Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


698893

Pengunjung hari ini : 289
Total pengunjung : 180368

Hits hari ini : 546
Total Hits : 698893

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

Memuja Saraswati Tepat Waktu

Oleh : mpujayaprema | 10 Maret 2018 | Dibaca : 1042 Pengunjung

MEMUJA dalam ulasan ini adalah dalam pengertian memuja turunnya Saraswati, dewi ilmu pengetahuan. Bukan memuja Dewi Saraswati sehari-hari. Kalau memuja setiap saat kita tak perlu membuat banten khusus, cukup dengan melafalkan Mantram Saraswati dengan sarana bunga seadanya. Tetapi kalau kita memuja Dewi pada saat turunnya, ada banten khusus untuk itu. Ibaratnya turunnya ilmu pengetahuan ini sebagai wetonan Saraswati.

Dewi Saraswati turun pada hari Sabtu Wuku Watugunung, sebagai wuku terakhir dalam wariga yang dipakai umat Hindu Nusantara. Setelah turunnya ilmu pengetahuan itu dilanjutkan dengan hari-hari yang penuh dengan penyucian diri, seperti banyu pinaruh, soma ribek, sabuh mas, pager wesi sampai ditutup dengan Tumpek Landep. Karena itulah dalam hal pemujaan wetonan Saraswati marilah kita tepat waktu.

Masalahnya adalah Hari Saraswati yang berlangsung Sabtu 17 Maret yang akan datang bertepatan dengan Hari Raya Nyepi. Lalu hari mana yang harus “dikalahkan”? Ada uger-uger (patokan) yang selama ini dipakai untuk ritual agama Hindu di Bali yang dikenal dengan “dina alah oleh wuku, wuku alah oleh sasih” yang artinya “hari dikalahkan oleh wuku dan wuku dikalahkan oleh sasih”. Hari Saraswati berpedoman pada hari (dina) dan wuku, maka ia harus “dikalahkan” oleh Hari Raya Nyepi yang berpedoman pada sasih. Mungkin oleh sebab ini PHDI Bali memberikan pedoman agar perayaan Saraswati sudah selesai dilakukan sebelum pukul 06.00 waktu setempat.

Masalahnya apakah waktu yang disarankan itu sudah tepat? Sama sekali tidak tepat. Hari berganti menurut wariga adalah pada saat matahari terbit yang disesuaikan pada pukul 06.00 pagi. Sebelum waktu itu maka menjadi milik hari kemarinnya. Bagaimana kita memuja Dewi Saraswati kalau hari itu masih Jumat dan Sang Dewi belum turun ke bumi? Wetonan tak bisa diubah harinya.

Pergantian hari itu berbeda-beda menurut sistem kalender. Pergantian hari  Tahun Masehi pada saat tengah malam, pukul 00.00. Sedang Tahun Hijrah yang digunakan umat Islam (dan sekarang diikuiti pula oleh Tahun Jawa), pergantian harinya dimulai magrib pada hari tersebut. Jadi, malam hari ini setelah magrib adalah milik hari esoknya. Karena itu umat Islam, misalnya, menyebut “malam Jumat” padahalhari itu Kamis malam yang biasa dikenal di Bali.

Kalau begitu pergantian hari menurut wariga, kapan sebaiknya memuja Dewi Saraswati untuk merayakan wetonan-nya yang pas Sabtu Wuku Watugunung? Tetaplah pada hari itu, jangan hari lain. Namun karena bertepatan dengan Nyepi maka jangan sampai melanggar brata penyepian. Misalnya, cukup Dewi Saraswati dipuja di merajan rumah sendiri, jadi tidak perlu keluar pekarangan. Atau di kamar suci kalau ada. Bolehkah menyalakan dupa? Boleh, karena dupa pada persembahyangan adalah “saksi Surya Raditya” sementara “geni” dalam brata amati geni dimaksudkan sebagai “api nafsu”.

Bolehkah memuja sambil melafalkan Mantram Saraswati? Tentu saja boleh dan bagus sekali. Brata penyepian tidak ada monabrata (berdiam diri) seperti pada Hari Siwaratri. Kalau mekidung dan membunyikan genta lihat situasi. Kalau merajan letaknya jauh dari rumah penduduk tetangga, bisa saja genta dibunyikan. Kalau dekat sekali sebaiknya jangan karena bisa mengganggu tetangga yang barangkali sangat taat pada brata penyepian.

Artinya, khusus Hari Saraswati tahun ini, kita jangan memuja Dewi Saraswati di pura yang jauh dari rumah. Karena hal ini bertentangan dengan amati lelungan. Prinsipnya kita tetap memuja Dewi Saraswati pada hari Nyepi itu sendiri karena kaitannya adalah runtutan setelah itu, esoknya yang bertepatan dengan Ngembak Geni kita melakukan penyucian banyu pinaruh.

Kesempatan Nyepi justru kita bisa membaca kitab suci atau lontar pada hari Saraswati. Tentu kita membaca kitab-kitab itu setelah melakukan persembahyangan kepada Dewi Ilmu Pengetahuan ini.Di masa lalu ada kebiasaan yang salah di Bali. Anak-anak justru dilarang membaca buku pelajaran, termasuk buku agama di Hari Saraswati. Itu kebiasaan yang salah. Yang benar adalah mari kita hormati semua kitab (buku pelajaran, buku sastra, buku agama, lontar dan sejenisnya) di Hari Saraswati dengan memberikan persembahan sesajen dan tirta lalu kita baca dalam keadaan yang suci agar meresap.

Mari kita berdoa:Om Saraswati namastu bhayam, warade kama rupini, sidharambhan kari syami, siddhir bhawantu me sada.


Oleh : mpujayaprema | 10 Maret 2018 | Dibaca : 1042 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?