Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


738894

Pengunjung hari ini : 120
Total pengunjung : 196957

Hits hari ini : 384
Total Hits : 738894

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

Kapankah Akhir Zaman Tiba

Oleh : mpujayaprema | 10 Februari 2018 | Dibaca : 946 Pengunjung

DI YouTube, sebuah aplikasi yang menampung jutaan video berbagai ragam, banyak dijumpai para ustad (muslim) yang berbicara tentang “akhir zaman”. Yang dimaksudkannya adalah hari-hari atau bulan-bulan atau tahun-tahun menjelang kiamat. Berbagai tanda diuraikan dan ternyata lebih banyak yang berhubungan dengan dunia Arab di mana kitab suci umat Islam, Al Quran, turun ke bumi. Kesimpulannya adalah inilah saat-saat “akhir zaman” dan kalau disebutkan dengan sederhana kiamat akan datang tak lama lagi.

Tentu saja bumi yang dimaksudkan ini adalah bumi di mana kita berada. Bumi yang dihuni oleh penduduk yang beragam agama pula. Tentu saja kalau bumi ini kiamat maka seluruh penduduk, apa pun agamanya, akan kiamat pula. Bumi yang kita diami ini adalah satu-satunya planet yang berpenghuni. Apakah keyakinan agama tertentu akan serta merta pula bisa diterima oleh pemeluk agama lain? Bisa jadi pengertian “akhir zaman” berbeda-beda dan tanda-tandanya pun berbeda. Kalau begitu lantas bumi yang mana kiamat menurut agama Islam, bumi yang mana kiamat menurut agama Kristen, menurut agama Hindu dan seterusnya.

Kiamat atau “akhir zaman” bagi agama Hindu disebut dengan istilah Maha Pralaya. Ada kata Maha di sini, yang berarti inilah Pralaya yang paling besar, tak ada yang menyamakannya. Karena menurut Kitab Brahmanda Purana, Pralaya itu ada empat jenis. Yang pertama Nityapralaya. Ini bisa disebut “kiamat lokal” yaitu semua  makhluk hidup pasti mengalami. Yang kedua Brahmapralaya, yang ketiga Praktrapralaya dan yang keempat Atyantikapralaya. Jika keempat pralaya ini digabungkan maka itulah Maha Pralaya, semuanya binasa tanpa bekas dan semuanya kemudian kembali kepada penciptaan yang baru.

Yang menjadi pertanyaan kapan Maha Pralaya itu akan terjadi? Disebut-sebut dalam kitab Brahmanda Purana itu bahwa Maha Pralaya terjadi pada akhir zaman Kaliyuga. Ini adalah zaman terakhir dari empat zaman (yuga) yakni Satyayuga adalah zaman yang paling baik, menyusul Tretayuga, Dvarayuga dan terakhir Kaliyuga. Pertanyaan selanjutnya pun muncul yakni kapan zaman Kaliyuga itu?

Orang sepakat bahwa saat inilah zaman Kaliyuga. Yang diperdebatkan dan perdebatan masalah agama tentu tak akan ada akhirnya adalah kapan Kaliyuga berakhir dan kapan dimulainya. Tak ada rincian yang pasti karena semuanya berupa dugaan dari cara menafsirkan kitab-kitab agama. Dan seperti halnya tafsir, orang bebas untuk tidak sepakat atau sepakat.

Kaliyuga disebut juga zaman kegelapan tak disepakati kapan dimulainya. Ada kitab Surya Siddhanta (kitab ilmu astronomis yang menjadi dasar perhitungan kalender Hindu dan Buddha), yang menyebutkan Kaliyuga dimulai tengah malam pada pukul 00.00 (atau 24.00), pada tanggal 18 Februari 3102 SM menurut perhitungan kalender Julian. Atau tanggal 23 Januari 3102 SM menurut perhitungan kalender Gregorian. Saat itu diyakini sebagai meninggalnya Sri Khresna. Lalu disebutkan Kaliyuga berlangsung selama 432.000 tahun. Itu artinya sampai sekarang Kaliyuga masih berlangsung.

Ada yang bilang, Kaliyuga dimulai pada hari kesepuluh Bharatayuda, perang saudara di Kurusetra antara Pandawa dan Korawa. Kapan itu persisnya? Tak ada seorang pun yang bisa menghitung dengan tepat. Ada pula yang menyebutkan Kaliyuga dimulai pada penobatan Raja Parikesit. Penafsiran ini lebih banyak muncul di Jawa, karena tokoh Parikesit lebih “hidup” di Jawa. Lalu yang mana kita percayai?

Yang jelas, Kaliyuga adalah zaman yang tergelap dari zaman (yuga) yang lainnya. Pergantian yuga dicirikan oleh sejauh mana empat tiang penyangga dharma itu kokoh. Empat tiang penyangga dharma itu adalah pengen­dalian diri (tapah), kesucian (saucam), sifat karunia (daya) dan kejujuran (satyam). Di zaman Satya, keempat tiang penyangga dharma ini kokoh kuat, di zaman Treta mulai berkurang, di zaman Dva­ra mulai keropos, di zaman Kali sudah ambruk. Inilah zaman terburuk dalam sejarah waktu yang tak terbayangkan oleh kemam­puan berpikir manusia.

Kaliyuga inilah “akhir zaman”. Tapi kapan “akhir zaman” ini berakhir, siapa pula yang sanggup menghitungnya karena sudah ribuan tahun “akhir zaman” berlalu? Lebih bijak kalau kita tak usah risau dengan “akhir zaman”, lebih baik mempersiapkan Pralaya kecil yakni Nityapralaya yaitu mempersiapkan kematian. Apa yang perlu disiapkan, tak lain adalah berkarma yang baik karena hanya karma baik yang bisa kita bawa ke dunia sana. (*)


Oleh : mpujayaprema | 10 Februari 2018 | Dibaca : 946 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?