Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


698885

Pengunjung hari ini : 288
Total pengunjung : 180367

Hits hari ini : 538
Total Hits : 698885

Pengunjung Online: 1


Twitter
Baca posting

Tumpek dan Harmoni Alam Semesta

Oleh : mpujayaprema | 31 Maret 2018 | Dibaca : 1004 Pengunjung

AJARAN agama Hindu sering terkait di antara beberapa istilah. Kadang saling berbagi dan saling menjelaskan. Tentang keharmonisan alam semesta dan segala isinya, orang sering menyebut ajaran Tri Hitakarana. Tiga ciri hubungan manusia untuk keharmonisan jagat. Yaitu harmonisnya hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), manusia dengan sesama manusia (pawongan), dan manusia dengan alam semesta atau lingkungan (palemahan).

Ke enam tumpek (Sabtu Kliwon) juga mencerminkan keharmonisan alam beserta semua isinya. Bahkan tumpek itu punya ciri khas masing-masing tetapi kalau keseluruhannya digabungkan maka tujuannya adalah keharmonisan alam juga. Sama dengan Tri Hitakarana, bahkan justru setiap tumpek memberikan arahan yang lebih jelas.

Ke enam tumpek itu adalah Tumpek Landep, Tumpek Wariga, Tumpek Kuningan, Tumpek Krulut, Tumpek Uye, dan Tumpek Wayang.Urutan ini berdasarkan waktu datangnya namun terus berputar sehingga menyambung dengan persoalan yang tak pernah ada jedanya.

Tumpek Landep adalah hari ini dalam hitungan wariga Bali. Saat ini orang harus meneguhkan pikirannya sehingga ilmu pengetahuan yang sudah diperoleh pada Hari Saraswati dan sudah dipagari dengan kuat (Hari Pagerwesi) bisa diamalkan dengan baik. Hari ini ibaratnya kita telah lulus menerima ilmu pengetahuan dan diwisuda (di-pasupati) sambil mensyukuri semua peralatan yang menunjang dalam mengamalkan ilmu pengetahuan itu. Di masa lalu karena ilmu itu sering dikaitkan dengan ilmu peperangan maka peralatan yang disyukuri adalah keris, tombak, dan semacamnya. Kini zaman sudah berubah, ilmu pengetahuan tak harus dikaitkan dengan peperangan, maka mobil, komputer, televisi dan laiinya ikut disyukuri. Inilah bentuk harmoni kita kepada Tuhan untuk peralatan kerja yang kita miliki.

Tumpek Wariga adalah harmoni kita kepada alam yang telah memberikan suburnya pepohonan, terutama yang berbuah. Kita syukuri kehidupan itu dengan harapan agar buahnya segera matang untuk kita haturkan pada Hari Raya Galungan yang datang 25 hari kemudian. Kita haturkan sesajen di sana mohon anugrah Hyang Widhi.

Pada Tumpek Kuningan kita memuja leluhur yang dilanjutkan dengan pemujaan kepada Tuhan atas kesejahtraan yang sudah diberikan selama ini. Inilah bentuk harmoni kita langsung kepada leluhur yang menyebabkan kita lahir di bumi ini. Di banyak pura ada pula persembahyangan yang lebih besar sebagai hari piodalan.

Selanjutnya Tumpek Krulut adalah hari di mana umat Hindu melakukan pemujaan kepada Hyang Iswara agar diberikan cinta kasih kepada sesama makhluk. Banyak yang mematut-matutkan Tumpek Krulut sebagai “hari cinta kasih” yang khas Hindu sebagaimana dunia barat menobatkan Valentine Days pada 14 Februari. Karena Hyang Iswara adalah dewanya cinta kasih maka hari ini memberikan sesajen untuk mensyukuri telah punya gamelan, misalnya, punya seperangkat gamelan gong kebyar, angklung, gender dan sebagainya. Di masyarakat pun umum dikenal dengan “piodalan gong”. Bukankah cinta dan kasih itu erat kaitannya dengan dunia seni yang bisa menghamoniskan bumi ini?

Tumpek Uye yang datang kemudian adalah pernyataan rasa syukur kepada Tuhan karena diberi kemudahan dalam memelihara hewan peliharaan. Karena itu Tumpek Uye juga sering disebut sebagai Tumpek Kandang karena hanya binatang yang biasa dikandangkan saja yang diberikan sesajen sebagai wujud syukur. Inilah harmonisasi kita kepada makhluk hidup lain yakni binatang peliharaan.

Terakhir dalam putaran satu wariga, ada Tumpek Wayang. Saatnya manusia yang ada di bumi melakukan pengeruwatan agar terbebas dari segala kotoran rohani. Umumnya ada pengertian bahwa mereka yang lahir pada Wuku Wayang yang wajib diruwat dengan tambahan “tirta pengeruwatan” dari pentas Wayang Sapuleger. Tentu saja itu baik sebagaimana diajarkan dalam sastra Hindu tentang meruwat anak-anak sesuai kelahirannya. Namun orang yang lahir pada wuku apa pun bisa juga diruwat pada hari Tumpek Wayang ini, tentu dengan sesajen yang berbeda dan umumnya tidak begitu seruwet yang lahir pada Wuku Wayang. Karena sifat pengeruwatan itu adalah pembersihan rohani dari segala kotoran, siapa pun boleh melakukannya. Ini adalah wujud untuk menciptakan keharmonisan hidup sebagai manusia.

Keharmonisan itu terus bersambung tiada henti. Menjadi “manusia yang sudah bersih” pada Tumpek Wayang maka kita pun bersiap pula nantinya menerima ilmu pengetahuan pada saat Hari Saraswati. Dan demikian seterusnya. Bukankah gabungan semua ini sejalan dengan ajaran Tri Hitakarana? (*)


Oleh : mpujayaprema | 31 Maret 2018 | Dibaca : 1004 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?