Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


738892

Pengunjung hari ini : 120
Total pengunjung : 196957

Hits hari ini : 382
Total Hits : 738892

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

Perkawinan Menghasilkan Anak Suputra

Oleh : mpujayaprema | 27 Januari 2018 | Dibaca : 955 Pengunjung

KEMBALI ribut-ribut soal LGBT (Lesbiyan, Gay, Biseksual, dan Transgender). Ini disebabkan ada pembahasan rancangan perubahan KUHP yang sedang dilakukan DPR. Dalam rancangan itu ada keinginan yang besar untuk memperluas pidana bagi pelaku perzinahan yang dilakukan kaum LGBT yang selama ini tidak ditampung. Pasal yang ada saat ini hanya mengatur pidana bagi perzinaan secara umum antara lelaki dan perempuan. Tentu saja perzinaan itu termasuk yang dilakukan secara kekerasan, apalagi hal itu dipamerkan sehingga menjurus pada pornografi.

Keributan tambah riuh karena kaum LGBT juga gencar melakukan kampanye di berbagai negara, termasuk Indonesia, agar eksistensi mereka diakui secara formal. Artinya di negara-negara di mana kaum LGBT dianggap mempunyai penyimpangan bahkan dianggap suatu penyakit, mereka melakukan kampanye agar stigma itu dihapus bahkan keberadaan mereka dilegalkan. Tujuan akhir dari gerakan ini adalah adanya peraturan dalam bentuk undang-undang bahwa perkawinan sejenis itu sah secara hukum. Beberapa negara Barat sudah memperlakukan hal ini. Amerika Serikat yang dulu hanya mengakui perkawinan sejenis sah di 30 negara bagian, kini sudah seluruh negara bagian di sana mengakui perkawinan sejenis itu. Bisa jadi gerakan LGBT itu terinspirasi dari situasi di Amerika Serikat.

Di Indonesia tentu hal itu menjadi tantangan besar dan sangat mustahil perkawinan sejenis sampai mendapatkan pengesahan. Semua majelis agama di Indonesia menolak adanya perkawinan sejenis. Bahkan 10 fraksi di DPR semuanya menolak, meski sedikit ada “kesalah-pahaman” karena manuver Ketua MPR yang juga Ketua Umum PAN yang menyebutkan ada 5 fraksi mendukung LGBT.

Apakah agama Hindu bisa menerima perkawinan sejenis ini? Tentu saja seratus persen tidak menerima dan pastilah akan menolak jika itu dijadikan bahan perdebatan. Sudah jelas dalam agama Hindu tujuan perkawinan itu adalah melahirkan anak Suputra, anak yang berbhakti untuk meneruskan bhakti orang tuanya kepada leluhurnya. Perkawinan umat Hindu sangatlah sakral dan harus ada unsur pradana (ibu) dan unsur purusa (ayah).

Perkawinan dalam agama Hindu merupakan peristiwa suci dan suatu kewajiban jika saatnya tiba sesuai dengan Catur Asrama. Dalam kitab  Manava Dharmasastra IX. 96 disebutkan: Prnja nartha striyah, srstah samtarnartham ca manavah, tasmat sadahrano dharmah crutam, patnya sahaditah. Artinya: untuk menjadi ibu wanita yang diciptakan, dan untuk menjadi ayah, laki-laki itu yang diciptakan.

Bagaimana mungkin perkawinan sejenis menciptakan seorang ibu kalau keduanya adalah lelaki, yakni kaum gay. Begitu pula bagaimana mungkin ada yang menyandang status ayah dalam perkawinan sejenis kalau keduanya wanita, yakni kaum lesbian. Dan yang utama adalah bagaimana bisa lahir seorang anak dari perkawinan sejenis itu, apalagi anak yang Suputra? Jauh panggang dari api, sesuatu yang mustahil.

Belum lagi kalau proses perkawinan itu adalah sesuatu yang sakral. Apakah ada rohaniawan yang mau memimpin ritual untuk upacara perkawinan sejenis? Puja mantra apa yang dipakainya karena keduanya bukan berlainan kelamin? Kalau ritualnya saja tak ada bagaimana pula pemerintah mensahkan perkawinan sejenis itu? Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan jelas menyebutkan: “Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.” Ini artinya lewat ritual sesuai dengan agama yang dipeluk pasangan itu.

Perkawinan dalam agama Hindu menurut kitab Manavadharmasastra ada tiga hal pokok. Pertama disebut Dharmasampati. Pasangan mempelai secara bersama-sama melaksanakan dharma yang meliputi semua aktivitas dan kewajiban agama. Yang kedua Praja, rinciannya pasangan mempelai mampu melahirkan keturunan yang akan melanjutkan bhakti dan kewajiban kepada leluhur. Dengan lahirnya anak yang Suputra ini maka ada yang mengemban kewajiban dan utang orang tua kepada leluhurnya (pitra rna), utang kepada para Dewa (deva rna) dan utang kepada para guru suci (rsi rna). Yang ketiga disebut Rati. Pasangan mempelai dapat menikmati kepuasan seksual dan kepuasan-kepuasan lainnya yang tidak bertentangan dan berlandaskan ajaran agama. Ketiga hal pokok ini saling berkaitan.

Dengan demikian dalam uraian yang singkat ini saja sudah gugur keinginan kaum LGBT untuk mencapai cita-citanya sampai mewujudkan perkawinan sejenis disahkan di Indonesia. Apalagi agama lain selain Hindu lebih keras lagi melakukan perlawanan. (*)


Oleh : mpujayaprema | 27 Januari 2018 | Dibaca : 955 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?