Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


605824

Pengunjung hari ini : 407
Total pengunjung : 141999

Hits hari ini : 601
Total Hits : 605824

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

Catur Guru di Era Internet

Oleh : mpujayaprema | 06 Januari 2018 | Dibaca : 833 Pengunjung

PERAN guru tetap begitu penting sepanjang zaman. Kemajuan sebuah bangsa terletak pada bagaimana mutu guru-gurunya. Generasi yang terdidik hanya bisa dilakukan oleh guru yang juga bagus.

Dalam ajaran Hindu guru merupakan hal yang sangat penting. Tanpa guru kehidupan ini akan gelap gulita karena lewat gurulah perkembangan intelektual seseorang itu terlihat. Dan siapa yang disebut guru itu? Bukan hanya seseorang yang berdiri di depan kelas mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya, tetapi semua orang bisa menjadi guru. Bahkan alam pun menjadi guru. Meski begitu dalam Hindu kriteria guru itu dibagi menjadi empat dan karena itu disebut Catur Guru. Rinciannya adalah Guru Rupaka, Guru Pengajian, Guru Wisesa dan Guru Swadyaya. Keempat guru ini tak terpisahkan dan saling melengkapi.

Guru Rupaka adalah orang tua yang melahirkan kita. Kedua orang tua inilah yang memberikan pendidikan awal untuk seorang anak sejak dilahirkan. Guru yang mengajarkan anak berjalan, berbicara, mengenal lingkungan dan mengajarkan nilai-nilai kehidupan pada seorang anak. Karena orang tua tak mungkin terus-menerus mengajar kepada anaknya, maka ada peran guru yang kedua, yakni Guru Pengajian. Ini adalah guru di sekolah. Guru di sekolah inilah yang perannya lebih banyak memberikan pendidikan sesuai dengan kurikulum yang disediakan pemerintah.

Mengikuti pendidikan di sekolah ada batasnya. Tak bisa kita bersekolah seumur hidup. Tetapi belajar seumur hidup adalah sebuah keharusan. Lalu siapa gurunya? Ini guru yang ketiga disebut Guru Wisesa. Wisesa yang dimaksud di sini adalah pemerintah dari tingkatan yang terendah sampai yang tertinggi. Juga termasuk segala kegiatan yang ada di masyarakat entah itu lewat organisasi formal, paguyuban dan berbagai komunitas kelompok. Di sana kita belajar bersama.

Dan yang terakhir  adalah Guru Sejati, Beliau tak lain adalah Tuhan Yang Maha Esa. Dalam istilah Catur Guru ini Beliau disebut Guru Swadyaya. Tuhan yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai guru sejati adalah Maha Guru alam semesta atau Sang Hyang Paramesti Guru. Semua ilmu pengetahuan dengan segala bentuknya adalah bersumber dari Tuhan. Salah satu dewi yang menurunkan ilmu itu adalah Dewi Saraswati yang selalu kita puja pada Hari Saraswati.

Nah, apakah di zaman now – begitu orang menyebut zaman kekinian – peran guru itu masih tetap dominan? Tentu saja semuanya masih tetap dominan dan tetap relevan. Tak mungkin ada yang menggantikan orang tua dalam mendidik anaknya di rumah. Tak mungkin pula anak-anak itu dibiarkan tidak sekolah jika usianya sudah mencukupi.

Cuma di era internet ini ada sarana  penting yang bisa seolah-olah menggantikan fungsi guru itu. Dunia maya melahirkan alat canggih yang disebut media sosial. Media sosial ini melahirkan berbagai aplikasi yang bisa menggantikan buku, bisa menggantikan koran dan majalah, bisa menggantikan cara ngobrol bertatap muka. Semua itu bisa dilakukan lewat perangkat handphone. Masalahnya apakah pendidikan lewat media sosial ini betul-betul menggantikan sebagian peran guru yang mengajarkan kebaikan? Atau justru yang diajarkannya adalah keburukan? Jika keburukan itu yang didapat maka konsep Catur Guru dalam Hindu sudah benar-benar dilanggar.

Dalam ajaran Hindu ada kriteria bahwa “Guru ngaranya wwang awreddha, tapo wreddha,  jnana wreddha. Wwangawreddhangi”Artinya, yang disebut  guru itu adalah orang yang sudah tua, dan itu yang dimaksudkan adalah orangtua kita, dan orang yang mengajarkan kebenaran dan kesucian, orang yang sudah matang pengetahuannya dan tidak tergoda oleh nafsu-nafsu buruk karena taat pada tapa brata.

Apakah media sosial sekarang ini selalu mengajarkan kebaikan dan bukankah banyak kebencian yang juga diajarkannya? Maka berbahayalah jika para orang tua membiarkan anak-anaknya asyik dengan media sosial. Apalagi dengan sengaja memberikan anaknya komputer mini atau tablet dan handphone yang bisa mengunggah dengan bebas apa yang ada di dalam media sosial itu. Betul sarana itu bisa menjadi “guru” dan banyak ilmu yang bisa didapat di sana, tetapi jika salah menggunakannya maka kebencian dan kemaksiatan yang didapat. Para guru di sekolah pun harus mengawasi murid-muridnya sehingga tidak tergila-gila dengan media sosial yang bisa diakses dengan mudah. Di beberapa sekolah ada imbauan agar murid tidak membawa handphone ke dalam kelas, apalagi menghidupkannya.Mari kita awasi anak kita dari “guru” yang satu ini. (*)


Oleh : mpujayaprema | 06 Januari 2018 | Dibaca : 833 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?