Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


738896

Pengunjung hari ini : 120
Total pengunjung : 196957

Hits hari ini : 386
Total Hits : 738896

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

Gagasan Joged Anyar

Oleh : mpujayaprema | 12 Februari 2018 | Dibaca : 720 Pengunjung

DINAS Kebudayaan Bali kini gencar turun ke desa-desa untuk mensosialisasikan bagaimana menangkal pengaruh buruk dari adanya joged porno yang oleh masyarakat Bali sering disebut “joged jaruh”. Joged porno ini memang sudah sangat merusak seni tari Bali, bukan saja merusak keindahan tari joged sebagai tari pergaulan rakyat tetapi sekaligus telah mencemarkan keagungan seni tari itu sendiri.

Pada kesempatan sosialisasi di Kabupaten Badung, Dinas Kebudayaan menggandeng budayawan akademisi yakni Prof. Dr. I Wayan Dibia, guru besar di Institut Seni Indonesia Denpasar. Di situ Prof Dibia melontarkan gagasannya untuk memperkenalkan Joged Anyar. Dibia yakin potensi yang ada di Kabupaten Badung memungkinkan hal itu.

Apa itu Joged Anyar? Prof Dibia menyebutkan pakem-pakem tari joged tetap dipertahankan namun ada pengembangan dalam gerak tari mau pun pengibingnya. Kemasannya bisa menjadi tari kelompok sehingga menjadi tari pergaulan yang lebih semarak. Tentu pula pengibingnya juga berkelompok.  Dengan demikian seolah-olah ada tari joged masal di panggung yang bisa mencerminkan bagaimana pergaulan sehat yang diwujudkan dalam bentuk kesenian rakyat. Ini sangat mungkin dikembangkan mengingat kecendrungan sekarang yang menanggap tari joged itu kebanyakan kelompok-kelompok kreatifitas seperti penggemar motor dan sebagainya. Terbukti selama ini munculnya “joged jaruh” itu justru ditanggap oleh kelompok-kelompok ini.

Sesungguhnya kalau kita melihat ke masa lalu, tari joged itu mengalami berbagai variasi. Tak semua penari mencari pengibing. Ada penari yang memainkan peran sakral dan tidak mencari pengibing. Ini umumnya untuk kepentingan ritual kenapa masyarakat menanggap joged. Misalnya untuk “menyempurnakan” ritual wetonan anak. Joged yang sakral itu menari menyertai anak yang sedang menjalani ritual. Harapan yang dicita-citakan adalah sang anak kelak setelah besar menjadi penari yang baik dan punya sifat-sifat welas asih. Karena itu pada penari selanjutnya, joged mencari pengibing dari orang yang mengerti tari pergaulan yang sopan. Antara joged dan pengibing kemudian membuat semacam fragmen bagaimana pergaulan muda-mudi yang selalu dilandasi keceriaan dalam batas-batas kesopanan. Adegan ini biasa disebut Joged Mapang.

Jika kita melihat lebih jauh lagi, dulu ada yang disebut Joged Leko. Ini berkembang di Kabupaten Tabanan. Tari joged ini mendekati tari Legong Kraton namun tetap dalam iringan gamelan rindik bambu, sebagaimana gamelan pengiring tari joged pada umumnya. Begitu pula di Kabupaten Karangasem ada joged yang dianggap sakral dan hanya ditarikan pada saat-saat tertentu. Joged itu disebut Joged Bisama.

Sebenarnya kalau para budayawan kita mau menggali lebih jauh lagi maka banyak variasi yang bisa dimunculkan dari gerak tari joged ini. Tentu saja gerak itu tetap mencerminkan tari Bali yang agung dan luhur, bukan sekadar menari erotis sebagai mana yang banyak terjadi saat ini. Rektor ISI Denpasar, Gde Arya, belum lama ini juga menghidupkan kembali tari joged yang disebutnya sebagai “pakem tradisi” di desa kelahirannya, Desa Pujungan Tabanan. Tak ada gerakan erotis baik dari penarinya mau pun pengibingnya. Joged itu kemudian dipakai untuk kegiatan sakral di Pasraman Manikgeni Pujungan, misalnya, untuk mengiringi ritual manusa yadnya seperti upacara tiga bulanan mau pun wetonan.

Kalau kita melihat akar permasalahan saat ini kenapa “joged jaruh” berkembang, itu karena kurangnya pemahaman kita dan juga minimnya dokumentasi yang ada tentang ragam tari joged di masa lalu. Kemudian adanya pengaruh teknologi yang memungkinkan tiru meniru budaya tetangga sehingga tari joged pun meniru gerak-gerak tari jaipongan yang terkenal di Jawa Barat. Tentu gerak itu disertai dengan tetabuhan joged yang juga meniru tetabuhan jaipong. Kebetulan pula banyak hal yang mirip antara joged dan jaipongan. Cuma masalahnya kemudian adalah “joged jaipongan” keblablasan dengan gerak erotis yang menjurus ke porno. Padahal tari jaipong itu sendiri “gerak kemesraannya” tetap berupa simbol-simbol. Lihatlah “joged jaruh” yang banyak ditayangkan di YouTube, gerak erotis itu sudah sangat vulgar dan sungguh memalukan sebagai sebuah kesenian, meski itu disebut kesenian rakyat.

Langkah Dinas Kebudayaan Provinsi Bali yang kini gencar mensosialisasikan joged sebagai tari rakyat yang luhur memang patut diapresiasi. Keadaan sekarang ini sudah bisa disebutkan sebagai “darurat joged porno”. Tayangan joged jenis itu sudah banyak di YouTube. Karena itu sesungguhnya langkah Dinas Kebudayaan ini harusnya diimbangi dengan mengadakan pertemuan dengan para pengunggah YouTube (biasa disebut youtuber) agar mereka dengan suka rela menghapus tayangan itu. Mereka harus bersedia mengorbankan ratting penonton di akun terbuka itu demi kehormatan kesenian Bali. Mereka telah melakukan apa yang oleh pepatah disebut “akibat nila setitik rusak susu sebelanga” akibat joged porno ini rusak seluruhnya seni tari Bali. Hanya mereka yang bisa menghapusnya.

Kalau mengandalkan sanksi kepada penanggap joged porno sepertinya kurang mempan lagi. Dua tahun lalu di Kabupaten Jembrana sanksi itu sudah diberlakukan cukup keras. Panitia Kontes Mobil Modifikasi menanggap joged yang hanya berbusana celana dalam dan kutang saja. Ini keterlaluan pornonya. Sanksi sudah diberikan bahkan panitia harus melaksanakan ritual caru di tempat pementasan. Namun peristiwa itu terulang kembali di Kabupaten Buleleng, penanggapnya juga penggemar mobil dan motor modifikasi.

Jadi setidaknya tiga hal yang harus dilakukan. Pertama memberi sanksi yang keras bahkan diproses secara hukum bagi penari joged porno dan penanggapnya. Yang kedua memberi sanksi kepada pengunggah joged porno ke media sosial termasuk YouTube dan meminta mereka untuk menghapus tayangan itu. Yang ketiga seperti yang dilakukan Dinas Kebudayaan, terjun ke desa-desa memberitahu bagaimana harus menjaga seni tari Bali yang luhur ini seraya memberikan alternatif, seperti yang digagas Prof Dibia dengan Joged Anyar. Semoga seni tari Bali tak kehilangan taksu oleh kasus “joged jaruh” ini. (*)


Oleh : mpujayaprema | 12 Februari 2018 | Dibaca : 720 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?