Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


738895

Pengunjung hari ini : 120
Total pengunjung : 196957

Hits hari ini : 385
Total Hits : 738895

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

Tetap Tersenyum Meski Kalah

Oleh : mpujayaprema | 17 Februari 2018 | Dibaca : 646 Pengunjung

PILKADA yang damai telah dideklarasikan di Provinsi Jawa Timur. Kedua kandidat sepakat untuk menyelenggarakan kampanye Pilkada tanpa mengungkit isu-isu bernuansa SARA. Begitu pula setelah hasil Pilkada diumumkan, keduanya sepakat untuk tidak akan melakukan gugatan bagi yang kebetulan kalah. Ini artinya mereka percaya bahwa tidak terjadi kecurangan.

Kebetulan kedua kandidat di Jawa Timur berlatar belakang Nahdhatul Ulama (NU) yang sangat kuat secara tradisi menghormati para ulama NU. Kiyai NU di pesantren-pesantren ini sudah teruji untuk berbeda pendapat dengan santun. Seharusnya di Bali pun hal seperti ini sangat mungkin terjadi. Bukankah kedua kandidat di Bali sama-sama orang Bali dan sama-sama pula orang Hindu? Sangatlah mustahil isu agama dibawa-bawa. Namun kenyataannya saat masa-masa “sosialisasi dan deklarasi” (karena kampanye baru dimulai hari ini) ternyata banyak yang bersentuhan dengan agama. Misalnya, ada pengempon pura mendeklarasikan mendukung salah satu calon. Juga ada banjar adat yang menyatakan kompak mendukung salah satu calon.

Apakah kedua kandidat di Bali mendeklarasikan kampanye damai? Belum ada, mungkin karena kampanye baru dimulai. Atau memang tidak diperlukan karena secara tidak tertulis semuanya sepakat untuk menjaga Bali. Kalau ini yang terjadi tentu bagus. Menang dan kalah dalam Pilkada tak harus membuat masyarakat Bali terkotak-kotak. Siapa pun yang menjadi gubernur tetap saja orang Bali dan beragama Hindu, yang berarti tak ada masalah. Menang atau kalah tetap mekenyem – artinya tetap tersenyum.

Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Ini kata-kata bijak yang sering dikatakan orang. Namun dalam urusan Pilkada nampaknya tak sepenuhnya kata itu punya arti. Kalah berarti taruhannya besar karena uang yang dipakai selama kampanye dan runtutannya terbilang besar, milyaran rupiah. Kedua kandidat harus sama-sama “membeli suara” ke masyarakat berupa bantuan sosial (bansos), menyumbang berbagai kebutuhan, belum lagi biaya alat peraga kampanye. Uang milyaran itu tak sebanding dengan gaji dan tunjangan jabatan sebagai gubernur atau bupati selama lima tahun. Betul-betul sebuah pertaruhan yang melibatkan uang besar.

Namun kitab-kitab Ithiasa banyak memberikan contoh bahwa kekalahan itu harus tetap dijalani dengan damai tanpa protes. Tak harus terjadi bentrokan dan saling serang, meski uang yang dipertaruhkan lenyap bagi yang kalah.Dalam ephos Mahabharataada kekalahan telak kaum Pandawa yang harus dijadikan pelajaran berharga dalam kehidupan bangsa Kuru itu. Yakni ketika Pandawa kalah bermain dadu melawan Kurawa. Taruhannya besar bahkan ketika uang Pandawa sudah habis yang dipertaruhkan adalah istrinya.

Pandawa tahu ada kecurangan dan “wasit” yang tidak netral. TapiPandawa Lima tetap saja bertaruh untuk memuaskan nafsunya berjudi. Harta benda ludes di meja judi. Pada akhirnya istri mereka, Drupadi, dijadikan taruhan. Ternyata juga kalah. Akhirnya semua dilucuti pakaiannya, termasuk pakaian Drupadi. Untungnya, Drupadi yang tak tahu kalau dirinya dijadikan bahan pertaruhan dilindungi Hyang Kuasa sehingga ketika pakaiannya dilucuti Duryodana, kain yang dikenakannya tak ada habis-habisnya.

Apakah dalam Pilkada “wasit” benar-benar netral? Semoga itu yang terjadi. Tetapi apakah “wasit” dalam hal ini Bawaslu benar-benar bertindak adil dan memantau kenetralan pegawai negeri, misalnya? Kalau ada pegawai negeri yang tidak netral karena merasa cuma mengikuti ajakan atasannya, yaitu Bupati, atau setidak-tidaknya mereka berani tidak netral karena toh atasannya (Bupati) tak akan menindak, apakah Bawaslu berani bertindak? Seharusnya Bawaslu juga meminta Bupati itu netral karena meski pun dia pejabat publik yang dipilih rakyat, mereka itu tergolong pegawai negara karena menerima gaji dari negara.

Pandawa pun tahu “wasit” tidak netral yakni Prabu Drona. Juga ada provokator yang selalu membela Kurawa dan memojokkan Pandawa, yaitu Sangkuni. Tetapi apa yang terjadi? Ketika Pandawa kalah dalam bertaruh, mereka menerima hukuman yang disepakati. Yakni 12 tahun masuk ke hutan dan setahun dalam penyamaran. Pandawa menghargai kekalahan ini. Mereka tetap mekenyem (tersenyum). Mereka tahu karma phala akan berjalan.

Mudah-mudahan dalam Pilkada di Bali ini siapa pun yang kalah akan meniru Pandawa. Tetap tersenyum meski milyaran uang sudah dihabiskan. Yang menang nanti akan menanggung karma buruk kalau ternyata pertaruhan itu memakai kecurangan. (*)


Oleh : mpujayaprema | 17 Februari 2018 | Dibaca : 646 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?