Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


698884

Pengunjung hari ini : 288
Total pengunjung : 180367

Hits hari ini : 537
Total Hits : 698884

Pengunjung Online: 1


Twitter
Baca posting

Selamatkan Isi Lontar

Oleh : mpujayaprema | 24 Maret 2018 | Dibaca : 977 Pengunjung

MASIH banyak keluhan yang terdengar dari para pengelola museum atau perpustakaan yang mengkhususkan pada penyimpanan lontar. Keluhan itu adalah semakin minimnya peminat yang membaca lontar. Kalau peminatnya saja minim, bagaimana pula orang yang mempelajari isi lontar itu, pastilah amat sedikit jumlahnya. Berangkat dari sini maka ada kekhawatiran bahwa ilmu yang ada di dalam lontar itu tak banyak diketahui orang dan lama-lama akan hilang ditelan zaman. Bagaimana pula rujukan untuk ritual keagamaan yang sumbernya ada di dalam lontar itu, pastilah tak bisa langgeng kalau yang membaca lontar itu sedikit.

Museum Gedung Kirtya di Singarajayang menyimpan ratusan lontar, pengunjung sangat sepi. Begitu pula di Pusat Kajian Lontar Universitas Udayana Denpasar, jarang sekali ada mahasiswa dan dosen peneliti yang membaca-baca lontar.  Kalau pun ada mereka umumnya mahasiswa Sastra Bali dan Sastra Jawa Kuno yang berada di bawah Fakultas Ilmu Budaya yang dulu dikenal sebagai Fakultas Sastra. Mahasiswa dari fakultas lain jarang yang berminat padahal koleksi lontar di sana bukan sekadar masalah budaya dan agama, ada lintas ilmu seperti  politik, ekonomi dan kesehatan.

Tetapi apakah masalah membaca lontar yang semakin kecil peminatnya menjadi sesuatu yang memprihatinkan? Seharusnya tidak, jika yang dimaksudkan adalah membaca apa yang tersurat di dalam lontar itu secara phisik. Artinya membuka-buka lembar lontar yang beraksara Bali yang ditulis para leluhur di daun rontal. Karena yang penting bukan membaca secara phisik dari sebuah lontar, tetapi mempelajari apa isi lontar itu. Dengan demikian ilmu yang tersurat di dalam lontar dan petunjuk ritual yang ditulis di dalam lontar, sesungguhnya tetap bisa dipelajari jika lontar itu sudah disalin ke dalam tulisan latin disertai terjemahan. Hal itu sudah banyak yang dilakukan baik oleh pihak swasta (perorangan) mau pun pihak pemerintah. Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, misalnya, sudah banyak melakukan terjemahan lontar-lontar yang berkaitan dengan ritual yang dijadikan acuan dalam melaksanakan yadnya pada umat Hindu di Bali.

Di era teknologi canggih saat ini keberadaan lontar haruslah dianggap “isinya” yang utama, bukan bentuk phisiknya yang bisa rusak ditelan waktu. Seharusnya ada pandangan yang lebih moderen saat ini dalam menyikapi lontar. Yakni, janganlah lontar itu dikatagorikan barang keramat yang setiap saat diberikan sesajen dan tidak bisa dibaca sembarang orang. Kalau lontar disucikan memang boleh saja, dalam pengertian cukup ditaruh di tempat yang baik dan sebagai warisan leluhur diberikan sesajen sebagai rasa syukur, misalnya, pada Hari Saraswati.

Lontar haruslah dianggap sebagai  sarana untuk menulis pada zamannya. Pada saat belum ditemukan kertas dan alat tulis lain, media lontar diciptakan para leluhur kita. Pada saat alat tulis kertas ada, orang tentu menulis di kertas. Bahkan kini pada saat ada komputer orang menulis di komputer dan disimpan lewat CD (compact disc) atau flashdisk. Maka CD dan flashdisk saat ini adalah “lontar yang moderen”. Karena itu seharusnya lontar disalin ke dalam bentuk digital. Bahkan kemudian bisa diunggah dalam sebuah web khusus dan masuk ke dalam jaringan Google. Sehingga kelak kalau ada orang bertanya, bagaimana pedoman yadnya menurut Lontar Sundarigama, kita tak lagi membuka lontar tetapi cukup membuka laptop atau handphone dengan mencarinya lewat “Mbah Google”. Bukankah sebagian ritual Hindu termasuk aturan yadnya, pedewasan, cara membuat sesajen dan sebagainya sudah bisa dicari lewat internet?

Umat Hindu harus mulai punya sikap kritis baru terhadap warisan leluhur termasuk lontar itu. Kalau lontar hanya berisi aksara suci dan gambar-gambar yang disertai rerajahan (kaligrafi aksara Hindu yang sakral), maka lontar itu boleh saja dijadikan semacam pratima. Letakkan di kamar suci dan tak boleh sembarang orang mengambilnya. Tetapi kalau lontar isinya hanya acuan yadnya, bagaimana tatndingan banten, apalagi isinya masalah usada (pengobatan tradisional), tidak perlu dijadikan pratima. Perlu segera disalin dan diterjemahkan. Lalu mari kita pelajari isinya sebagai ilmu yang diwariskan para leluhur.

Pada akhirnya, museum yang kini menampung lontar, tak apa sepi pengunjung karena yang mempelajari “isi lontar” itu sudah ada di tempat lain. Seperti halnya perpustakaan sekarang ini, sudah semakin sedikit pajangan buku-bukunya karena sebagian buku sudah bisa dibaca dalam bentuk digital atau yang disebut e-book. (*)


Oleh : mpujayaprema | 24 Maret 2018 | Dibaca : 977 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?