Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


738899

Pengunjung hari ini : 121
Total pengunjung : 196958

Hits hari ini : 389
Total Hits : 738899

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Hewan yang Dikandangkan

Oleh : mpujayaprema | 20 Januari 2018 | Dibaca : 879 Pengunjung

TUMPEK yang jatuh pada Wuku Uye hari ini secara umum disebut sebagai Tumpek Kandang oleh masyarakat Bali. Karena ada istilah kandang maka umat Hindu di Bali hanya memberikan sesajen kepada hewan yang berada di dalam kandang. Hewan yang hidup liar dan tidak berada dalam kandang tidak diberikan sesajen. Namun sesajen itu sejatinya bukanlah untuk “memuja binatang dalam kandang itu” tetapi memuja Tuhan dengan tujuan memberikan wara nugraha agar hewan di dalam kandang itu sehat-sehat saja adanya.

Rupanya pemerintah pun dalam membuat undang-undang memperhatikan pula kearifan lokal masyarakat dalam hubungannya dengan binatang. Cobalah baca Undang-Undang No. 18 Tahun 2009 yang mengatur soal hewan. Ada tiga hal pokok dalam membagi jenis-jenis hewan itu, yakni hewan ternak, hewan peliharaan dan hewan liar. Pasal 1 ayat 3 menyebutkan: ”Hewan adalah binatang atau satwa yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di darat, air, dan/atau udara, baik yang dipelihara maupun yang di habitatnya.”

Pada ayat 4 disebutkan: “Hewan peliharaan adalah hewan yang kehidupannya untuk sebagian atau seluruhnya bergantung pada manusia untuk maksud tertentu.” Yang dimaksudkan adalah hewan itu untuk kesenangan, untuk menjaga rumah dan lainnya. Misalnya anjing, kucing, burung. Pada ayat 5 berbunyi: “Ternak adalah hewan peliharaan yang produknya diperuntukkan sebagai penghasil pangan, bahan baku industri, jasa, dan/atau hasil ikutannya yang terkait dengan pertanian”.Misalnya babi, sapi, kerbau, kambing, ayam dan sebagainya. Lalu di ayat 6 berbunyi: “Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat, air, dan/atau udara yang masih mempunyai sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia.” Contohnya singa, macan, gajah, ular, buaya.

Nah, lihatlah bagaimana kebiasaan umat Hindu di Bali. Yang dimohonkan waranugraha dengan sarana sesajen adalah hewan di ayat 5, yaitu hewan peliharaan yang diternakkan dengan tujuan produktif. Karena itu pula dulu Tumpek Uye atau Tumpek Kandang sering disebut sebagai oton wewalungan. Meski pun ada sedikit salah kaprah karena hewan tentu tak pernah punya wetonan karena kita tidak mencatatkan kapan lahirnya. Istilah wetonan wewalungan hanya untuk gampangnya mengingat hari Sabtu Kliwon itu.

Banyak orang yang sayang pada binatang dan memelihara binatang dengan telaten. Tetapi bukankah anjing, kucing, burung, ayam dan lain-lainnya tidak diberikan wetonan wewalungan? Penyebabnya kembali kepada tradisi lama, yang juga ada di dalam undang-undang, karena anjing dan kucing itu, misalnya, bukanlah ternak yang produknya diperuntukkan sebagai penghasil pangan. Tidak ada orang yang membuat lawar kucing, misalnya.

Jika kita cermati Puja Trisandhya ada doa yang berbunyi: “Sarvaprani hitankarah” artinya: hendaknya semua makhluk hidup berbahagia. Dan makhluk yang dimaksudkan itu juga termasuk binatang. Lalu kitab Yajurweda sloka XVI.48 menyebutkan, “berbuatlah agar semua orang, binatang-binatang dan semua makhluk hidup berbahagia”. Hal ini diperluas lagi dengan sloka Manawa Dharmasastra V.40yang menyebutkan: Osadyah pasawa wriksastir, yancah pakhanam praptah, yajnartham nidhanam praptah, praapnu wantyutsritih punah. Terjemahannya: Tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan, ternak, burung lainnya,yang telah dipakai untuk upacara akan lahir dalam tingkat yang lebih tinggi pada kelahirannya yang akan datang.Sloka ini yang dijadikan rujukan oleh umat Hindu bahwa meski binatang termasuk yang dikandangkan itu diberikan sesajen seolah-olah wetonan toh pada akhirnya bisa pula dijadikan “korban suci” untuk upacara yadnya. Contohnya babi bisa dijadikan sarana banten bebangkit dan ayam sudah umum dijadikan banten caru.

Sloka Manawa Dharmasastra ini dijadikan pegangan bahwasegala hasil bumi termasuk hewan yang dipakai korban suciakan tumbuh semakin baik dan hewan yang dibunuh akan “lahir kembali” dalam status yang lebih tinggi. Karena korban itu adalah “penyucian” maka buah yang dipetik dari pohonnya untuk persembahan akan membuat pohon itu berlipat buahnya pada musim selanjutnya. Dan hewan akan menjadi “suci” sehingga pada kelahirannya kelak, statusnya lebih baik dari semula.Itulah sebabnya hewan yang dijadikan “korban suci” dibuatkan ritual khusus sebelum dibunuh. Sedangkan tumbuh-tumbuhan yang buahnya dijadikan “korban suci” dibuatkan pula wetonan yakni pada hati Tumpeng Wariga. Sungguh Hindu agama yang sangat sempurna. (*)


Oleh : mpujayaprema | 20 Januari 2018 | Dibaca : 879 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?