Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


717585

Pengunjung hari ini : 215
Total pengunjung : 188553

Hits hari ini : 473
Total Hits : 717585

Pengunjung Online: 1


Twitter
Baca posting

Mahar

Oleh : mpujayaprema | 13 Januari 2018 | Dibaca : 1143 Pengunjung

MAHAR itu dalam tradisi Nusantara sejatinya sesuatu yang sakral. Meski di setiap daerah namanya berbeda, mahar dikaitkan dengan perkawinan. Mahar diberikan oleh pihak mempelai laki kepada pihak mempelai perempuan sebelum pernikahan secara ritual. Di kalangan umat muslim mahar sering disebut sebagai mas kawin, karena memang ada unsur emas yang diberikan.

Tradisi mahar sudah berumur tua. Budaya ini masuk ke wilayah agama, baik dikaitkan dengan ayat-ayat suci mau pun melalui unsur-unsur yang ada di dalam mahar itu. Di kalangan muslim biasa mahar berupa “seperangkat alat sholat” selain unsur lain berupa harta. Di kalangan umat Hindu di Bali pemberian mahar disertai dengan alat-alat untuk sarana persembahyangan. Runtutan lain tergantung tradisi setempat, ada yang disertai seekor babi, ada yang meminta empat karung beras. Namun mahar terkecil bisa berupa buah-buahan dan bunga disertai hal yang pokok yakni “pengganti air susu ibu”. Seorang perempuan yang akan diambil oleh lelaki yang jadi suaminya meninggalkan keluarga asal dan pihak lelaki wajib menebus “air susu ibu” yang diberikan ketika masih bayi. Besarnya 175 uang kepeng (disebut alebak) dan kini dikonversi menjadi Rp 175 ribu.

Sekarang ramai soal mahar politik. Seorang calon gubernur atau calon bupati memberi mahar kepada partai yang mengusungnya. Mahar ini tentu sangat beda dengan mahar dalam perkawinan yang sangat sakral. Namun yang sama, tanpa ada mahar belum ada ikatan persetujuan yang pasti.

Adalah La Nyalla Mattalitti, Ketua KADIN Jawa Timur, yang menyulut ramainya mahar politik. La Nyalla menyebut Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subiyanto meminta uang untuk syarat mendapatkan rekomendasi sebagai calon  gubernur. Besarnya Rp 40 Milyar. Heboh karena mahar sejenis ini ada di banyak tempat. Tapi apakah itu benar mahar? La Nyalla bahkan kemudian membantah bahwa itu mahar politik tetapi sebagai tanggung jawab dia untuk menyediakan dana jika sudah menjadi calon. Ia bahkan menyebut telah siapkan dana lebih dari ratusan milyar yang dikumpulkan dari para pengusaha. Luar biasa.

Saya setuju itu bukan mahar. Bukan saja dengan alasan agar nilai kesakralan mahar tidak tercemar, sejatinya biaya mengikuti pilkada itu amatlah besar. Tak mungkin seseorang hanya berbekal elektabilitas bisa jadi gubernur tanpa mengeluarkan uang. Apalagi kalau calon itu bukan kader partai pengusung. Dalam versi Anies Baswedan yang kini Gubernur Jakarta, mahar itu tak ada tetapi biaya pilkada dicari dengan urunan.

 Saksi di tempat pemungutan suara (TPS) adalah salah satu penyedot biaya tinggi. Di Jawa Timur untuk pilkada 2018 ini ada 68.511 TPS. Setiap TPS ada 2 saksi dari masing-masing calon, jadi dibutuhkan 137.022 saksi. Kalau masing-masing saksi honornya Rp 150.000 (honor saksi Pemilu 2014), maka biaya yang dibutuhkan Rp 41, 1 milyar lebih. Jadi angka yang disodorkan Prabowo masuk akal. Ini belum biaya kampanye dengan alat peraganya. Dan masuk akal pula La Nyala menyiapkan dana ratusan milyar rupiah.

Mahal sekali biaya menjadi bupati dan gubernur. Pantas saja kalau ada bupati dan gubernur akhirnya masuk bui. Setelah menjabat dia berusaha mengembalikan modal dan kalau “caranya kurang rapi” bisa dicium Komisi Pemberantasan Korupsi. Mengembalikan modal kampanye mengandalkan gaji tentu mustahil. Nah, kenapa tidak meributkan biaya pilkada yang mahal ini ketimbang meributkan mahar? Misalnya tak usah ada saksi di TPS, cukup petugas KPU yang netral. Atau cara lain lagi, masak saya harus ikut mikir?

(Diambil dari Koran Tempo Akhir Pekan 20 Januari 2018)


Oleh : mpujayaprema | 13 Januari 2018 | Dibaca : 1143 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?