Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


738900

Pengunjung hari ini : 121
Total pengunjung : 196958

Hits hari ini : 390
Total Hits : 738900

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Pilih Pemimpin yang Ideal

Oleh : mpujayaprema | 03 Februari 2018 | Dibaca : 833 Pengunjung

BELUM saatnya kampanye tetapi baliho dan spanduk sudah tersebar di seluruh pedesaan Bali untuk dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. Juga berbagai rapat umum atas nama deklarasi karena rapat umum atas nama kampanye belum boleh.

Sudahkah kita punya pilihan, pasangan mana yang akan dicoblos pada pilkada nanti? Mari kita lihat-lihat dulu calon gubernur itu sebelum menentukan pilihan. Coba baca kitab Sama Weda sloka 733. Di situ disebutkan: “Wahai para pemimpin, datangilah masyarakat dan bebaskan mereka dari penderitaan.” Dengan demikian pemimpin itu harus banyak datang ke desa untuk membuat masyarakat sejahtra. Artinya kita harus lihat mana calon gubernur yang punya program bagus untuk masyarakat dan siapa yang lebih banyak mendatangi masyarakat. Bukan datang saat menjelang pilkada saja, tetapi terus menerus datang jika ada persoalan di masyarakat.

Kedatangan pemimpin itu harus juga memberi teladan yang baik. Jangan datang untuk memberi bantuan membuat bale sabungan ayam. Jangan datang untuk meresmikan “turnamen ceki” sebuah turnamen yang tak jauh amat dari judi. Dalam kitab Bhagawad Gita III.21 ada disebutkan: Yad-yad acharati sreshthas, tad-tad eve taro janah, sa yat pramanam kurute, lokas tad anuvartate. Terjemahan bebasnya:  “Apapun juga yang dilakukan oleh orang besar (pemimpin), maka orang lain (masyarakat) akan mengikutinya. Contoh (teladan) apapun yang diberikannya, orang lain (masyarakat) akan meniru dan menurutinya.

Selain harus banyak mendatangi masyarakat dan memberi teladan yang baik, pemimpin pun harus melindungi warganya. Ini juga ada di dalam sloka XVIII.30 Yajur Weda yang berbunyi: acchinan napatrah praja anuviksasva. Artinya:  “Seorang pemimpin melindungi warganya tanpa menyakiti hati masyarakat.”

Sekarang tinggal kita yang berhati-hati untuk memilah dan lalu memilih, karena banyak kampanye dengan cara-cara klise seolah-olah semua calon gubernur memperjuangkan kepentingan rakyat. Kemiskinan rakyat dijadikan obyek kampanye dengan memberikan janji-janji bantuan, entah itu perbaikan balai banjar, pura dan malah uang kontan. Padahal yang harus dilakukan adalah apa program kerja jika calon itu terpilih dan beranikah membuat kontrak politik?

Ajaran Hindu tetang kepemimpinan itu banyak sekali. Yang paling banyak diumbar adalah ajaran Asta Brata, yaitu delapan syarat-syarat kepemimpinan. Ke delapan sifat-sifat itu mengambil dari alam. Ada juga ajaran yang lebih luas dalam kitab Chanakya Nitisastra, yang saat bulan purnama Kewulu yang lalu dibahas di Pura Jagadnatha Denpasar oleh nara sumber Dr. IB Putu Suamba. Lalu yang menarik tetapi tak banyak disebut-sebut adalah syarat-syarat seorang pemimpin yang dirangkum dalam Sad Warnaning Rajaniti.

Dalam buku Substance of Hindu Polity tulisan Cam Prakash Bamri, Sad Warnaning Rajaniti berarti enam syarat-syarat kepemimpinan yang ideal. Penekanannya adalah pemimpin yang ideal, dengan demikian calon gubernur itu haruslah sudah memenuhi persyaratan ini. Kalau ada calon yang “kurang ideal” seharusnya tidak dipilih. Atau kita harus memilih yang paling mendekati ideal.

Keenam syarat itu adalah Atmasampad, artinya berkepribadian mulia dan luhur. Yang kedua, Pradnya, artinya cerdas dan bijaksana. Yang ketiga, Utsaha, artinya kerja keras dan kreatif. Yang keempat, Abhigamika, artinya berpenampilan yang menarik. Yang kelima, Sakya Samanta, artinya bisa menyadarkan dan mengontrol bawahannya. Yang keenam, Aksudra Parisatha, artinya mampu memimpin persidangan, memimpin rapat, mengarahkan pembicaraan dan seterusnya.

Keenam syarat itu harus menyatu dan melebur ke dalam diri sang pemimpin. Kalau satu saja tak dipenuhinya, apalagi lebih banyak yang tidak dipenuhi, janganlah dipilih. Sekali lagi ini idealnya.

Bagaimana mampu menjadi gubernur yang baik kalau calonnya tidak cerdas dan bijaksana. Gubernur Mangku Pastika yang harus mundur karena sudah dua periode menjabat mengatakan dalam bukunya, pemimpin itu haruslah “lebih baik dari rata-rata orang yang dipimpinnya”. Baik dari segi kecerdasan, pendidikan, pengalaman, maupun kebijaksanaannya yang sudah teruji. Artinya ikuti juga rekam jejaknya.

Karena ada dua pasang calon gubernur dan wakil gubernur di Bali, maka mau tak mau kita harus memilih “kalau bukan ini ya itu”. Artinya kalau semuanya tidak ideal mari kita pilih yang terbaik dari yang tidak ideal itu. (*)


Oleh : mpujayaprema | 03 Februari 2018 | Dibaca : 833 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?