ternyata hasil sensus menjadi penting karena dana hibah yang berada di bawah Kementrian Agama untuk “pembinaan agama” besarannya mengacu hasil sensus. Masuk akal kalau di masa lalu – yang belum lama lewat – warga penghayat ditarik-tarik memilih agama tertentu di kolom KTP-nya.

Mungkin perlu dipikirkan bagaimana kalau negara tak usah mengurusi keyakinan individu warganya sampai hal remeh-temeh. Pelajaran di sekolah cukup pendidikan budi pekerti, pelajaran agama di luar sekolah atau sekolah khusus seperti pesantren (Islam) atau pasraman (Hindu). Biarkan setiap orang bebas melakukan ritual apa pun sepanjang tidak mengganggu lingkungan sekitar. Hapus kolom agama di KTP dan bagi yang mau pamer agamanya silakan dicantumkan di bawah foto – meniru Malaysia. Dihapusnya diskriminasi penghayat kepercayaan kita jadikan momentum untuk tidak membuat rumit urusan memuja Tuhan.

(Koran Tempo 11 November 2017)


Oleh : mpujayaprema | 11 November 2017 | Dibaca : 2133 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?