Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


717094

Pengunjung hari ini : 229
Total pengunjung : 188338

Hits hari ini : 579
Total Hits : 717094

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Cabul

Oleh : mpujayaprema | 27 Januari 2018 | Dibaca : 1055 Pengunjung

Mungkin kita sudah mulai kehilangan cara untuk mengungkapkan perasaan dengan sopan dan bermartabat. Kita dirasuki cara yang penuh dengan kenistaan, apakah itu mengungkap perasaan dalam bentuk perkataan mau pun dalam perbuatan. Kita sudah terlalu cabul.

Cabul menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia tak hanya melulu urusan seks tetapi seluruh cara mengungkapkan perasaan. Cabul berarti keji dan kotor, perbuatan yang tidak senonoh, melanggar kesopanan dan kesusilaan. Kenapa kita suka bercabul-cabul, adakah karena kita di tengah kemajuan teknologi komunikasi ini suka bercakap-cakap dengan orang yang belum tentu ada? Cobalah perhatikan percakapan di media sosial. Kata-kata yang cabul dalam arti tidak senonoh dan jauh dari kesopanan banyak diumbar. Di antara para pengumbar kata cabul itu pun tidak saling mengenal, ia hanya membaca apa yang tersirat. Bisa jadi pula para pecabul di media sosial ini menggunakan akun abal-abal, baik dengan tujuan hanya iseng atau memang sengaja ingin menumpahkan hasrat setannya untuk memaki dan mencaci. Dan ketika para abal-abal dan setan ini (seolah-olah) bertengkar kita yang bukan abal-abal dan setan bisa saja cuek. Namun lama-lama ada yang harus diprihatinkan, jangan-jangan ini sudah menjadi wajah kita bersama. Harus ada upaya untuk mengembalikan marwah bangsa ini agar “kecabulan tidak menjadi panglima”.

Kecabulan tentu tak ada kaitan dengan bencana alam, seperti gempa bumi, misalnya. Yang mengaitkan keduanya itu juga otaknya cabul alias kotor. Namun dua hal yang tidak berhubungan ini sama-sama menimbulkan bencana. Gempa membuat rumah banyak yang rubuh dan perbuatan cabul meruntuhkan nilai-nilai luhur sebagai manusia yang berbudaya. Cobalah baca kasus pelecehan yang dilakukan oleh perawat lelaki di sebuah rumah sakit di Surabaya. Perawat itu meraba-raba dada seorang pasien wanita yang baru saja selesai menjalani operasi dan belum sepenuhnya pulih untuk melakukan perlawanan karena masih terpengaruh bius. Setan apa yang masuk ke dalam tubuh perawat itu sehingga nafsu cabulnya muncul di hadapan pasien yang seharusnya dia rawat dan dia lindungi? Kini pihak rumah sakit sudah memecat perawat itu sembari menyebutkan bahwa rumah sakit yang dikelolanya sudah mensyaratkan standar yang optimal. Kita pun terasa seperti dibodohi, standar tinggi macam apa yang diberlakukan kalau pasien wanita yang tengah operasi didampingi perawat lelaki? Semua pasien yang menjalani operasi pasti mengenakan busana khusus yang lebih banyak terbuka.

Namun urusan cabul-mencabuli – dalam kamus disebut percabulan – jangan pula berdasarkan dugaan, perkiraan, atau pikiran ngeres kita sendiri. Apalagi kalau hal itu dimasukkan ke dalam aturan formal semacam undang-undang. Hal ini menjadi kekhawatiran ketika Dewan Perwakilan Rakyat tengah menggodok rancangan perubahan tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang memperluas sanksi pidana untuk kasus perzinahan.

Ada pasal yang mencantumkan perbuatan cabul berdasarkan “sesama jenis kelaminnya”. Ini dampaknya bisa luas. Dua lelaki akrab namun bukan penyandang LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender), bisa dilarang menginap di hotel hanya karena “diduga berbuat cabul”. Atau digrebek paksa ke dalam kamar. Undang-undang tak seharusnya diskriminatif dan juga tak mengurusi hal-hal privat. Urusan percabulan itu ketika hal-hal tak senonoh dan melanggar susila diperlihatkan di muka umum dan dilakukan oleh siapa pun, apakah dia orang sehat, penyandang tunanetra, tuna rungu atau penyandang LGBT.

(Diambil dari Koran Tempo Akhir Pekan 27 Januari 2018)


Oleh : mpujayaprema | 27 Januari 2018 | Dibaca : 1055 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?